Pages

Kampus SMP Islam Watulimo

Jl. Raya Pantai Prigi, Gg. Masjid Jami' Slawe - Watulimo -. Trenggalek

Gedung Laboratorium

Laboratorium IPA, Perpustakaan Sekolah dan Ruang Kelas

Dewan Asatidz

Sebagian Dewan Asatidz/Dzah SMP Islam Watulimo

Laboratorium Komputer

Ruang dan Sarana Prasarana LAB KOMPUTER SMP Islam Watulimo

Tim Lomba Jelajah Santri

Lomba Jelajah Situs Sejarah Santri Trenggalek Tahun 2019.

Tim Drum Band

Tim Parade Drum Band "GITA BAHANA SMIWA" SMP Islam Watulimo.

Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo

Pelantikan Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo Masa Bhakti 2019/2020.

Tim Paduan Suara

Paduan Suara pada Kegiatan APEL AKBAR Ansor-Banser se Kabupaten Trenggalek di Pantai Prigi.

Pramuka Kita

Pelantikan Pramuka Penggalang Rakit dan Terap SMP Islam Watulimo.

LJS3T 2019

Juara Umum 3 Putri LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

LJS3T 2019

Juara Harapan Putra LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

Gedung Sekolah

Kampus SMP Islam Watulimo tampak dari arah Timur.

Study Tour

Study Tour Kelas IX ke Candi Borobudur Jawa Tengah.

OSIS dan DEGA

OSIS dan DEGA SMP Islam Watulimo ikut menjadi Panitia PERGAMA SAKOMA Koortan Watulimo.

STOP NARKOBA

SMP Islam Watulimo; Narkoba NO Prestasi YES.

KEMAH BHAKTI

KEMAH BHAKTI dan Perkemahan Pisah Tahun 2019-2020 di Buper Damas Karanggandu.

Masjid di Sekolahku

Masjid Jami' Nurul Iman Slawe yang berada satu lokasi dengan Sekolah.

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2020

MASUK SURGA KARENA RAMADAN


Diceritakan pada zaman dahulu hiduplah seorang Majusi, penganut agama yang menyembah api. Ia memiliki seorang putri kecil yang masih belia.

Suatu hari, dengan santainya anak Majusi itu makan di tengah pasar. ia tak mengetahui bahwa hari itu adalah bulan Ramadhan. Yang mana pada saat itu seluruh umat Islam menjalankan ibadah puasa.

Mengetahui hal itu, sang ayah memarahi dan memukulnya. “Seharusnya engkau pandai menghormati umat Islam yang sedang melaksanakan puasa ramadhan, tapi mengapa kamu tidak tahu diri dengan cara makan di tengah pasar?”

Setelah mendapatkan peringatan keras dari ayahnya, anak Majusi itu tak pernah lagi makan di siang Ramadhan secara terbuka di muka umum. Waktu terus berjalan, sampai akhirnya beberapa tahun kemudian orang Majusi tersebut meninggal dunia.

Pada suatu malam, ada seorang ulama yang alim tengah bermimpi bertemu dengan orang Majusi tersebut. Dalam mimpinya, ia melihat bahwa orang Majusi itu sedang berada di suatu istana yang megah di surga. Merasa ada yang janggal, ulama itu memberanikan diri untuk bertanya kepada Majusi tersebut.

“Kenapa engkau masuk surga. Bukankah engkau seorang Majusi?” tanya ulama tersebut.

Dengan santainya orang Majusi itu menjawab, “Iya memang pada awalnya aku pemeluk agama Majusi. Namun ketika aku hampir mendekati ajalku, aku mendengar sebuah seruan di atasku yang berkata: Wahai para malaikatku, janganlah biarkan dia tersesat dengan agama Majusinya, jadikanlah ia seorang muslim. Sebab ia telah menghormati bulan suci Ramdhan”.

________________
Disarikan dari kitab Zubdatul Majalis yang dikutip dalam kitab Dzurrotun Nashihin, hal. 13, cet. Al-Hidayah.

Rabu, 15 April 2020

PENTINGNYA RASA CINTA.


Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.

“Habib, saya mau pulang saja.”

“Lho, kenapa?” tanya beliau.

“Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati. Tidak pantas saya menuntut ilmu. Saya minta izin mau pulang.”

“Jangan dulu. Sabar.”

“Sudah Bib. Saya sudah empat tahun bersabar. Sudah tidak kuat. Lebih baik saya menikah saja.”

“Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.”

“Sudah bib. Saya menghafalkan setengah mati. Tidak hafal-hafal.”

Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan. Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun. Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat. Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai.
Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan.

“Ini surat siapa?” tanya Habib.

“Owh, itu surat ibu saya.”

“Bacalah!”

Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai. Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih.

“Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi.

“Sudah.”

“Berapa kali?”

“Satu kali.”

“Tutup surat itu! Apa kata ibumu?”

“Ibu saya berkata saya disuruh nyantri yang bener. Bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain-lain.” Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.

“Baca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal. Sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan.” kata Habib dengan pandangan serius.

Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal. Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan, لأنك قرأت رسالة أمك بالفرح فلو قرأت رسالة نبيك بالفرح لحفظت بالسرعة

“Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini ibumu. Coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad dengan bahagia dan bangga, ini adalah nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal. ”

* * *

Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan santri dalam kisah di atas. Jawabannya adalah rasa cinta. Kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu. Sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses.
Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tetapi puluhan lagu-lagu cinta hafal di luar kepala. Padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghapalkannya. Bagi para guru/pengajar, jangan mudah mengkambinghitamkan kemampuan otak siswa dalam lemahnya menerima pelajaran. Mungkin Anda tidak berhasil menanamkan VIRUS CINTA di hati mereka.

Kantor Muktamar, 11 Maret 2013 jam 12.27 waktu istiwa’.

*Kisah di atas ditranskrip dari salah satu ceramah Habib Jamal bin Thoha Baagil.

Rabu, 08 April 2020

MAKHLUK PALING HINA


Di sebuah pondok pesantren, terdapat seorang santri yang tengah menuntut ilmu pada seorang Kyai. Sudah bertahun-tahun lamanya si santri belajar. Hingga tibalah saat dimana dia akan diperbolehkan pulang untuk mengabdi kepada masyarakat.

Sebelum Santri pulang, Kyai memberikan sebuah ujian padanya. Pak Kyai berkata pada santrinya.

"Sebelum kamu pulang, dalam tiga hari ini, aku ingin meminta kamu mencarikan seorang ataupun makhluk yang lebih hina dan buruk dari kamu." ujar sang Kyai.

"Tiga hari itu terlalu lama Kyai, hari ini saya bisa menemukan banyak orang atau makhluk yang lebih buruk daripada saya.” jawab Santri penuh percaya diri.

