Pages

Kampus SMP Islam Watulimo

Jl. Raya Pantai Prigi, Gg. Masjid Jami' Slawe - Watulimo -. Trenggalek

Gedung Laboratorium

Laboratorium IPA, Perpustakaan Sekolah dan Ruang Kelas

Dewan Asatidz

Sebagian Dewan Asatidz/Dzah SMP Islam Watulimo

Laboratorium Komputer

Ruang dan Sarana Prasarana LAB KOMPUTER SMP Islam Watulimo

Tim Lomba Jelajah Santri

Lomba Jelajah Situs Sejarah Santri Trenggalek Tahun 2019.

Tim Drum Band

Tim Parade Drum Band "GITA BAHANA SMIWA" SMP Islam Watulimo.

Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo

Pelantikan Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo Masa Bhakti 2019/2020.

Tim Paduan Suara

Paduan Suara pada Kegiatan APEL AKBAR Ansor-Banser se Kabupaten Trenggalek di Pantai Prigi.

Pramuka Kita

Pelantikan Pramuka Penggalang Rakit dan Terap SMP Islam Watulimo.

LJS3T 2019

Juara Umum 3 Putri LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

LJS3T 2019

Juara Harapan Putra LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

Gedung Sekolah

Kampus SMP Islam Watulimo tampak dari arah Timur.

Study Tour

Study Tour Kelas IX ke Candi Borobudur Jawa Tengah.

OSIS dan DEGA

OSIS dan DEGA SMP Islam Watulimo ikut menjadi Panitia PERGAMA SAKOMA Koortan Watulimo.

STOP NARKOBA

SMP Islam Watulimo; Narkoba NO Prestasi YES.

KEMAH BHAKTI

KEMAH BHAKTI dan Perkemahan Pisah Tahun 2019-2020 di Buper Damas Karanggandu.

Masjid di Sekolahku

Masjid Jami' Nurul Iman Slawe yang berada satu lokasi dengan Sekolah.

Tampilkan postingan dengan label Wali Songo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wali Songo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Januari 2020

WALI SONGO GENERASI PERTAMA (1404-1435 M)

Diskursus Wali Songo generasi pertama telah terdapat banyak sekali versi yang berkembang oleh para pakar sejarah Islam di tanah Jawa. Dan Muhammad Romadhon MK. menyebutkan dalam bukunya yang berjudul “Melacak Jejak Syekh Subakir”, bahwa ini belum final dalam berbagai literasi yeng telah tercatat, bagaimana dengan tepat siapa Wali Songo generasi pertama yang diutus ke tanah Jawa.

Berdasarkan laporan yang diperoleh dari seorang saudagar Gujarat, India. Sultan Muhammad I mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah, yang isinya meminta untuk dikirim beberapa Ulama. Kemudian setelah dikumpulkan dan terpilihlah Sembilan orang Ulama dari beberapa bagian Negara,  setelah itu Sultan Muhammad I Sembilan orang Ulama tersebut yang memiliki keahlian diberbagai bidang, terutama dalam hal ilmu agama. Untuk diberangkatkan ke Pulau Jawa pada tahun 1404 M (808 H).

Dari kesembilan Ulama yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari negeri Rum (Turki), terpilihlah satu diantaranya sebagai pemimpin selama perjalan dan di tanah Jawa. Dialah Syeikh Maulana Malikk Ibrahim, yang merupakan ahli dalam tata Negara. Sejarah ini tertulis dalam kitab “Knzul ‘Hum” oleh Ibnu Bathutah, yang kemudian dilanjtkan oleh Syeikh Maulana Maghribi. Dan kini tersimpan rapih didalam Museum Istana Turki (Istanbul). Serta manuskrip Koprah Ferrara yang terdapat di Italia, yang saat juga mmasih tersimpan serta terjaga rapih didalam Museum Nasinal Leiden.

Berikut ini Kesembilan Wali (Wali Songo) generasi pertama yang diutus untuk berdakwah di tanah Jawa versi Muhammad Romadhon MK. dalam catatannya. :

1.  Syeikh Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki (NegeriRum), ahli dalam bidang tata Negara.
2.  Syeikh Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan. Ahli didalam bidang Pengobatan.
3.  Syeikh Maulana Ahmad Jumadil Kubro, berasal dari Mesir.
4.  Syeikh Maulana Muhammad Al-Maghrobi, berasal dari Maroko.
5.  Syeikh Maulana Malik Isro’il.
6.  Syeikh Maulana Muhammad Ali Akbar, berasal dari Persia (Sekarang dikenal nama Iran). Ahli dalam bidang Pengobatan.
7. Syeikh Maulana Hasanudin, berasal dari Palestina.
8. Syeikh Maulana Aliyuddin, berasal dari Palestina.
9.  Syeikh Maulana Subakir, berasal dari Iran. Ahli dalam menumbali daerah angker yang dihuni oleh Jin-jin jahat di tanah Jawa (Ahli Ruqyah).

