Pages

Kampus SMP Islam Watulimo

Jl. Raya Pantai Prigi, Gg. Masjid Jami' Slawe - Watulimo -. Trenggalek

Gedung Laboratorium

Laboratorium IPA, Perpustakaan Sekolah dan Ruang Kelas

Dewan Asatidz

Sebagian Dewan Asatidz/Dzah SMP Islam Watulimo

Laboratorium Komputer

Ruang dan Sarana Prasarana LAB KOMPUTER SMP Islam Watulimo

Tim Lomba Jelajah Santri

Lomba Jelajah Situs Sejarah Santri Trenggalek Tahun 2019.

Tim Drum Band

Tim Parade Drum Band "GITA BAHANA SMIWA" SMP Islam Watulimo.

Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo

Pelantikan Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo Masa Bhakti 2019/2020.

Tim Paduan Suara

Paduan Suara pada Kegiatan APEL AKBAR Ansor-Banser se Kabupaten Trenggalek di Pantai Prigi.

Pramuka Kita

Pelantikan Pramuka Penggalang Rakit dan Terap SMP Islam Watulimo.

LJS3T 2019

Juara Umum 3 Putri LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

LJS3T 2019

Juara Harapan Putra LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

Gedung Sekolah

Kampus SMP Islam Watulimo tampak dari arah Timur.

Study Tour

Study Tour Kelas IX ke Candi Borobudur Jawa Tengah.

OSIS dan DEGA

OSIS dan DEGA SMP Islam Watulimo ikut menjadi Panitia PERGAMA SAKOMA Koortan Watulimo.

STOP NARKOBA

SMP Islam Watulimo; Narkoba NO Prestasi YES.

KEMAH BHAKTI

KEMAH BHAKTI dan Perkemahan Pisah Tahun 2019-2020 di Buper Damas Karanggandu.

Masjid di Sekolahku

Masjid Jami' Nurul Iman Slawe yang berada satu lokasi dengan Sekolah.

Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2020

PRESIDEN PERTAMA NU : KH HASAN GIPO


oleh : Shuniyya Ruhama 

Sebagian besar dari kita saat ditanya, siapa Presiden atau Ketua Tanfidziyah NU Pertama, maka biasanya akan menyebut nama Hadlrotussyaikh KH. Hasyim Asy’arie. Padahal, sebenarnya Ketua Tanfidziyah NU Pertama adalah Guru Mulia KH Hasan Gipo Surabaya.

Adapun Hadlrotussyaikh Mbah Hasyim Asy’arie berkedudukan sebagai Rois Akbar, pemimpin tertinggi NU. KH. Hasan Gipo adalah Ketua Pelaksana sesuai dengan arahan maupun fatwa Hadlrotussyaikh.

KH. Hasan Gipo adalah seorang saudagar kaya raya yang masih merupakan dzuriyah dari Kanjeng Sunan Ampel. Beliaulah yang mendanai Komite Hijaz hingga bisa menembus jazirah Arab.

Beliau pulalah sponsor terbesar dalam hal harta pribadi kepada NU, sehingga atas wasilah harta beliau, kabar berdirinya NU segera tersebar luas hingga ke seantero Tanah Jawa dari ujung paling timur hingga baratnya, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan tak ketinggalan Singapura.

Mendapat kabar berdirinya Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama, mayoritas Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah Al Muktabaroh di seantero Nusantara segera merapatkan barisan, “bermakmum” di belakang Hadlrotussyaikh.

Ila hadlroti ruhi Guru Mulia KH Hasan Gipo wa zawjatihi wa dzurriyatihi wa furu’ihi wa silsilatihi wa muridihi wa muhibbihi syai-un lillahi lana walahum Al Fatihah ...

Di sadur dari dinding FB nya Ning Suniyya Ruhama.

Mengenal KH Abdul Wahab Chasbullah Pendiri dan penggerak NU


KH Abdul Wahab Hasbullah
Lahir di Jombang, 31Maret 1888 
Dan meningal 29 Des 1971 di  83 tahun 
Beliau adalah seorang Ulama pendiri dan penggerak Nahdatul Ulama. 

KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern, dakwahnya dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama. 
Beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014

Beliau putra dari  KH. Hasbulloh Said dengan ibunyai Latifah.

Putera puteri  beliau : 

1. K.H.M. Wahib Wahab
2. KH. M. Nadjib Wahab
3. KH. Muhammad Adib wahab
4. Nyai Hj. Djumiatin Musta'in Romly
5. Nyai Hj. Mu'tamaroh Muhammad
6. Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid
7. Nyai Hj. Chizbiyyah Rochim
8. Nyai Hj. Mundjidah Wahab
9. KH. M. Hasib Wahab
10. KH. M. Roqib Wahab

Beliau adalah pengarang syair
 " Subbanul Wathon " yang banyak di nyanyikan  dikalangan Nahdliyyin, lagu ya lal Wathon atau Syubbanul Wathon  ini  di karangnya pada tahun 1916 dan menjadi lagu wajibnya Nahdlotul Wathon yang kemudian digubah lagi untuk menyemangati pergerakan pemuda  Ansor dan Nasionalisme pada tahun 1934.
KH Maimun Zubair mengatakan bahwa syair tersebut adalah syair yang beliau dengar, peroleh, dan di nyanyikan saat masa mudanya di Rembang.
Dan dahulu syair Syubbanul Wathon  ini dilantangkan setiap hendak memulai kegiatan belajar oleh para santri.

Lirik lagu
- Syubbanul Wathon-
Karya: KH. Abdul Wahab Chasbullah (1916)

ياَ لَلْوَطَنْ ياَ لَلْوَطَن ياَ لَلْوَطن
حُبُّ الْوَطَنْ مِنَ اْلإِيمَانْ 
وَلاَتَكُنْ مِنَ الْحِرْماَنْ 
اِنْهَضوُا أَهْلَ الْوَطَنْ 
اِندُونيْسِياَ بِلاَدى 
أَنْتَ عُنْواَنُ الْفَخَاماَ 
كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْماَ  
طَامِحاً يَلْقَ حِماَمًا 

Pusaka Hati Wahai Tanah Airku
Cintamu dalam Imanku Jangan Halangkan Nasibmu 
Bangkitlah Hai Bangsaku 
Pusaka Hati Wahai Tanah Airku
Cintamu dalam Imanku Jangan Halangkan Nasibmu
Bangkitlah Hai Bangsaku
Indonesia Negeriku Engkau Panji Martabatku 
Siapa Datang Mengancammu 
Kan Binasa di bawah dulimu

Ayah KH Abdul Wahab Hasbullah adalah KH Hasbulloh Said, Pengasuh PP  Tambakberas  Jombang Jawa Timur, sedangkan Ibundanya bernama Nyai Latifah.