Sang Kyai tersenyum seraya mempersilakan muridnya membawa seseorang ataupun makhluk itu kehadapannya. Santri keluar dari ruangan Kyai dengan semangat, karena menganggap begitu mudah ujian itu.

Hari itu juga si Santri berjalan menyusuri jalanan. Ditengah jalan, dia menemukan seorang pemabuk berat. Menurut pemilik warung yang dijumpainya, orang tersebut selalu mabuk-mabukan setiap hari. Pikiran si Santri sedikit tenang. Dalam hatinya dia berkata.,

“Pasti dia orang yang lebih buruk dariku. Setiap hari dia habiskan hanya untuk mabuk-mabukan, sementara aku selalu rajin beribadah.”

Namun dalam perjalanan pulang si Santri kembali berpikir.

"Sepertinya si pemabuk itu belum tentu lebih buruk dariku. Sekarang dia mabuk-mabukan, tapi siapa yang tahu di akhir hayatnya Allah justru mendatangkan hidayah hingga dia bisa husnul khotimah? Sedangkan aku yang sekarang rajin ibadah, kalau diakhir hayatku Allah justru menghendaki suúl khotimah, bagaimana? Berarti pemabuk itu belum tentu lebih jelek dariku,” ujarnya bimbang.

Santri itu pun kemudian kembali melanjutkan perjalanannya mencari orang atau makhluk yang lebih buruk darinya.

Di tengah perjalanan, dia menemukan seekor anjing yang menjijikkan. Karena selain bulunya kusut dan bau, anjing tersebut juga menderita kudisan.

“Akhirnya ketemu juga makhluk yang lebih jelek dari aku. Anjing ini tidak hanya haram, tapi juga kudisan dan menjijikkan” teriak Santri dengan girang.

Dengan menggunakan karung beras, si Santri kemudian membungkus anjing tersebut untuk dibawa ke Pesantren. Namun ditengah jalan, tiba-tiba dia kembali berpikir,

“Anjing ini memang buruk rupa dan kudisan. Namun benarkah dia lebih buruk dari aku? Oh tidak, kalau anjing ini meninggal, maka dia tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dilakukannya di dunia. Sedangkan aku harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan selama di dunia dan bisa jadi aku akan masuk ke neraka."

Akhirnya si santri menyadari bahwa dirinya belum tentu lebih baik dari anjing tersebut.

Hari semakin sore. Si Santri masih mencoba kembali mencari orang atau makluk yang lebih jelek darinya. Namun hingga malam tiba, dia tak jua menemukannya.. Lama sekali dia berpikir, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke pesantren dan menemui sang Kyai.

"Bagaimana anakku, apakah kamu sudah menemukannya?" tanya sang Kyai.

"Sudah, Kyai," jawabnya seraya tertunduk.

"Ternyata diantara orang atau makluk yang menurut saya sangat buruk, saya tetap paling buruk dari mereka," ujarnya perlahan.

Mendengar jawaban sang murid, Kyai tersenyum lega,

"Alhamdulillah.. kamu dinyatakan lulus dari pondok pesantren ini, anakku," ujar Kyai terharu.

Kemudian Kyai berkata,

"Selama kita hidup di dunia, jangan pernah bersikap sombong dan merasa lebih baik atau mulia dari orang ataupun makhluk lain. Kita tidak pernah tahu, bagaimana akhir hidup yang akan kita jalani. Bisa jadi sekarang kita baik dan mulia, tapi diakhir hayat justru menjadi makhluk yang seburuk-buruknya. Bisa jadi pula sekarang kita beriman, tapi di akhir hayat, setan berhasil memalingkan wajah kita hingga melupakanNya,"

Rasulullah SAW bersabda,

"Tidak akan masuk ke dalam surga orang yang dihatinya ada kesombongan meskipun sebesar biji sawi. (HR. Muslim nomor 91).

Semoga sedikit ilmu yang di titipkan Allah SWT di hati kita tidak menjadikan kita sombong dalam segala urusan. 

Semoga di sisa umur yang Allah berikan, kita dapat mempergunakannya sebaik-baiknya untuk memperbanyak amal saleh dan bukan hanya disibukkan dengan urusan duniawi belaka. Dan semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat. 
Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Selasa, 07 April 2020

ADA APA DENGAN NISYFU SYA’BAN?


ONE DAY ONE HADITH
Oleh:
Dr. H. Fathul Bari

Diriwayatkan dari Siti Aisyah ra bercerita bahwa pada suatu malam ia kehilangan Rasulullah SAW. Ia lalu mencari dan akhirnya menemukan beliau di pekuburan Baqi’ 
(al-Gharqad) sedang menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau berkata: 

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ

“Sesungguhnya Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada malam nishfu Sya’ban dan mengampuni (dosa) yang banyaknya melebihi jumlah bulu domba Bani Kalb.” 

[HR Turmudzi, Ahmad dan Ibnu Majah] 

Catatan Alvers

Malam Nishfu Sya’ban berbeda dengan malam yang lain, Ia memiliki keutamaan- keutamaan yang istimewa di antaranya adalah melimpahnya pengampunan Allah yang maha pengasih dan penyayang sebagaimana keterangan hadits di atas. Maka tidaklah mengherankan jika Al-Syafi’i berkata: 
"bahwa permohonan akan dikabulkan dalam lima malam, salah satunya adalah malam Nishfu Sya’ban.” 

[Al-Umm]. 

Banyaknya Pengampunan Allah pada malam itu diumpamakan dengan jumlah yang lebih banyak dari jumlah bulu domba-domba yang dimiliki oleh kabilah yang terkenal memiliki banyak domba yaitu bani kalb.
Mengomentari status hadits di atas, pakar hadits dari kalangan wahabi, Albani mengatakan :

و جملة القول أن الحديث بمجموع هذه الطرق صحيح بلا ريب و الصحة تثبت بأقل منها عددا ما دامت سالمة من الضعف الشديد كما هو الشأن في هذا الحديث

Kesimpulannya adalah bahwa hadits ini dengan berbagai jalur periwayatannya adalah berstatus SHAHIH TANPA KERAGUAN. Mengingat Keshahihan satu hadits bisa ditetapkan  oleh jumlah jalur periwayatan yang lebih sedikit dari jalur hadits di atas dengan catatan selamat dari status sangat dla’if sebagai mana status yang dimiliki oleh hadits ini. 

[As-Silsilah As-Shahihah Juz III Halaman 218]

Dalam hadits lainnya yang diriwayatkan dari Siti A’isyah RA berkata, : 

"Suatu malam Rasulullah mengerjakan shalat, kemudian beliau bersujud dalam waktu yang lama sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah wafat, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah mengangkat kepala dari sujud dan usai salat, maka beliau berkata: 

يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ أَظَنَنْت أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَاسَ بِك ؟

“Hai A’isyah / Humaira’ apakah engkau menyangku aku meninggalkan (giliran) mu?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran engkau wafat karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. 

هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ

“Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki sebagaimana kondisi mereka” 

[HR Baihaqi dalam Syua’bul Iman] .

Keutamaaan lainnya adalah diangkatnya amalan kita. Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid R.A, ia bertanya : 

“Wahai Rasulullah, kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunnah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya’ban?, Beliau SAW menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفِلُ النَّاسُ عَنْهُ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَال إِلى رَبِّ العَالمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عملي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunnah.”

[HR. An-Nasai]

Sebenarnya pelaporan Amal kita ini ada yang harian ada yang mingguan, ada pula yang tahunan. Laporan harian dilakukan Malaikat pada siang hari dan malam hari. Yang migguan dilakukan Malaikat setiap Senin dan Kamis. Adapun yang tahunan dilakukan pad a setiap Lailatul Qadar dan Malam Nisfu Sya’ban. Dengan demikian, Pelaporan amal terbagi menjadi 2 bagian. Pelaporan secara global yaitu terjadi dua kali seminggu yaitu setiap hari senin dan kamis, dan terjadi dua kali pula setiap tahunnya yaitu setiap Lailatul Qadar dan Malam Nisfu Sya’ban dan demikian pula Pelaporan secara detail terjadi dua kali setiap harinya yaitu setiap siang dan malam hari 

[I’anatut Thalibin]

Sebagai penutup 1D1H ini, terdapat keterangan dari Ibnu Rajab al-Hanbali bahwa “Malam Nishfu Sya’ban, kaum Tabi’in dari penduduk Syam mengagungkannya dan bersungguh-sungguh menunaikan ibadah pada malam tersebut. 

Khalid bin Ma’dan, Luqman bin Amir dan lain-lain dari kalangan tabi’in Syam mendirikan shalat di dalam Masjid pada malam Nishfu Sya’ban. Perbuatan mereka disetujui oleh al-Imam Ishaq Ibnu Rahawaih. Ibnu Rahawaih berkata mengenai shalat sunnah pada malam Nishfu Sya’ban di Masjid-masjid secara berjamaah: “Hal tersebut tidak termasuk bid’ah.” 

[al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif halaman 263] 

Wallahu A’lam. 

Rabu, 01 April 2020

BELAJAR dari SUMUR


Jika sebuah sumur ditimba airnya, maka setiap hari airnya jernih dan tidak akan pernah kering, selalu ada air di dalam nya...

Namun anehnya, kalau dalam satu hari saja airnya tidak ditimba, ketinggian air yang ada di dalam sumur itu tidak meningkat, sama seperti semula.

Sumur yang tak pernah lagi diambil airnya, bahkan akan cenderung airnya kotor dan beracun, tak layak diminum.
Inilah hukum alam..

Di mana di dalam alam terdapat misteri yang bertujuan untuk selalu memberi & keseimbangan.. 

Sesungguhnya kehidupan kita juga sama & serupa dengan sumur ini...

Pada umumnya orang berpikir bahwa jika kita memberi apa yang kita miliki pasti akan berkurang dari apa yang di miliki semula...

Tapi kalau kita mau belajar dari sumur ini, semakin banyak dan sering kita memberi akan semakin banyak air yang mengalir kepadanya.

Dalam hal memberi tidak harus dalam bentuk uang atau materi.
Kita bisa saja memberi dalam bentuk apa saja yang kita miliki.

Saat kita mengajarkan dan memberi ilmu, maka dengan sendirinya kemampuan kita akan semakin meningkat.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan memberi karena terpaksa, jangan memberi karena ingin dipuji, jangan memberi untuk menunjukkan bahwa kita kaya & jangan memberi karena kebiasaan.

Sebaiknya kita memberi karena menginginkan orang lain agar bisa bahagia, bisa hidup lebih baik dan layak.

Dengan mengembangkan sikap mental memberi yang murni, kita yakin setiap orang bisa melakukannya.

Pilihan terserah pada diri kita.
Sedangkan manfaat langsung yang bisa kita rasakan saat memberi adalah perasaan kepuasan batin.
Dan inilah sebenarnya kebahagiaan sejati.

THE MORE YOU GIVE... 
THE MORE YOU RECEIVE...

Rabu, 04 Maret 2020

BILAL BIN RABAH

(Bukti sebuah cinta yang membara antara Ruhani dan jasmani)

Bilal bin Rabah adalah seorang budak berkulit hitam dari Habsyah (Ethiopia) yang memeluk Islam ketika masih menjadi budak.

Namun ketika keislaman Bilal diketahui oleh majikannya, Bilal pun disiksa setiap hari agar ia meninggalkan islam.

Sehingga suatu hari Sayyidina Abu Bakar memerdekakan Bilal dan iapun menjadi sahabat paling setia Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bermimpi mendengar suara terompah Bilal berada di surga.
Lalu ketika hukum syariat adzan diperintahkan oleh Alloh maka orang yang pertama kali diperintah oleh Rosululloh untuk mengumandangkannya adalah Bilal bin Rabah, Ia dipilih karena suara Bilal sangat merdu nan syahdu.

Wafatnya Rosululloh, Membuat Bilal dilanda kesedihan yang mendalam.
Suatu ketika Kholifah Abu Bakar meminta Bilal untuk menjadi muadzin kembali, Namun dengan perasaan yang masih sedih Bilal berkata :
”Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rosululloh saja.
Rosululloh telah tiada, Maka Aku bukan muadzin siapa-siapa lagi."

Sepeninggal Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam masih terasa kesedihan yang mendalam di hati Bilal Ia pun meninggalkan Madinah dan mengikuti pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.
Setelah tinggal lama di Syria, Bilal praktis tidak pernah mengunjungi Madinah.
Lalu sampai pada suatu malam, Rosululloh hadir dalam mimpi Bilal, Seraya menegurnya :
"Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?".

Dengan kejadian mimpi itu Ia pun bangun dan segera mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Rosululloh.
Setiba di Madinah, Bilal tidak dapat menahan rindu dan kesedihannya pada Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kemudian datang cucu Rosululloh Sayyidina Hasan dan Husein.
Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu tercinta Rosululloh tersebut.

Salah satu cucu Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Bilal:
"Paman, Maukah engkau sekali saja mengumandangkan Adzan untuk Kami?
Kami ingin mengenang Kakek Kami."

Umar bin Khattab yang saat itu sebagai Khalifah juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, Meski sekali saja. Dengan perasaan berat lalu Bilal pun memenuhi permintaan itu.
Saat waktu sholat tiba,
Dia naik pada tempat yang dahulu biasa adzan pada masa Rasulullah masih hidup.