Kesembilan Wali diatas merupakan Wali Songo generasi pertama dalam catatan Ibnu Bathutah, yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari negeri Rum atau sekarang kita kenal dengan Negara Turki,yang ketika itu tercatat pada tahun 1404 M/808 H untuk berdakwah menyebarkan Islam di Nusantara dengan cara yang diajarkan sebagaimana Rasulullah SAW yang Rahmatan Lil’alamiin, mmengayomi dan tulus penuh cinta. Yang diawali dari tanah Jawa. Adapun keterangan lain Wali yang pertama kali menginjakkan kakinya di Nusantara adalah di tanah rencong, Aceh.

Semoga dapat membawa manfa’at dan pengetahuan mendalam tentang sejarah Islam di Nusantara, dan kemudian tidak kagetan lagi dengan adanya Islam Nusantara.


Pustaka :
Melacak Jejak Syekh Subakir : Riwayat Penumbalan Tanah Jawa Walisanga Generasi Pertama. M. Romadhon MK.
Cet. I,  Araska, Mei 2017. Hal. 93-95.

Kamis, 02 Januari 2020

SUNAN BONANG

Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat dia meninggal, kabar wafatnya dia sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi dia sampai ingin membawa jenazah dia ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian dia. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.

Di kota Tuban setiap tahunnya diadakan peringatan Haul Sunan Bonang yang dilaksanakan setiap malam Jum'at Wage di bulan Muharram (Sura).

Silsilah yang menghubungkan Sunan Bonang dan Nabi Muhammad:[butuh rujukan]

Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin
Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
Maulana Ibrahim asmoroqondi bin
Syekh Jumadil Qubro (Jamaluddin Akbar Khan) bin
Ahmad Jalaludin Khan bin
Abdullah Khan bin
Abdul Malik Al-Muhajir (dari Nasrabad,India) bin
Alawi Ammil Faqih (dari Hadramaut) bin
Muhammad Sohib Mirbath (dari Hadramaut) bin
Ali Kholi' Qosam bin
Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
Alawi Awwal bin
Ubaidullah bin
Muhammad Syahril
Ali Zainal 'Abidin bin
Hussain bin
Ali bin Abi Thalib (dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAW)

Pendidikan dan Pengembangan Keilmuan :

Dalam hal pendidikan, Sunan Bonang belajar pengetahuan dan ilmu agama dari ayahandanya sendiri, yaitu Sunan Ampel. Ia belajar bersama santri-santri Sunan Ampel yang lain seperti Sunan Giri, Raden Patah dan Raden Kusen. Selain dari Sunan Ampel, Sunan Bonang juga menuntut ilmu kepada Syaikh Maulana Ishak, yaitu sewaktu bersama-sama Raden Paku Sunan Giri ke Malaka dalam perjalanan haji ke tanah suci. Sunan Bonang dikenal sebagai seorang penyebar Islam yang menguasai ilmu fikih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan ilmu silat dengan kesaktian dan kedigdayaan menakjubkan. Bahkan, masyarakat mengenal Sunan Bonang sebagai seseorang yang sangat pandai mencari sumber air di tempat-tempat yang sulit air.

Babad Daha-Kediri menggambarkan bagaimana Sunan Bonang dengan pengetahuannya yang luar biasa bisa mengubah aliran Sungai Brantas, sehingga menjadikan daerah yang enggan menerima dakwah Islam di sepanjang aliran sungai menjadi kekurangan air, bahkan sebagian yang lain mengalami banjir. Sepanjang perdebatan dengan tokoh Buto Locaya yang selalu mengecam tindakan dakwah Sunan Bonang, terlihat sekali bahwa tokoh Buto Locaya itu tidak kuasa menghadapi kesaktian yang dimiliki Sunan Bonang. Demikian juga dengan tokoh Nyai Pluncing, yang kiranya seorang bhairawi penerus ajaran ilmu hitam Calon Arang, yang dapat dikalahkan oleh Sunan Bonang.[1]

Karya Sastra :

Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.

Ada pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.

Dia juga menulis sebuah kitab yang berisikan tentang Ilmu Tasawwuf berjudul Tanbihul Ghofilin. Kitab setebal 234 halaman ini sudah sangat populer dikalangan para santri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa

Keilmuan :

Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian dia kombinasi dengan kesimbangan pernapasan[butuh rujukan] yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Dia ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'. Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur'an. Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir.

"Orang yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca karena membaca itu sumber hikmah; menyediakan waktu tertawa karena tertawa itu musiknya jiwa; menyediakan waktu untuk berpikir karena berpikir itu pokok kemajuan; menyediakan waktu untuk beramal karena beramal itu pangkal kejayaan; menyediakan waktu untuk bersenda-gurau karena bersenda itu akan membuat muda selalu; dan menyediakan waktu beribadah karena beribadah itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa."

(Kata Mutiara, Anonim)