KH. Abdul Wahab Hasbulloh merupakan bapak Pendiri dan penggerak NU Selain itu juga pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang.
 
Beliau juga tercatat sebagai anggota DPA bersama Ki Hajar Dewantoro.
 Tahun 1918 mendirikan kursus bernama “Tashwirul Afkar”.

Tahun 1916 mendirikan Organisasi Pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan, kemudian pada 1926 menjadi Ketua Tim Komite Hijaz.

KH. Abdul Wahab Hasbulloh juga seorang pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan adanya dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai usaha pemersatu kalangan Tua dengan Muda.

Beliau adalah pelopor kebebasan berpikir
Beliau adalah  Inspirator GP Ansor



Senin, 16 Maret 2020

BIOGRAFI SINGKAT SANG HUJJATU NU, KH. MARZUKI MUSTAMAR MALANG

Penampilan beliau sederhana dan apa adanya. Beliau tidak pernah neko-neko. Karena begitu sederhananya, kadang orang tidak mengira bahwa beliau adalah seorang kyai. Di balik kesederhanaan beliau tersimpan lautan ilmu yang begitu luas. Kiprah beliau di masyarakat sudah tidak diragukan lagi. Gaya bicara beliau yang tegas dan lugas menjadi salah satu ciri khas beliau. 

Rajin Ngaji Sejak Kecil 

Kyai Marzuki lahir di kota Blitar, 43 tahun yang lalu. Sungguh beruntung Kyai Marzuki karena dilahirkan dalam keluarga yang taat beribadah sekaligus mengerti agama. Ya, abahnya adalah seorang kyai. Alhasil, sejak kecil Kyai Marzuki dibesarkan dan dididik oleh kedua orang tua beliau dengan disiplin ilmu yang tinggi. Di bawah pengawasan orang tua beliau inilah putra dari Kyai Mustamar dan Nyai Siti Jainab ini mulai belajar al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama.

Selain dididik disiplin ilmu yang tinggi, ternyata beliau waktu kecil sudah dididik tentang kemandirian agar memiliki etos kerja yang tinggi dengan cara memelihara kambing dan ayam petelur milik Bu Lik Umi Kultsum. Dengan memelihara kambing dan ayam petelur inilah, beliau mendapat pelajaran bagaimana membimbing umat islam, dan bagaimana menjadi pemimpin. 

Latarbelakang Pendidikannya 

Saat duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah sampai sebelum belajar di Malang, anak kedua dari delapan bersaudara ini mulai belajar ilmu nahwu, shorof, tasawuf dan ilmu fikih kepada Kyai Ridwan dan Kyai-Kyai lain di Blitar. Sejak SMP, beliau diminta mengajar Al-Qur’an dan kitab-kitab kecil lainnya kepada anak-anak dan tetangga beliau. Pada usia yang masih belia tersebut, beliau sudah mengkhatamkan dan faham kitab Mutammimah pada saat beliau kelas 3 SMP.

Selepas dari SMP Hasanuddin, beliau melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri Tlogo Blitar. Kyai Marzuki muda merupakan pemuda yang beruntung sebab di usia beliau yang masih belia itu, beliau sudah mendalami ilmu agama ke beberapa orang kyai di Blitar. Di antaranya, beliau mendalami ilmu balaghoh dan ilmu mantek kepada Kyai Hamzah. Mendalami ilmu fikih kepada Kyai Abdul Mudjib dan ngaji Ilmu Hadits kapada Kyai Hasbullah Ridwan.

Ketika beliau duduk di bangku Aliyah, beliau sudah khatam kitab Hadits Muslim dan kitab-kitab kecil lainnnya. Sebelum beliau belajar di Malang, selama di Blitar yang mengajar beliau adalah Orangtua beliau, Kyai Hasbullah Ridwan yang masih eyang beliau, Kyai Hamzah dan Kyai Mujib adalah guru beliau di MAN Tlogo.

Setamat dari MAN Tlogo pada tahun 1985, kyai kelahiran 22 September 1966 ini melanjutkan jenjang pendidikan formalnya di IAIN (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim) Malang, yang waktu itu masih merupakan cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya. Untuk menambah ilmu agama yang sudah beliau dapat, Kyai yang juga Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang ini nyantri kepada Kyai Masduki Mahfudz di Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono. Mengetahui kecerdasan dan keilmuan Kyai Marzuki yang di atas rata-rata santrinya yang lain, akhirnya Kyai Masduki memberi amanah kepada Kyai Marzuki untuk membantu mengajar di pesantrennya, meskipun saat itu Kyai Marzuki masih berusia 19 tahun. “Saat itu saya diminta untuk mengajar kitab Fathul Qorib bab buyuu’ (jual-beli),” Kenang kyai yang juga Dosen Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini. 

Berguru pada KH. Masduqi Mahfudz 

Selain itu, Kyai Marzuki juga beruntung, karena beliau seringkali diminta untuk mendampingi dakwah Kyai Masduki saat mengisi pengajian maupun dalam rapat-rapat organisasi kemasyarakatan. Dari sinilah Kyai marzuki mulai mengetahui betapa beratnya tugas seoarang ulama dalam mengayomi ummat. Dari gurunya yang juga Rois Syuriah NU Wilayah Jawa Timur itu, Kyai Marzuki belajar akan keistikomahan menjadi seorang guru. Kyai Masduki Mahfud itu meskipun pulang malam hari dari mengisi pengajian, beliau selalu membangunkan para santrinya untuk mengaji,” ungkap Kyai Marzuki.

Salah satu kelebihan beliau, saat masih duduk di bangku kuliah, Kyai Marzuki sudah biasa memberikan kursus nahwu kepada mahasiswa yuniornya. Namun, ternyata, banyak juga mahasiswa yang tidak hanya belajar nahwu, namun juga mengaji kitab kepadanya. Dengan begini, keilmuan beliau semakin terasah. Kemudian pada tahun 1987 Kyai berputra tujuh ini mendapatkan kesempatan belajar di LIPIA Jakarta. Setelah menempuh dua tahun masa studinya di sana, Kyai Marzuki kembali ke Malang untuk membantu mengajar di pesantren Nurul Huda, Mergosono dan melanjutkan kuliah S-1. 

Membangun Rumah Tangga dan Pesantren 

Pada tahun 1994, Kyai Marzuki memulai hidup baru. Beliau mempersunting salah seorang santriwati Pondok Nurul Huda yang bernama Saidah. Sang istri merupakan putri Kyai Ahmad Nur yang berasal dari Lamongan. Kyai Marzuki sangat bersyukur sekali sebab gadis yang menjadi pendamping hidup beliau adalah seorang hafidzoh (hafal Al-qur’an).