Dan mulailah dia mengumandangkan adzan.
Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, Mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semuanya terkejut.
Suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata Asyhadu an laa ilaha illallah, Maka seluruh isi kota Madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan pun mereka keluar menuju ke arah suara yang berkumandang.

Dan saat Bilal mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Maka Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan.
Semua menangis, Teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya.
Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai.

Hari itu Madinah mengenang masa saat masih adanya Rosululloh diantara mereka.
Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rosululloh wafat. Itulah adzan Bilal yang tak bisa dirampungkan karena tak sanggup lagi menahan kesedihan.
Subhanalloh, Sungguh kisah yang sangat mengharukan betapa cintanya Bilal kepada Rosululloh shallallahu 'alaihi wa sallam.

Sampai akupun tak sanggup menahan tangisku saat aku membaca kisah ini.
Aku sangat merasa bahwa aku berada di tengah-tengah mereka yang sedang menangis karena mengenang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
--------------------------------------------------------
Allaahumma sholli 'alaa Sayyidinaa Muhammadin wa aalihi wa shohbihi wa sallim."

"Yaa Allah ﷻ, limpahkanlah sholawat dan salam kepada Junjungan kami Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarganya dan sahabatnya." 

Selasa, 03 Maret 2020

TUJUH AMALAN HEBAT

Pertama :Tahajjud
Karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya. Pastinya doa mudah termakbul dan menjadikan kita semakin dekat dengan Allah Swt.

Kedua : Membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari
Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman. Paling tidak jika sesibuk apapun kita, bacalah walau beberapa ayat...

Ketiga : Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu subuh.
Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke mesjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang mencari orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.

Ke-empat : Jaga sholat dhuha
Karena kunci rezeki terletak pada sholat dhuha.Yakinlah, manfaat sholat dhuha sangat dasyat dalam mendatangkan rezeki...

Kelima : Jaga sedekah setiap hari.
Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.Percayalah, sedekah yang diberikan akan dibalas oleh Allah dengan berlipat-ganda...

Ke-enam : Jaga wudlu terus menerus
Karena Allah menyayangi hamba yang berwudlu. Kata khalifah Ali bin Abu Thalib, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu sholat walau ia sedang tidak sholat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, "ampuni dosanya dan sayangilah dia ... Yaa Allah”.

Ketujuh : Amalkan istighfar setiap saat.
Dengan istighfar masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah Swt.

Sebarkanlah ilmu ini dengan HP atau sarana komunikasi yang kita miliki, dan kita tidak akan rugi sedikitpun.

Karena HP yang kita miliki sangat ringan dibawa namun di akhirat akan menjadi berat Hisabnya.

#alanumedia

Rabu, 19 Februari 2020

Empat Problem dan Solusinya

Empat Problem dan Solusinya

إذا ابتُليت بالشهوات فراجع حفاظك على الصلوات

1.Jika anda diuji dengan syahwat dan hawa nafsu, Maka periksalah sholat anda.
Al-Quran :

ﻓَﺨَﻠَﻒَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻫِﻢْ ﺧَﻠْﻒٌ ﺃَﺿَﺎﻋُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻭَﺍﺗَّﺒَﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ ۖ ﻓَﺴَﻮْﻑَ ﻳَﻠْﻘَﻮْﻥَ ﻏَﻴًّﺎ“

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan
(QS. MARYAM 59)

إذا أحسست بالقسوة وسوء الخلق والشقاء وعدم التوفيق فراجع علاقتك وبرك بأمك

2.Jika anda keras hati , berperangai buruk , sial,  tdk mendapat petunjuk,
Maka periksalah hubunganmu dengan ibumu dan baktimu kepadanya
Al Qur'an :

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيا

“Dan (Dia jadikan aku) berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”
(QS. Maryam: 32)

٣ إذا شعرت بالإكتئاب والضيق والضنك في العيش فراجع علاقتك بالقرآن

3.Jika anda merasa depresi, tertekan dan kesempitan dalam hidup , maka periksalah interaksimu dengan Al-Qur’an.
Al Qur'an :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكا

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Al-Qur’an), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”
(QS. Thaha: 124)

٤ إذا أحسست بعدم الثبات على الحق والإضطراب فراجع تنفيذك وفعلك لما تسمعه من المواعظ فتح الباري

4.Jika anda merasa tdk bisa teguh di atas kebenaran dan gelisah,
Maka periksalah bagaimana pelaksanaanmu terhadap nasehat yang engkau dengar.
Al Qur'an :

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُواْ مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتاً

“Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan nasehat yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (iman mereka)”
(QS. Annisa: 66)

Semoga bermanfaat
Wallahu A'lam

Sumber : FB Abdillah Hamid

PESAN QURAISH SHIHAB UNTUK NAJWA SHIHAB

Tulisan bertajuk “Nasehat Bapaknya Najwa Buat Anaknya” belakangan menjadi viral di sejumlah platform media sosial. Netizen merasa tulisan Prof. Dr. Quraish Shihab, yang juga dikenal sebagai ayah dari Najwa Shihab tersebut sangatlah menginspirasi.

Tidak ada yang salah dari membaca dan membagikan rangkuman tulisan milik Prof. Dr. Quraish Shihab. Kata-kata yang terkumpul tersebut justru sangat mengena dan bisa jadi pengingat kita sebagai pesan untuk lebih ingat “Bersyukur.”

Berikut ini adalah tulisan mantan Menteri Agama yang sangat menginspirasi netizen:

“Keberuntungan” kadang memainkan perannya dalam kehidupan manusia, sekalipun kerap tidak masuk akal. Karena itulah takdir mereka.

Boleh jadi keterlambatanmu dari suatu perjalanan adalah keselamatanmu. Boleh jadi tertundanya pernikahanmu adalah suatu keberkahan. Boleh jadi dipecatnya engkau dari pekerjaan adalah suatu maslahat.
Boleh jadi sampai sekarang engkau belum dikarunia anak itu adalah kebaikan dalam hidupmu. Boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi ternyata itu baik untukmu, karena Allah Maha Mengetahui Sedangkan engkau tidak mengetahui.

Sebab itu, jangan engkau merasa gundah terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu, karena semuanya sudah atas izin Allah. Jangan banyak mengeluh karena hanya akan menambah kegelisahan.

Perbanyaklah bersyukur, Alhamdulillah, itu yang akan mendatangkan kebahagiaan.

Terus ucap alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Selama kita masih bisa tidur tanpa obat tidur, kita masih bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara, kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita, itu pertanda bahwa kita hidup sejahtera.

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, ucapkan sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Jangan selalu melihat ke belakang karena disana ada masa lalu yang menghantuimu.