Selang satu bulan setelah menikah, Kyai Marzuki bersama istri mencoba mengadu nasib dan hidup mandiri. Saat itu Kyai Marzuki memilih daerah Gasek, Kecamatan Sukun sebagai tempat jujugan beliau. Pada mulanya, beliau mencari rumah kontrakan yang dekat dengan masjid. Dan akhirnya, beliau ngontrak di rumah salah seorang warga yang bernama pak Har. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, Kyai Marzuki akhirnya menempati tempat yang baru. Pada saat beliau boyongan, tak lupa santri-santri Pondok Nurul Huda ikut mengantarkan Kyai Marzuki boyongan ke tempat barunya dan membantu usung-usung barang-barang dan kitab-kitab guru mereka.

Tanpa diduga sebelumnya, pada hari pertama beliau menempati rumah itu, ternyata sudah banyak santri yang datang mengaji kepada beliau. Di rumah yang sederhana itulah Kyai Marzuki mengajar para santri beliau. Mereka yang waktu itu belajar merupakan cikal bakal santri dan pesantren beliau yang kini menjadi benteng utama umat di wilayah Gasek. Karena santrinya semakin bertambah banyak maka rumah beliau tidak memadai sebagai tempat belajar mereka. Namun, alhamdulillah, Allah SWT memberikan jalan. Waktu itu di daerah Gasek sudah ada Yayasan Sabilurrosyad yang sudah memiliki lahan luas. Namun, setelah beberapa tahun didirikan Yayasan ini belum bisa berkiprah secara optimal. Akhirnya Kyai Marzuki bekerjasama dengan Yayasan Sabilurrosyad mendirikkan sebuah pesantren dengan Nama Sabilurrosyad. 

Aktivitasnya 

Selain sibuk membimbing para santri, kyai yang pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa Arab Universitas Islam Malang ini juga disibukkan dengan urusan ummat. Tiada hari tanpa memberikan pengajian atau mauidzhoh kepada umat. Mulai mengisi pengajian dari masjid ke majid, blusukan keliling kampung dan lain sebagainya. Saat ini, Kyai Marzuki juga aktif di berbagai organisasi kegamaan di antara sebagai Ketua Tanfidiyah PCNU Kota Malang dan anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang. Kedalaman ilmunya sangat dirasakan oleh umat. Sebagai contoh beliau menyusun sebuah kitab, tentang dasar-dasar atau dalil-dali amaliyah yang dilakukan oleh warga nahdhiyyin. Melalui kitab ini, Kyai Marzuki ingin membuka mata umat bahwa amalan mereka ada dasar hukumnya, sekaligus menjawab tuduhan-tuduhan orang-orang yang tidak setuju dengan sebagian amaliayh warga Nahdhiyyin. Saking hebat dan lugasnya beliau menerangkan itu semua, sampai-sampai Kyai Baidhowi, Ketua MUI Kota Malang memberi julukan “Hujjatu NU”. “Kalau Imam al-Ghozali dikenal sebagai Hujjatul Islam, maka Kyai Marzuki ini Hujjatu NU” Demikian pernyataan Kyai Baidhowi dalam beberapa kesempatan.

Meski kegiatan beliau sangat padat, namun, Kyai yang juga penasehat FKUB ini tetap berusaha untuk menjadi orangtua yang baik. Beliau begitu dekat dan akrab dengan anak-anak beliau yang masih kecil-kecil itu. Tak jarang pula, beliau ikut mengantarkan atau menjemput putra putri beliau sekolah. Dari hasil pernikahan dengan Bu Nyai Saidah, Kyai marzuki dikaruniai tujuh orang putra. Dua laki-laki dan lima perempuan. Semua putra putrinya disekolahkan di SD Sabilillah Blimbing. Kecerdasan Kyai Marzuki sepertinya menurun kepada putra-putrinya, terbukti dengan nilai mereka yang seringkali mendapat nilai sempurna termasuk pelajaran eksakta. Bahkan beberapa waktu yang lalu putri beliau menjadi juara Olimpiade Matematika di Yogyakarta dan kini sekolahdi SMP Internasional PASIAD milik negera Turki. 

Kelebihannya, Five in One 

Paling tidak, ada 5 kelebihan yang dimiliki oleh beliau yang sulit ditemukan pada orang lain, yaitu (1) kekuatan hafalannya, (2) kejelasan dan keruntutan dalam penyampaian materi kepada jamaah, (3) kedalaman pemahaman agamanya, (4) kekuatan logika dan analogi berfikirnya/mantiq, (5) mampu beradaptasi dalam ceramahnya dengan kalangan apapun, dari kaum kampungan sampai sarjana, bahkan doktor dan profesor. Karya Beliau

Pada tahun 2010 ada satu karya dari tulisan beliau yang monumental yang kini sudah puluhan kali cetak ulang dan disampaikan di hampir ke seluruh penjuru nusantara, yaitu Al-Muqtathafat li ahl al-Bidayat. Buku ini berisi sanggahan kepada beberapa kelompok terutama salafi wahabi yang suka membid’ahkan amaliah kaum Nahdliyyin, dikutip dari dalil-dalil Al-Quran, As-Sunnah dan kaidah Ushul Fiqh. Buku ini masih diperuntukkan untuk kalangan terbatas karena masih berbahasa Arab, yakni para [ecinta ilmu, kalangan santri dan pengurus NU. Harapan beliau buku tersebut bisa disampaikan kepada orang lain, manakala sudah dibacakan dan diijazahkan oleh pengarangnya langsung. 
________________________

Ket. foto: KH. Marzuki Mustamar bersama keluarga

Rabu, 11 Maret 2020

KH. AHMAD DAHLAN AHYAD

SANAD KEILMUAN YANG INDAH: 

KH. Ahmad Dahlan berguru Kepada Syaikhona Kholil Bin KH. Abd. Lathif Bangkalan, kemudian setelah itu berguru Kepada KH. Bahar Bin KH. Noer Hasan Bin KH. Noer Khatim Sidogiri. Sedangkan Syaikhona Kholil Bangkalan berguru Kepada KH. Noer Hasan Bin KH. Noer Khatim Sidogiri, dan KH. Bahar Bin KH. Noer Hasan berguru Kepada Syaikhona Kholil Bangkalan.

KH Ahmad Dahlan Ahyad, Ulama NU Penjaga Akidah Umat Yang Terlupakan

Mungkin kita sebagai Nahdliyin sering mendengar nama sekaliber KH Hasyim Asy’ari ataupun KH Wahab Chasbullah, namun kita jarang bahkan tidak mengenal nama KH Ahmad Dahlan. Beliau merupakan salah satu tokoh NU pada era awal yang menjabat sebagai wakil rais aam, satu tingkat di bawah KH Hasyim Asy’ari yang menjabat sebagai rais akbar Nahdlatul Ulama, juga sebagai penggerak dan pembela ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.<> Seperti yang dikatakan oleh Soekarno tentang Jasmerah (angan sekali-kali melupakan sejarah), kita sebagai Nahdliyin dilarang keras untuk melupakan sejarah kita sendiri. Dengan mengenal tokoh-tokoh awal NU, kita dapat meneladani bagaimana perjuangan serta pengorbanan para muassis NU yang tidak hanya menegakkan agama tetapi juga menegakkan berdirinya NKRI hingga dapat kita rasakan sampai saat ini.

Adalah Wasid Mansyur yang berhasil menuangkan dalam sebuah buku tentang biografi, sejarah perjalanan, serta komitmen beliau. Buku ini juga berhasil mengulas pemikiran Kiai Dahlan untuk membentengi akidah rakyat Surabaya pada waktu itu yang mulai terserang virus TBC (Takhayyul, Bid’ah, Churafat) yang disebarkan oleh firqah di luar Ahlussunnah wal Jamaah atau yang biasa dikenal dengan sebutan Wahabi dalam magnum opusnya yaitu kitab “Tadzkiratun Naf’ah”. Buku ini juga disertai bukti sejarah, sehingga apa yang ditulis dalam buku ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta tidak sekedar asal bunyi (asbun).

Kiai Dahlan bernama lengkap Ahmad Dahlan ibn Muhammad Ahyad, terlahir pada 13 Muharram 1303 H yang bertepatan dengan tanggal 30 Oktober 1885 di Kebondalem Surabaya, sebuah wilayah yang berada di Kecamatan Simokerto, sebelah timur makam Raden Rahmatullah Sunan Ampel, Kiai Dahlan merupakan putra ke empat dari enam bersaudara.(hlm. 4-5) Pendidikan beliau dimulai dari ayahnya sendiri, KH Muhammad Ahyad, pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Kebondalem Surabaya. Setelah itu Kiai Dahlan belajar kepada Syaikhona Kholil ibn Abdul Latif (pengasuh pondok pesantren Kademangan, Bangkalan-Madura) lalu dilanjutkan berguru kepada Kiai Mas Bahar ibn Noer Hasan (pengasuh pondok pesantren Sidogiri Pasuruan).(hlm 9-10). Ini membuktikan bahwa keilmuan yang dimiliki oleh Kiai Dahlan merupakan keilmuan yang memiliki sanad yang jelas dan bersambung hingga kepada sayyidina Muhammad, karena banyak anak muda zaman sekarang yang berguru kepada internet yang jelas-jelas tidak memiliki sanad.

Dalam dunia pergerakan, Kiai Dahlan merupakan tokoh yang sangat sentral dalam membangun jaringan antar pesantren, letak pesantren Kebondalem yang strategis memberikan kemudahan tersendiri bagi beliau untuk merintis jaringan tersebut. Dengan jaringan inilah Kiai Dahlan dapat mengerti kondisi terkini yang dihadapi bangsa, termasuk isu-isu tentang keagamaan. Kiai Dahlan juga berperan penting bagi berdirinya Taswirul Afkar (kontekstualisasi pemikiran) yang didirikannya bersama Kiai Wahab dan Mangun, yang mana perkumpulan ini merupakan perkumpulan diskusi/kajian yang membahas dan mencari solusi atas masalah-masalah keagamaan dan sosial kemasyarakatan kaitannya dengan persoalan kekinian yang dihadapi oleh umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Sedangkan dalam urusan pembiayaannya, Kiai Dahlan bersama pimpinan lainnya mendirikan Syirkatul Amaliyyah, yaitu semacam koperasi yang sahamnya dijualbelikan kepada para anggota Taswirul Afkar. Langkah ini disinyalir turut membantu pembiayaan kebutuhan harian, apalagi tidak adanya subsidi dari pemerintah Hindia-Belanda untuk perkumpulan tersebut. Kiai Dahlan bersama para kiai yang lainnya, juga berhasil membentuk MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) pada tanggal 12-15 Rajab 1356 H, bertepatan pada 18-21 September 1937. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan menyatukan semangat kebangsaan antar seluruh ormas Islam untuk merespon penjajahan serta mentolerir segala perbedaan antar ormas sebagai sebuah keniscayaan.

Kiai Ahmad Dahlan juga menulis sebuah kitab pencerahan kepada umat, khususnya warga Surabaya untuk menyikapi kondisi sosial keagamaan yang tengah terjadi pada masyarakat umumnya. Misal, Kiai Dahlan menegaskan bahwa pada prinsipnya –setidaknya dari kacamata Syafi’iyyah– ada keharusan melaksanakan shalat Dhuhur bagi pelaku Shalat Jum’at yang diadakan di dua masjid atau lebih dalam satu wilayah. Hanya saja, ketegasan ini digarisbawahi dengan penyuguhan pandangan jika pelaksanaan shalat Jum’at dalam dua tempat di satu wilayah tidak ada kebutuhan. Bila ada kebutuhan yang mendesak, misalnya masjid awal tidak cukup, maka shalat Jum’at di dua Masjid dalam satu wilayah diperbolehkan sehingga tidak ada keharusan shalat dhuhur setelah shalat Jum’at usai. (hlm. 83-84).

Kemudian yang menjadi perhatian Kiai Dahlan adalah merebaknya pembid’ahan kepada amaliyah warga NU. Dalam tulisannya tersebut, Kiai Dahlan dengan tegas mengawali “Bahwa semua yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi adalah bagian dari vid’ah merupakan orang yang bodoh dan tidak memiliki pendirian yang kuat (al-Juhlal al-Mutahawirun)”. Untuk memperkuat pandangannya, Kiai Dahlan mengutip bid’ah yang dilakukan oleh Sayyidina Umar bin Khattab yang mengerjakan terawih secara berjamaah, yang kemudian Sayyidina Umar mengatakan “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini”. (hlm. 88).

Beliau juga mengulas pandangannya tentang pola serta perilaku kelompok tertentu yang mengatasnamakan Islam tetapi tindakannya sama sekali tidak mencerminkan budi pekerti Islam. Mereka hanya memaksakan kehendak menjadi Islam yang paling benar, padahal mereka seharusnya bisa belajar kepada empat imam mazhab yang memiliki pandangan tersendiri tetapi tetap menjaga toleransi hingga akhir hayatnya.

Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan kita bagaimana menjaga serta mempertahankan paham dan ideologi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, ditambah lagi di era yang serba canggih ini kelompok-kelompok di luar paham tersebut akan lebih mudah menyebarkan virus-virus radikalnya serta dengan mudahnya mereka mengkafirkan amaliyah-amaliyah warga Nahdliyyin. Kiai Dahlan juga mengajarkan kita bagaimana menyatukan semangat kebangsaan kita dan menghargai perbedaan pendapat sebagai sebuah keniscayaan serta menjaga keutuhan NKRI di tengah arus rongrongan makar yang dilakukan oleh segelintir kelompok Islam.