Jangan selalu melihat ke depan karena terkadang ada masa depan yang membuatmu gelisah. Namun lihatlah ke atas karena di sana ada Allah yang membuatmu bahagia.

Tidak harus banyak teman agar engkau menjadi populer, singa sang raja hutan lebih sering berjalan sendirian. Tapi kawanan domba selalu bergerombol.

Jari-jari juga demikian; kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, semuanya berjajar bersampingan kecuali jari jempol dia yang paling jauh diantara keempat itu.

Namun perhatikan engkau akan terkejut kalau semua jari-jari itu tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya jempol yang sendiri yang jauh dari mereka.

Karena itu, sebenarnya yang diperhitungkan bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu akan tetapi banyaknya cinta dan manfaat yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka.

Menyibukkan diri dalam pekerjaan akan menyelamatkan dirimu dari tiga masalah; yaitu kebosanan, kehinaan, dan kemiskinan.
Aku tidak pernah mengetahui adanya rumus kesuksesan, tapi aku menyadari bahwa “rumus kegagalan adalah sikap asal semua orang”.

Teman itu seperti anak tangga, boleh jadi ia membawamu ke atas atau ternyata sebaliknya membawamu ke bawah, maka hati-hatilah anak tangga mana yang sedang engkau lalui.

Hidup ini akan terus berlanjut baik itu engkau tertawa ataupun menangis, karena itu jangan jadikan hidupmu penuh kesedihan yang tidak bermanfaat sama sekali.

Berlapang dadalah, maafkanlah, dan serahkan urusan manusia kepada Tuhan, karena engkau, mereka, dan kita semua, semuanya akan berpulang kepadaNya.

Jangan tinggalkan sholatmu sekali pun. Karena di sana, jutaan manusia yang berada di bawah tanah, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah SWT walau sekali sujud.

Jangan selalu bersandar pada cinta, karena itu jarang terjadi. Jangan bersandar kepada manusia karena ia akan pergi. Tapi bersandarlah kepada Allah SWT, Tuhan YME, karena Dialah yang menentukan segala nya.

Demikian tulisan Prof. Dr. Quraish Shihab untuk Najwa yang viral di media sosial. Tulisan yang menginspirasi dan sarat akan pesan kebaikan.

Sumber : FB Hubbul Wathon minal Iman

Senin, 17 Februari 2020

BURUNG PERKUTUT, "SANTRI" PERTAMA NABI ADAM AS

Sebuah kisah, sempat kami dapatkan waktu sowan dgn Kyai.. Bahwa, ketika Nabi Adam As turun ke bumi, hewan dan tumbuhan sudah ada di bumi. 
Lalu kemudian, ada seekor burung yang datang menghampiri Nabi Adam. Burung itu adalah Burung Perkutut. Nabi Adam sangat terkesan, karena banyak hewan-hewan besar yang berlalu-lalang, namun ternyata yang datang untuk 'sowan' hanyalah seekor burung kecil. 

Lalu kemudian, Nabi Adam menengadahkan tangan, dan berdoa: "Ya Allah.., burung ini adalah hewan pertama yg datang menemuiku. Muliakanlah semua keturunannya" 

Itulah kenapa, Burung Perkutut banyak dimiliki oleh para Kyai, dan kalangan bangsawan. 

Burung perkutut adalah nama burung yang sudah tidak asing lagi, julukannya adalah Abu tholhah da abu dzikro, ia memilki kicauan yang indah. Nama untuk wanitanya adalah Qomriyah, 

untuk pejantannya adalah saq hur.
Ibnu sayyiduh berkata : perkutut adalah burung kecil termasuk jenisnya burng dara. Jama’nya adalah Qomari atau Qumrun..demikian seperti yang tertera dalam kitab Qomus..

Pengarang kitab al-ta’rif mengatakan : lafadz Qomri tidak boleh ditanwin.

Imam al-sam’ani mengatakan dalam kitab “al-ansab” al-qomrah adalah nama Negara yang putih bagaikan kapur (mungkin) tepatnya di mesir, karena keberadaan Hajjaj bin sulaiman bin aflah.

Di riwayatkan dari imam anas bin malik, al-laits bin sa’ad dan selainnya bahwa hajjaj meninggal dunia pada tahun 198 H dan Muhammad bin salamah serta selainnya dari beliau, Muhammad berkata ; perkutut adalah nama burng yang di nisbahkan pada Negara ini, begitu yang telah disampaikan oleh pengarang kitab Mujmal.

Termasuk keajaiban burung perkutut adalah : telurnya bisa  di tetaskan (enggremi :jw) dengan burung puter (jw) begitu pula sebaliknya. Dan juga hama tanaman akan lari bila mendengar suara burung perkutut. Abu mudhoffar bin al-Sama’ani meriwayatkan dari orang tuanya, ayahnya berkata : said bin mubarak pernah mendendangkan sebuah syair :

Aku tahu bahwa keutamaan akan menghampiri para pemberi makan sahur keluarganya..
Sedangkan kebodohan seseorang akan mengalahkannya dari kemajuan.Begitu pula aku tahu, kadang seseorang terselamatkan oleh buruk tutur katanya dan dengan merawat burung perkutut yang yang indah kicauannya.

Faidah…

Suatu ketika imam Syafi’i duduk di dekat imam Malik, kemudian datanglah seorang pria seraya berkata ” aku telah menjual burung perkututku hari ini, namun tak lama kemudian sang pembeli mengembalikannya seraya berkata ” perkututmu tidak berkicau” setelah itu aku bersumpah jika perkututku tidak berkicau, aku akan mentalak (istriku), kemudian imam malik berkata ” sesungguhnya kamu telah mentalak istrimu”.

 Ketika itu usia imam Syafi’i baru empat belas tahun, dan beliau berkata pada lelaki itu ” mana yang lebih banyak, berkicaunya atau diamnya?” lelaki itu menjawab “berkicaunya” imam Syafi’i berkata “kalau begitu, istri kamu tidak tertalak”.

 Mendengar hal itu imam Malik berkata “hai anak  muda!!   Darimana kamu mendapatkan jawaban itu?” beliau menjawab “dari engkau. Engkau dari Zuhri dari Ibni Salamah bin Abdirrahman dari Ummi Salamah :

 sesungguhnya Fathimah binti Qois berkata “wahai Rasulallah, sesungguhnya Abu Jahm dan Mu’awiyah melamarku, Nabi berkata “kalau Mu’awiyah, dia seorang yang amat miskin. Sedangkan Abu Jahm adalah seorang yang tak pernah meletakkan tongkatnya dari bahunya. Rasullah mengetahui bahwa Abu Jahm adalah seorang yang bisa makan tidur dan istirahat, beliau berkata “tidak meletakkan tonggkatnya” maksud beliau adalah majaz karena kebiasaan orang arab memakai yang paling menonjol dari kedua pekerjaannya..