Sumber: NU Online

Kamis, 23 Januari 2020

Siapakah Ibu Nyai Sinta Nuriyah?


Dr. Dra. Hj. Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum, perempuan kelahiran Jombang, 8 maret 1948, ia adalah istri dari presiden Indonesia ke empat dan tokoh pejuang NU yaitu KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Ia mengenyam pendidikan pertamanya di Sekolah rakyat, Jombang. Kemudian melanjutkan pendidikannya di Madrasah Muallimat (4 tahun) Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Setelah selesai ia pun melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Syari’ah (jurusan Qodlo’) IAIN Suanan Kalijaga, Yogyakarta. Dan ahirnya melanjutkan S2 di Universitas Indonesia program kajian wanita.

Setelah selesai S1, Sinta menikah dengan KH Abdurrahman Wahid, putra pertama dari KH. Abdul Wahid Hasyim putra dari KH. M. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama. Yang waktu itu Abdurrahman Wahid masih berada di luar negeri, untuk menyelesaikan studynya, dan ia pulang pada tahun 1971.

Pasangan suami istri ini dianugerahi empat putri, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, Zannuba Arifah Chafsoh Wahid, Anita Hayatunnufus Wahid, Inayah Wulandari Wahid.

Untuk beberapa waktu (tahun 1972 Sampai 1980) pasangan ini mengarungi kehidupan di Pesantren Manba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang untuk mengajar. Selain di Denanyar, mereka juga mengajar di pesantren Tebuireng dan pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang.

Baru setelah tahun 1980 mereka sekeluarga pindah ke Jakarta. Di kota metropolitan itulah, Shinta mulai bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah keluarga, “Zaman”, kemudian majalah pria “Matra”.

Keperduliannya dalam bersosial hususnya dalam urusan gender, mengantarkannya untuk mengikuti banyak organisasi kewanitaan, antara lain: Muslimat NU, KNKWI (Komisi Nasional Kedudukan Wanita Indonesia), KOWANI (Kongres Wanita Indonesia). Ia juga aktif dalam melakukan bimbingan rohani di rumah tahanan. Ia juga ditunjuk sebagai dewan penasehat KOMNAS HAM.

Selain itu ia merupakan pendiri Yayasan Puan Amal Hayati yang bergerak dalam bidang advokasi dan konseling terhadap perempuan dan anak korban kekerasan. Dan juga Pendiri Yayasan al-Munawaroh (bergerak pada pemberian bantuan dana/ beasiswa kepada anak sekolah, keluarga tidak mampu, para penyandang cacat, dan korban bencana), tahun 1996

Banyak hal yang dialami oleh Ibu Shinta, salah satu kejadian pada awal semester dua program pasca sarjananya, ia mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan terbatasnya gerak dan aktifitas fisiknya. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat belajarnya.

Selama satu semester ia di tandu dari lantai satu ke lantai empat oleh staf universitas karena Pada saat itu lift gedung mengalami kerusakan, Di tengah-tengah kuliah mengenai perempuan dan gender itulah Ibu Shinta dan kawan-kawan justru merasakan betapa tidak enaknya menjadi perempuan.

“Bahkan kata teman saya yang juga alumni Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dan sama-sama kuliah di Kajian Perempuan: “jadi perempuan kok runyem begini, ya.”Padahal Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk selalu memuliakan perempuan.’”

Dari situlah kemudian lahir Forum Kajian Kitab Kuning (FK3), dari forum ini kemudian banyak menghasilkan karya-karya yang disarikan dari kitab-kitab kuning yang membahas tentang gender.

 Diantara karyanya yaitu berjudul Kembang Setaman Perkawinan dan juga Wajah Baru Relasi Suami-Istri hasil dari Analisis Kritis Kitab ‘Uqud Al Lujjayn fi bayani huququ al-zaujain karya Syekh Nawawi al Bantani, yang diterbitkan oleh Kompas pada tahun 2005 dan  LKiS Yogyakarta pada tahun 2001.

Dari pengalaman-pengalaman yang ia rasakan mendorongnya untuk terus mengkampanyekan kerukunan dan kasih sayang sesama manusia, sesama anak bangsa. Dengan berbagai program-program Pluralisme dan kemanusiaan.

Salah satu bentuk kegiatannya yaitu dengan sahur keliling, acara ini sangat menarik karena bukan hanya umat islam yang ikut dalam acara ini tetapi juga dari warga non muslim.

Dalam penuturannya “kegitan ini juga kami lakukan di berbagai tempat, di masjid-masjid, di halaman klenteng, di halaman gereja, kolong jembatan, di tengah pasar dan lain sebagainya”. Selain untuk mempertajam keimanan, kegiatan ini juga salah satu upayanya untuk menjaga kerukunan, kesatuan dan persatuan bangsa.
 
Dan pada 18 Desember 2019, Ibu Sinta Nuriyah Wahid pun dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta Untuk semua kerja kemanusiaan yang telah Shinta Nuriyah lakukan.  

Sumber: Sari Draft Pidato Ilmiah Penganugerahan Doktor Honoris Causa Shinta Nuriyah

Rabu, 22 Januari 2020

Mbah KH. Dimyati Selopuro, Waliyullah dari Blitar Jawa Timur


KH. Dimyati atau dikenal dengan panggilan Mbah Dim bahkan ada yang menyebut beliau dengan nama Kyai Pendito karena kelebihan dan karomah yang dimiliki.

Mbah Dimyati adalah seorang ulama yang lahir pada tahun 1921 M di Dusun Baran, Desa Ploso, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar.

Mbah Dim adalah anak dari KH. Hasbullah, yang konon KH Hasbullah adalah keturunan Sunan Geseng murid Sunan Kalijaga.

Ayah KH. Dimyati dikenal sebagai Kyai Nalindra yakni seorang ksatria yang merangkap sebagai kyai dan pejabat. KH Hasbullah pernah menjadi legislatif dan Kepala Desa Ploso.

Mbah Dim kecil dikenal sebagai anak yang berbeda dari teman sejawatnya, beliau dikenal sangat pendiam dan gemar menyendiri.

Mbah Dim ketika kecil juga dikenal sebagai anak yang tidak pernah melepaskan kopyah serta rajin mengaji kepada ayahnya sendiri yakni KH. Hasbullah.

Menurut cerita masyarakat, Kyai Hasbulloh pernah membelah sebuah semangka dan berkata, “Di antara anak-anakku ada salah satu yang kelak dapat membelah pintu langit”, yang dimaksud KH. Hasbullah adalah Mbah Dimyati.

Setelah menamatkan Sekolah Rakyat (SR), Mbah Dimyati melanjutkan belajarnya di Pondok Pesantren Lirboyo di bawah asuhan Romo Kyai Abdul Karim.

Mbah Dimyati adalah santri kesayangan Romo Kyai Abdul Karim. Kedatangan Mbah Dimyati kecil seakan menjadi pelipur lara, karena putra beliau Gus Nawawi meninggal dunia di tanah suci Makkah.

Mbah Dimyati nyantri di Lirboyo selama sebelas tahun. Sebagai seorang santri Mbah Dimyati dikenal sebagai sosok yang rajin dan istiqomah baik itu mengaji, menjalankan setiap amaliyah dan perintah sang guru yakni Romo Kyai Abdul Karim.

Mbah Dimyati juga dikenal sebagai santri yang sangat betah membaca wirid di belakang Romo Kyai Abdul Karim hingga sang guru menyelesaikan wiridnya.

Di pagi buta Mbah Dimyati selalu melayani sang guru menatakan gamparan, menyalakan lampu sambil menunggu sang guru balik ke ndalem lagi.

Ada beberapa cerita dari KH. Mahurin dari Nganjuk bahwa Mbah Dimyati seringkali tiba-tiba datang memberi makanan dengan lauk pauk lengkap yang tidak mungkin ada di waktu malam.

Cerita unik juga disampaikan oleh KH Imam Hanafi Kaniten Mojo, Mbah Dimyati ketika menerima kiriman dari ayahnya maka langsung digunakan untuk memasak semua dan temannya diajak untuk makan bersama.

Namun setelah itu Mbah Dimyati tidak makan setelah beberapa hari, dan bertahan dengan hanya minum air.

Konon ketika masih mondok di Pesantren Lirboyo, Mbah Dimyati pernah menemukan granat sisa-sisa peperangan zaman penjajahan Belanda di sekitar pondok.

Mbah Dimyati penasaran akhirnya granat tersebut dibawa pulang ke pondok untuk diotak-atik di dalam kamar.

Tidak disangka tiba-tiba granat tersebut meledak hebat hingga kamar hunian Mbah Dim hancur berkeping-keping, namun anehnya Mbah Dimyati tidak mengalami luka sedikitpun, inilah karomah Mbah Dimyati yang tampak semenjak masih jadi santri.

Setelah dewasa Mbah Dimyati menikah dengan Bu Nyai Rufiah dari Desa Batokan. Bersama Nyai Rufiah beliau dikarunia putra bernama Mahfud.

Kemudian Mbah Dimyati menikah dengan Nyai Munawarah dan dikaruniai keturunan yakni Lailatul Badriyah. Ngatiqullah, Umi Mukarromah, dan Barroh.

Mbah Dimyati mengawali pengabdiannya di kampung halamannya dengan mengajar sekolah diniyah dan mengajar mengaji Al-Qur’an serta beberapa kitab.

Mbah Dimyati dikenal sebagai pengajar yang unik, beliau mengajar tidak dengan metode memaknai kitab kemudian diterangkan, melainkan dengan menggunakan metode ruhaniyah atau metafisik, yaitu dengan isyarat-isyarat.

Diceritakan oleh santri bernama Nafisah, setiap akan ganti bab dalam pelajaran maka berbeda ujiannya. Nafisah saat itu disuruh pergi sendiri di sebuah kolam yang sepi dan sunyi.

Di sana Nafisah diminta untuk merenungkan akan hidupnya selama ini. Apabila sudah dinyatakan lulus dari ujian tersebut, maka yang bersangkutan dianggap memahami pasal (bab) yang diajarkan, kemudian dapat melanjutkan ke bab berikutnya.

Walaupun Mbah Dim telah wafat, banyak satri-santri Mbah Dimyati tetap menjalankan amaliyah yang diajarkan oleh beliau. Bahkan para santri merasa tetap disowani ke rumahnya masing-masing seakan-akan beliau masih hidup.

Suatu ketika saat keponakan Mbah Dimyati yang bernama Kiai Ayub Ismail akan meninggal,  Mbah Dimyati meminta Ibu Nafisah untuk memasakkan ingkung kemudian memintanya memberikan kedalemnya Kiai Ayub. Ternyata makna dari perintah ayam ingkung adalah Kiai Ayub meninggal dunia.

Mbah Dimyati dikenal sebagai tokoh yang melayani masyarakat tanpa memandang bulu. Setiap harinya kurang lebih seratus orang datang dan sowan untuk meminta barokah dan ijazah kepada Mbah Dimyati.

Mbah Dimyati adalah ulama zuhud yang meninggalkan kemewahan dunia. Kesehariannya hanya digunakan untuk mengabdikan diri pada Allah SWT.

Mbah Dimyati juga sosok yang sangat ikhlas, sabar dan tawadhu’, serta santun. Setiap beliau sowan ke Lirboyo, ketika diberi jamuan makan, maka beliau sendiri yang membersihkan meja dan mencuri piring sendiri.

Mbah Dimyati juga senang menziarahi makam auliya’ dan guru-guru beliau, dan yang paling penting bagi Mbah Dimyati adalah menziarohi makam kedua orang tuanya dan gurunya.

Mbah Dimyati dikenal memiliki sifat bashiroh dan ilmu laduni, beliau sering mengetahui suatu hal sebelum dijelaskan, dan menjawabnya dengan menggunakan isyarat-isyarat sebelum kejadian.

Hal itu bisa dilihat saat wafatnya Gus Ngatiq, Mbah Dimyati membuat kuburan kecil. Bahkan ketika  ibunya Ny. Hj. Maryam ketika towaf dan terjatuh, tiba-tiba Mbah Dimyati membantu  ibunya.

Sontak ibunya kaget “lho le, kog ono ndek kene?” (Loh Nak, kok ada di sini?). Padahal saat itu Mbah Dim tidak ikut melaksanakaan ibadah haji bersama ibunya.

Mbah Dimyati wafat pada tahun 1989 dalam usia 68 tahun, sebelum wafat. Keharuman namanya dikenal dan abadi hingga kini, banyak peziarah yang berdatangan untuk mengambil barokah, karena Mbah Dimyati adalah wali kekasih Allah.

Untuk mengenang beliau sampai saat ini digelar Majelis Dzikir Kanzul Jannah "Jumpa Sehat" pada Kamis Legi malam Jum'at Pahing. 

(Foto : dok. keluarga KH Dimyati)

Selasa, 21 Januari 2020

BIOGRAFI HABIB LUTHFI BIN YAHYA PEKALONGAN

Nama dan Nasabnya

Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Habib Luthfi) dilahirkan di Pekalongan tepatnya pada tanggal 10 November 1946 atau pada tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. Habib Luthfi ini dilahirkan dari seorang Syarifah yang bernama sayidah al Karimah as Syarifah Nur. Habib Luthfi Bin Yahya ini selain sebagai seorang Ulama, beliau juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama sebagai salah satu anggota Syuriyah PBNU.