Kalau demikian (berkicaunya lebih sering dari pada diamnya) maka burung itu dianggap selalu berkicau. Setelah penjelasan itu imam Malik terkagum atas jawaban imam Syafi’i kemudian imam Malik berkata “sekarang engkau telah boleh memberikan fatwa dalam usiamu yang sekarang”

Wallahu a’lam.

Kamis, 30 Januari 2020

Apa Yang Engkau Banggakan?

Bahkan utk seorg yg terkenal, kaya, pernah berkuasa....

"Tak Ada yang Abadi"

Aktor terkenal yang juga mantan Gubernur California Arnold Schwarzenegger menghebohkan jagad sosial media setelah mengunggah foto dirinya yang sedang tidur di jalan di bawah "patung perunggu dirinya" di luar hotel, dan menulis dengan sedih, 'How times changed' ("Bagaimana waktu berubah").

Melalui foto tersebut, dia menyampaikan sebuah pesan bahwa penghormatan orang terhadap Anda berubah seiring berjalannya waktu.

Seperti dilansir Acek Talaud alasan dia menuliskan kalimat tersebut bukan karena dia tua, melainkan karena ketika dia jadi Gubernur California meresmikan hotel tersebut dengan "patung perunggu dirinya" di depan hotel tersebut. Pihak hotel menyampaikan ke Arnold, "Setiap saat Anda boleh datang dan ada kamar untuk Anda yang selalu tersedia". 

Namun, ketika Arnold sudah tidak menjabat gubernur lagi dan datang ke hotel tersebut, pihak hotel menolaknya dengan alasan bahwa kamar hotel sudah penuh.

Dia lalu membawa kantong tidur dan tidur di bawah "patung perunggu dirinya" dan berharap orang bisa mengambil pelajaran dari kejadian tersebut.

Arnold dengan kekayaannya bisa membeli hotel yang dia inginkan, tapi dia ingin menyampaikan pesan kepada orang-orang melalui tindakannya.

Dia memposting foto tersebut di media sosial, menyampaikan sebuah pesan bahwa ketika dia berada dalam posisi yang kuat, semua orang termasuk manajemen hotel memuji dia. Namun, saat dia kehilangan posisinya sekarang, mereka dengan mudah melupakan janji mereka kepadanya.

'How times changed'

Ya, waktu terus berubah.

Jangan percaya pada semua atribut duniawi: jabatan Anda, harta benda Anda, atau kekuasaan atau kecerdasaan Anda. Semua itu tidak ada yang abadi. 

Kecuali kehidupan setelah kematian. Kehidupan setelah kematian adalah kekal karena itu persiapkan sejak sekarang.

Dari berbagai Sumber

Minggu, 12 Januari 2020

KHIDMAH (PENGABDIAN DIRI)


Tiap kali ada jam kuliah dengan Pak Said Agil Husein Munawwar, aku memang selalu excited. Mengapa? Karena setiap kali masuk kelas, aku selalu dibuatnya terheran dengan beliau yang tidak pernah membawa buku apapun ke dalam ruangan. Lebih-lebih hampir tidak pernah melihat hp, kecuali jika ada kebutuhan untuk mengirim kitab dalam bentuk pdf ke salah satu kontak kami.

Dalam perkuliahan yang berlangsung siang hari tadi, saya tidak tertarik untuk menanyakan perihal materi. Justru saya tergelitik untuk bertanya bagaimana metode balajar yang beliau gunakan dulu, sehingga dalam membeberkan materi benar-benar bisa dipahami dengan jelas, menyeluruh, kongkrit, dan komprehensif.

"Bapak dulu belajarnya bagaimana? Kok bisa sampai hafal semuanya?"

Yang saya tangkap dari jawabannya, setidaknya ada tiga hal yang selalu beliau pegang selama proses pengembaraannya: pertama, khidmah kepada guru. Kedua, menghabiskan waktu di perpustakaan. Ketiga, mempelajari semua tipologi (fan) keilmuan tanpa pernah membeda-bedakan, dalam artian tidak hanya fokus pada jurusannya.

Dari ketiga alasan itu, aku cenderung tertarik untuk menulis jawaban yang pertama. Said Agil Munawwar ketika kuliah di Makkah sudah memiliki istri dan empat anak. Kendati demikian, ia tak lekang menghabiskan waktu untuk ngangsu kaweruh dengan ulama-ulama Makkah. Ia mengaji di rumah gurunya yang sudah tua renta dan tidak memiliki istri (entah sudah meninggal atau memang membujang, beliau tidak menjelaskan).

Sebelum pengajian dimulai, terkadang ia melakukan hal-hal kecil untuk gurunya, seperti membuatkan teh, makanan, menuntunnya ketika hendak berpindah tempat, dan segala hal yang bisa dilakukannya, karena tidak adanya orang lain di rumah tersebut. Bahkan, ketika ia sudah sampai rumah gurunya, sementara sang guru masih berada di luar, ia terkadang membereskan rumahnya. Karena rumah tersebut tidak pernah dikunci, dan Said Agil pun sudah mendapatkan izin untuk masuk ke rumahnya sekalipun tidak ada penghuninya di sana.

Ketika di kampus, sebelum gurunya datang, ia terkadang stand by di depan menunggunya. Begitu gurunya tiba, ia membawakan tasnya dan menuntunnya sampai ke ruangan. Seperti biasa, ia juga membuatkan 'unjukan'. 

Melihat sikap Said Agil yang seperti itu, gurunya bertanya:

 

"Agil, kamu itu Doktor. Mengapa kamu membawakan tas saya?"

Said Agil hanya terdiam. Ia meyakini, bahwa pangkat akademik tak lebih penting dibanding khidmah (pengabdian) murid kepada seorang guru.

Said Agil mengidolakan gurunya yang tidak pernah membawa buku apapun kemana-mana. Menurutnya, ilmu ibarat air yang mengalir. Semua buku yang sudah dibaca harus bisa mengalir dalam pikiran. Oleh karenanya, tiap kali mengajar ia memang sama sekali tidak pernah membawa buku apapun. Akan tetapi semua disiplin keilmuan mampu dipaparkannya dengan 'sharih'. Spesifikasi Fikih dan Ushul Fikih yang ditempuhnya, tak membuatnya abai dengan disiplin keilmuan lain. Sederhana saja, beliau mengajar kami Studi Kritis Ulum Al-Quran. Akan tetapi, kedalaman ilmunya pun mencakup Hadits (riwayah & dirayah), linguistik, bahkan terkadang merembet kepada ilmu yang tidak ada kaitannya, seperti kedokteran, dsb.

"Semua itu berkat doa dari guru-guru saya."

Siapa sangka, di tengah keadaan flashback masa studinya gara-gara pertanyaanku, beliau menitikkan air mata ketika menceritakan moment saat ia dicium oleh gurunya, sebagaimana ia mencium gurunya tiap kali bersua.

"Suatu saat nanti kamu akan seperti saya." Begitu doa gurunya.

Keyakinanku semakin menguat, bahwa seorang murid yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk melayani gurunya, justru disitulah keberkahan akan dapat direnggut dengan mudah, cepat atau lambat. Beruntunglah, para pengabdi Kiai!

Sumber : Akun FB M.n. Ulya

Jumat, 10 Januari 2020

HIDUP BERMANFAAT WALAU TIDAK POPULER

Hiduplah seperti akar...
yang rela memberikan segalanya
meski kadang sang pohon tak pernah melihat nya

Hiduplah seperti akar
yang memberi tanpa tapi, dan tak pernah meminta kembali,

Hiduplah seperti akar
yang menjadi peran utama
meskipun tak pernah ada yang memuji nya

Hiduplah seperti akar 
yang menjadi penyebab setiap kebaikan
meskipun tak pernah ada yang memberikan penghargaan.

beliau Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

خير الناس أنفعهم للناس

"Sebaik-baiknya Seseorang diantara kalian adalah yang paling bermanfaat terhadap yang lainnya"

Duhai saudaraku. Siapapun engkau, dimanapun engkau.

Jadilah manfaat bagi sesama
yang rela berbagi, dan ikhlas memberi.
yang hadirnya menggembirakan 
dan ketiadaanya dirindukan.
Sayyidina Ali RA  berkata:

خالِطُوا الناسَ مخالطةً إن عِشْتُمْ معها حَنَّوا إليكم وإن متُّم مَعَها بَكوا عليْكم

Pergaulilah manusia dgn pergaulan, jika kau hidup dengannya engkau akan menjadi kerinduan mereka, jika kau mati akan menjadi tangisan mereka.

jika engkau tak mampu menjadi akar yang pohonnya menghasilkan banyak buah 
Maka jadilah akar yang menopang pohon yang memberi keteduhan bagi yang lelah.

jika tak mampu menjadi akar bunga yang memberikan keharuman bagi dunia 
maka jadilah akar rumput yang mengenyangkan hewan—hewan peternak.

إن لمْ تكُن وَرْدا فلاَ تكُن شوْكا

Jika kau tak mampu menjadi bunga, maka jgn lah menjadi duri.

Semoga  bermanfaat.

Sumber : Akun FB Abdillah Hamid

Selasa, 07 Januari 2020

Kisah KH.As'ad Syamsul Arifin Saat Disuruh Mbah Kholil Bangkalan (Pada Tahun 1924)

Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ro'. Saya ini pelat (cadal). “Arrohman Arrohim…”

Kyai marah: “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!”

“Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.”

Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.

Kedua, saya dipanggil lagi: “Mana yang cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?”

“Sudah Kyai.”

“Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”

“Tahu.”

“Kok tahu? Pernah mondok di sana?”

“Tidak. Pernah sowan.”

“Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.”

“Ya, kyai.”

“Kamu punya uang?”

“Tidak punya, kyai.”

“Ini.”

Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.

Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: “Ke sini kamu! Ada ongkosnya?”

“Ada kyai.”

“Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?”

Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: “Ini (tongkat) kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel: “Orang ini gila. Muda pegang tongkat.”

Ada yang lain bilang: “Ini wali.”

Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu.

Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan.

Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): “Siapa ini?”

“Saya, Kyai.”

“Anak mana?”

“Dari Madura, Kyai.”

“Siapa namanya?”

“As'ad.”

“Anaknya siapa?”

“Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.”

“Anaknya Maimunah kamu?”

“Ya, Kyai”

“Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?”

“Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.”

“Tongkat apa?”

“Ini, Kyai.”

“Sebentar, sebentar…”

Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?”

Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

"Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya.”

Inilah rencana mendirikan Jam’iyah Ulama. Belum adaNahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jam’iyah Ulama. Saya tidak mengerti.

Setelah itu saya mau pulang. “Mau pulang kamu?”

“Ya, Kyai.”

“Cukup uang sakunya?”

“Cukup, Kyai.”

“Saya cukup didoakan saja, Kyai.”

“Ya, mari. Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah Ulama akan diteruskan.”

Inilah asalnya Jam’iyatul Ulama.

Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil: “As'ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”

“Tidak, Kyai.”

“Hasyim Asy'ari?”

“Ya, Kyai.”

“Di mana rumahnya.”

“Tebuireng.”

“Dari mana asalnya?”

“Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asy’ari Keras.”

“Ya, benar. Di mana Keras?”

“Di baratnya Seblak.”

“Ya, kok tahu kamu?”

“Ya, Kyai.”

“Ini tasbih antarkan.”

“Ya, Kyai.”

Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar: “Ke sini, makan dulu!”

“Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,”

“Dari mana kamu dapat?”

“Saya beli di jalan, Kyai”

“Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?”

“Ya, Kyai.”

Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: “Cukup itu?”

“Cukup, Kyai.”

“Tidak!”

Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.” Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.

“Ini.”

Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. “Kok leher?”

“Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.”

“Ya, kalau begitu.”

Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: “Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.” Ada yang bilang "wali", ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya.

Ada yang narik: “Karcis! karcis!”

Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya Kyai. Jadi Auliya' itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.

Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) tanya: “Apa itu?”

“Saya mengantarkan tasbih.”

“Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?”

“Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher).

“Lho?”

“Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su'ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.”

Kemudian diambil oleh Kyai: “Apa kata Kyai?”

“Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”

“Siapa yang berani pada NU akan HANCUR.
Siapa yang berani pada ulama akan HANCUR.” Ini dawuhnya.

ALLAHUMMA sholli 'alaa sayyidina muhammad wa angzilhu almaq 'ada almuqorrobba 'indaka yaumal qiyyamah
wa 'alaa aalihi wa shohbihi wa barrik wa ssalim ajma'in

Jumat, 03 Januari 2020

KEBENINGAN HATI

Seseorang bilang...
Bahwa “Pelacur di Arab itu memakai cadar dan hijab” 

Jawaban Sang Guru ini tak terduga!
Lalu Sang Guru menjawab, 
“Oh ya? Saya barusan dari Los Angeles dan New York, Masya Allah, ternyata disana tidak ada pelacur,” jawab Sang Guru ...

“Ah mana mungkin Guru, di Mekkah saja ada kok. Apalagi di Amerika, pasti banyak lagi,” kata seseorang tadi...