Selain aktif sebagai salah satu anggota Syuriyah PBNU, beliau juga merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia di Jawa Tengah. Selain itu, beliau juga adalah Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah. Riwayat pendidikan Habib Luthfi, terutama mengenai pendidikan agama, tentu saja beliau mendapatkan ilmu agama Islam dari ayahanda tercintanya yaitu al Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Setelah mendapatkan pelajaran agama dari Ayahanda, Habib Luthfi bin Yahya kemudian melanjutkan pendidikannya di Madrasah Salafiah selama tiga tahun.

Nasab Jalur Ibu

Dilahirkan dari seorang syarifah, yang memiliki nama dan nasab: sayidah al Karimah as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin Sayid al Imam Shalih bin Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin Sayid Imam ‘Alawi bin Sayid al Imam Muhammad bin al Imam ‘Alawi bin Imam al Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam ‘Ali bin Imam ‘Alawi bin Sayidina Imam al Faqih al Muqadam bin ‘Ali Bâ Alawi.

Nasab Jalur Ayah

Nabi Muhammad Saw
Sayidatina Fathimah az-Zahra + Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
Imam Husein ash-Sibth
Imam Ali Zainal Abiddin
Imam Muhammad al-Baqir
Imam Ja’far Shadiq
Imam Ali al-Uraidhi
Imam Muhammad an-Naqib
Imam Isa an-Naqib ar-Rumi
Imam Ahmad Al-Muhajir
Imam Ubaidullah
Imam Alwy Ba’Alawy
Imam Muhammad
Imam Alwy
Imam Ali Khali Qasam
Imam Muhammad Shahib Marbath
Imam Ali
Imam Al-Faqih al-Muqaddam Muhammd Ba’Alawy
Imam Alwy al-Ghuyyur
Imam Ali Maula Darrak
Imam Muhammad Maulad Dawileh
Imam Alwy an-Nasiq
Al-Habib Ali
Al-Habib Alwy
Al-Habib Hasan
Al-Imam Yahya Ba’Alawy
Al-Habib Ahmad
Al-Habib Syekh
Al-Habib Muhammad
Al-Habib Thoha
Al-Habib Muhammad al-Qodhi
Al-Habib Thoha
Al-Habib Hasan
Al-Habib Thoha
Al-Habib Umar
Al-Habib Hasyim
Al-Habib Ali
Al-Habib Muhammad Luthfi

Menempuh Pendidikan

Setelah memperoleh didikan langsung dari kedua orangtuanya, pada usia 12 tahun Luthfi kecil mulai mengembara mencari ilmu.
Pada usia itu ia ikut pamannya (Pakde), Habib Muhammad di Indramayu Jabar. Sejak itu ia keluar masuk pesantren. Tak lama nyantri di Bondokerep Cirebon, Yik Luthfi mendapatkan beasiswa belajar ke Hadramaut. Tiga tahun di sana, ia kembali ke tanah air, nyantri lagi ke sejumlah pesantren, yaitu Ponpes Kliwet Indramayu, Tegal (Kiai Said), Purwokerto (Kiai Muhammad Abdul Malik Bin Muhammad Ilyas Bin Ali).

Beliau juga pernah berguru kepada seorang ulama besar asal Lasem Rembang, Kiai/Mbah Ma’shum. Selanjutnya, pada usia remaja ia dinikahkan dengan seorang gadis yang masih tergolong kerabat (satu fam), yaitu Syarifah Salma binti Hasyim bin Yahya. Dari pernikahan itu lahir dua orang anak laki-laki dan tiga perempuan, yaitu Syarif Muhammad Bahauddin, Syarifah Zaenab, Syarifah Fathimah, Syarifah Ummi Hanik dan Syarif Husain.

Pendidikan pertama Maulana Habib Luthfi diterima dari ayah al Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Selanjutnya ia belajar di Madrasah Salafiah. Guru-gurunya di Madrasah itu di antaranya:

Al-'Alim al ‘Alamah Sayid Ahmad bin ‘Ali bin Al Alamah al Qutb As Sayid ‘Ahmad bin Abdullah bin Thalib al Athas
Sayid al Habib al ‘Alim Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (pamannya sendiri)
Sayid al ‘Alim Abu Bakar bin Abdullah bin ‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi
Sayid ‘Al Alim Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.
Dari guru-guru tersebut ia mendapat ijazah Khas (khusus), dan juga ‘Am (umum) dalam Da’wah dan nasyru syari’ah (menyebarkan syari’ah), thariqah, tashawuf, kitab-kitab hadits, tafsir, sanad, riwayat, dirayat, nahwu, kitab-kitab tauhid, tashwuf, bacaan-bacaan aurad, hizib-hizib, kitab-kitab shalawat, kitab thariqah, sanad-sanadnya, nasab, kitab-kitab kedokteran. Dan ia juga mendapat ijazah untuk membai’at.

Silsilah Thariqah dan Baiat

Al Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Yahya mengambil thariqah dan hirqah Muhammadiah dari para tokoh ulama. Dari guru-gurunya ia mendapat ijazah untuk membaiat dan menjadi mursyid. Di antara guru-gurunya itu adalah: 1. Thariqah Naqsyabandiah Khalidiyah dan Syadziliah al ‘Aliah Dari Al Hafidz al Muhadits al Mufasir al Musnid al Alim al Alamah Ghauts az Zaman Sayidi Syekh Muhammad Ash’ad Abd Malik bin Qutb al Kabir al Imam al Alamah Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid

Sanad Naqsyabandiayah al-Khalidiyah
Sayidi Syekh ash’ad Abd Malik dari bapaknya Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid dari Quth al Kabir Sayid Salaman Zuhdi dari Qutb al Arif Sulaiman al Quraimi dari Qutb al Arif Sayid Abdullah Afandi dari Qutb al Ghauts al Jami’ al Mujadid Maulana Muhammad Khalid sampai pada Qutb al Ghauts al Jami’ Sayidi Syah Muhammad Baha’udin an Naqsyabandi al Hasni.

Syadziliyah
Dari Sayidi Syekh Muhammad Ash’Ad Abd Malik dari al Alim al al Alamah Ahmad an Nahrawi al Maki dari Mufti Mekah-Madinah al Kabir Sayid Shalih al Hanafi ra. 2. Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah:

Dari al Alim al Alamah Qutb al Kabir al Habib ‘Ali bin Husain al ‘Athas.
Afrad Zamanihi Akabir Aulia al Alamah al habib Hasan bin Qutb al Ghauts Mufti al kabir al habib al Iamam ‘Utsman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya Bâ ‘Alawi.
Al Ustadz al kabir al Muhadits al Musnid Sayidi al Al Alamah al Habib Abdullah bin Abd Qadir bin Ahmad Bilfaqih Bâ ‘Alawi.
Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Ali bin Sayid Al Qutb Al Al Alamah Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.
Al Alim al Arif billah al Habib Hasan bin Salim al ‘Athas Singapura.
Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar bin Salim Bâ ‘Alawi.