Maka kata Sang Guru, 
“Kita ini memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari”

Meskipun kita ke Mekkah, tetapi jika yang diburu oleh hati adalah hal-hal yang buruk, maka setan dari golongan jin dan manusia akan berusaha membantu kita untuk mendapatkannya...

“Tetapi sebaliknya, sejauh perjalanan ke New York, Los Angeles, bila yang dicari adalah kebajikan dan kebaikan, maka segala kejelekan akan enggan dan bersembunyi” tutupnya.

--------------------
#ShallûAlanNabï

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ, نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمَسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ

RAHASIA NABI KHIDIR AS DAN NABI ILYAS AS DI BERI UMUR PANJANG OLEH ALLAH HINGGA HARI AKHIR.

Suatu hari Nabi SAW sedang duduk didalam masjid Beliau SAW, ketika itu tampak dua orang yang berpenampilan bersih dan rupa yang tampan datang menghampiri. 

Mereka memberi Salaam. 

Beliau Bertanya:
Dari mana kalian berdua................??

Mereka menjawab:
Kami berasal dari masa yang sudah lama berlalu. 

Sudah lama kami menyembah Allah dan kami telah mendengar untaian kata-kata yang lebih indah dari segala kata yang pernah ada. 

Dari seluruh Kitab Allah yang ada, untaian kata-kata ini disebutkan sebagai yang terindah, dan untaian kata-kata ini hanya akan muncul di akhir zaman, didalam Kitab yang paling akhir muncul yakni Al Qur’an Karim. 

Jadi kami kemudian beribadah selama seribu tahun hingga Allah bertanya kepada kami berdua karunia apa yang bisa diberikan-NYA kepada kami. 

Kami memohon agar bisa mendengar untaian kata-kata indah itu, yakni surah Al-Faatihah.” 

Allah tidak menjawab mereka. 

Lalu mereka berdua kembali berdoa selama seribu tahun. 

Baru Allah menjawab mereka. 

DIA berfirman: 
Surah ini hanya Ku peruntukkan bagi Kekasihku Tercinta Muhammad SAW dan umatnya.”

Kedua lelaki itu berdoa selama seribu tahun lagi hingga Allah kembali bertanya kepada mereka karunia apa yang bisa DIA berikan kepada mereka. 

Mereka menjawab:
Karena kami tak bisa dikaruniai Al-Faatihah mohon agar ijinkan kami  berdua hidup berusia panjang agar bisa menjadi bagian dari Umat Beliau SAW, menyalami Beliau SAW, dan mendengar pembacaan surah Al-Faatihah, walau hanya sekali saja. Sehingga kami kemudian wafat dalam keadaan puas/ridho.” 

Kedua lelaki ini adalah 
Nabi Khidir AS dan 
Nabi Ilyas AS. 
Mereka kemudian ber-Syahadah kepada Nabi SAW yang dengannya mereka merasa puas. 

Mereka tidak lagi menjadi Nabi tapi “hanyalah” bagian dari Umat Muhammad SAW. 

Mereka memohon agar Nabi SAW berkenan membacakan Al-Faatihah untuk mereka. 

Beliau SAW kemudian membacakan surah Al-Faatihah untuk mereka berdua dan kemudian mereka berdua membacanya bersama Beliau SAW Lalu mereka semua bersama-sama mengucapkan: 
Amiin yang artinya:
Duhai Allah, mohon terimalah doa kami.

Mereka kemudian bertanya:
Duhai Rassulullah, apa balasannya membaca Al-Faatihah............?

Rosululloh menjawab:
Jika saja Allah mengaruniaiku kehidupan hingga akhir masa, maka tidaklah cukup untuk mengatakan kepadamu semua manfaatnya, semua kebaikan yang akan kita terima karena membaca surah Al-Faatihah.” 

Rosululloh meneruskan perkataannya
Aku akan mengatakan kepadamu manfaat dari mengucapkan Amiin.”

ALIF, tertulis pada Arsy Allah.

MIM, ada pada kaki dari Kursi-NYA.

YAA, ada pada Lawhul Mahfudz.

NUN, ada pada Pena (Kalam).”

Khidir as, dan Ilyas as, berkata:
Mohon ceritakan lebih banyak lagi,
kata kedua lelaki itu. 

ALIF, tertulis di kening Israfil AS.

MIM, tertulis di kening Mikail AS.

YAA, tertulis di kening Jibril AS.

NUN, tertulis di kening Izrail AS.

Siapa saja yang mengucapkan: Amiin, akan mendapat manfaat dari keempat Malaikat ini”.

Mohon ceritakan lebih banyak lagi, kata mereka berdua.  

ALIF, tertulis didalam Taurat.

MIM, tertulis didalam Zabur.

YAA, tertulis didalam Injil.

NUN, tertulis didalam Qur’an. 

Siapa saja yang bersungguh-sungguh dalam mengucapkan: “Amiin” setelah pembacaan al-Faatihah, maka seolah-olah dia telah membaca Keempat Kitab Suci itu”. 

Rosululloh bertanya:
“Kalian mau yang lebih lagi.............?”

Mereka berdua Menjawab: “Ya…” 

ALIF, tertulis di kening Sayyidina Abu Bakar RA.

MIM, tertulis di kening Sayyidina Umar RA.

YAA, tertulis di kening Sayyidina  Utsman RA.

NUN, tertulis di kening Sayyidina Ali RA. 

Siapa saja yang mengucapkan: 
“Amiin” akan mendapat manfaat dari Keempat Sahabat ini”. 

Kedua lelaki baru saja akan berdoa memohon agar Allah mencabut nyawa mereka sebagaimana yang mereka kehendaki apabila keinginan mereka sudah mereka peroleh, ketika Nabi SAW menghentikan maksud mereka. 

Beliau SAW berkata: 
Allah telah mengaruniai kalian usia yang panjang dan kekuatan khusus. 

Umatku lemah dan mereka membutuhkan kalian.” 

Kemudian Allah mengaruniai mereka usia yang panjang untuk berkhidmat kepada Umat Sayyidina Muhammad SAWS.

ILYAS AS DI DARATAN
KHIDIR AS DI LAUTAN

Dikutip dari Hajzah Anne Aminah Adil al-Haqqani, Istri dari maulana syaikh Naziem Adil al Haqqoni.

Wallahu'alam

Semoga bermanfaat. Aamiin

"Orang yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca karena membaca itu sumber hikmah; menyediakan waktu tertawa karena tertawa itu musiknya jiwa; menyediakan waktu untuk berpikir karena berpikir itu pokok kemajuan; menyediakan waktu untuk beramal karena beramal itu pangkal kejayaan; menyediakan waktu untuk bersenda-gurau karena bersenda itu akan membuat muda selalu; dan menyediakan waktu beribadah karena beribadah itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa."

(Kata Mutiara, Anonim)