Dari guru-guru tersebut ia mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah dan ijazah untuk baiat, talqin dzikir khas dan ‘Am.

3. Thariqah Al Qadiriyah an Naqsyabandiyah:

Dari Al-Alim Al-Alamah tabahur dalam Ilmu syaria’at, thariqah, hakikat dan tashawuf Sayidi al Imam ‘Ali bin Umar bin Idrus bin Zain bin Qutb al Ghauts al Habib ‘Alawi Bâfaqih Bâ ‘Alawi Negara Bali. Sayid Ali bin Umar dari Al Alim al Alamah Auhad Akabir Ulama Sayidi Syekh Ahmad Khalil bin Abd Lathif Bangkalan. ra.
Dari kedua gurunya itu, Al-Habib Muhammad Luthfi mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah, talqin dzikir dan ijazah untuk bai’at talqin. Jami’uthuruq (semua thariqat) dengan sanad dan silsilahnya: Al-Imam Al-Alim Al-Alamah Al-Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain Syekh Muhammad al Maliki bin Imam Sayid Mufti al Haramain ‘Alawi bin Abas al Maliki al Hasni al Husaini Mekah. Darinya, Maulana Habib Luthfi mendapat ijazah mursyid, hirqah, talqin dzikir, bai’at khas, dan ‘Am, kitab-kitab karangan syekh Maliki, wirid-wirid, hizib-hizib, kitab-kitab hadits dan sanadnya.

4. Thariqah Tijaniah:

Al Alim al Alamah Akabir Aulia al Kiram ra’su al Muhibin Ahli bait Sayidi Sa’id bin Armiya Giren Tegal. Kiyai Sa’id menerima dari dua gurunya; pertama Syekh’Ali bin Abu Bakar Bâsalamah. Syekh Ali bin Abu Bakar Bâsalamah menerima dari Sayid ‘Alawi al Maliki. Kedua Syekh Sa’id menerima langsung dari Sayid ‘Alawi al Maliki.
Dari Syekh Sa’id bin Armiya itu Maulana Habib Luthfi mendapat ijazah, talqin dzikir, dan menjadi mursyid dan ijazah bai’at untuk khas dan ‘Am.

95 GURU HABIB LUTHFI BIN YAHYA

1. Habib Ali bin Hasyim bin Umar Bin Yahya (ayah),
2. Habib Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas (Pekalongan),
3. Habib Husein bin Hasyim bin Umar Bin Yahya (Pekalongan),
4. Habib Abubakar bin Abdullah Alattas (Pekalongan),
5. Habib Hamid al-Habsyi,
6. Syaikh Ahmad bin Mahfudz,
7. Habib Muhammad bin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas (Pekalongan),
8. Syaikh Muhammad Kaukab bin Muslim (Benda Kerep Cirebon),
9. Syaikh Muhtadi bin Muslim (Benda Kerep Cirebon),
10. Syaikh Arsyad bin Muhammad Amin (Benda Kerep Cirebon)
11. Syaikh Muhammad Bajuri (Sudimampir Balongan Indramayu)
12. Syaikh Masyhadi bin Muslim bin Utsman (Karangampel Indramayu),
13. Habib Sholeh bin Abdullah al-Hinduan (Karangampel Indramayu),
14. Habib Abubakar bin Abdullah Ba’abud (Indramayu),
15. Habib Alwi bin Yusuf bin Ahmad Bin Yahya (Indramayu),
16. Habib Muhammad bin Thoha bin Umar Bin Yahya (Indramayu),
17. Habib Muhammad bin Hasyim bin Umar Bin Yahya (Kliwed Kertasemaya Indramayu),
18. Habib Syaikh bin Abubakar bin Syaikhan Bin Yahya (Jagasatru Cirebon),
19. Habib Muhammad bin Umar bin Abubakar Bin Yahya (Pegagan Palimanan Cirebon)
20. Habib Ahmad bin Ismail Bin Yahya (Jenun Arjawinangun Cirebon),
21. Habib Umar bin Ismail Bin Yahya (Panguragan Cirebon),
22. Habib Ibrahim bin Ismail Bin Yahya (Gegesik Cirebon),
23. Habib Idrus bin Muhammad bin Idrus al-Habsyi (Cirebon),
24. Habib Ali bin Husein Alattas (Cikini Jakarta),
25. Habib Umar bin Hud Alattas (Jakarta),
26. Habib Ali bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas (Pekalongan),
27. Habib Yahya bin Hasyim bin Umar Bin Yahya (Pekalongan),
28. Habib Abdullah bin Salim Maulachelah (Pekalongan),
29. Habib Zain bin Ali al-Jufri (Semarang),
30. Habib Idrus bin Muhammad Assegaf (Semarang),
31. Habib Anis bin Alwi bin Ali al-Habsyi (Solo),
32. Habib Abdul Qadir bin Abdurrahman Assegaf (Solo),
33. Habib Umar bin Abdul Qadir Alaydrus (Solo),
34. Habib Ahmad bin Ali Bafaqih (Tempel Sleman Jogjakarta),
35. Habib Umar bin Thoha Bin Yahya (Surabaya),
36. Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi (Surabaya),
37. Habib Sholeh bin Muhsin al-Hamid (Tanggul Jember),
38. Habib Muhsin bin Hadi al-Hamid (Beran),
39. Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih (Malang),
40. Habib Hasan bin Utsman Bin Yahya,
41. Habib Utsman bin Alwi bin Utsman Bin Yahya (Jakarta),
42. Habib Muhammad bin Aqil Bin Yahya (Jakarta),
43. Habib Ahmad bin Muhammad al-Haddad (Jakarta),
44. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (Mekkah),
45. Habib Ahmad Masyhur al-Haddad (Tarim Yaman),
46. Syekh Sa’duddin al-Halabi ad-Dimasyqi (Mekkah),
47. Habib Muhammad bin Alwi al-Maliki (Mekkah),
48. Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz Bin Syaikh Abubakar bin Salim (Tarim Yaman),
49. Habib Zain bin Ibrahim bin Smith (Madinah),
50. Habib Muhammad bin Alwi al-Habsyi (Tarim Yaman),
51. Habib Hasan bin Salim Alattas (Singapura),
52. Syaikh Abdullah al-Faqih bin Umar al-Khathib (Singapura),
53. Habib Ali bin Umar Bafaqih (Negara Bali),
54. Habib Muhammad al-Qadhi al-Kaf (Tegal),
55. Habib Hasan bin Husein bin Muhammad al-Haddad (Tegal),
56. Habib Muhammad bin Ali bin Thoha al-Haddad (Tegal),
57. Habib Aqil bin Abdullah Bin Yahya (Kadipaten Majalengka),
58. Syaikh Muhammad bin Abdullah Haujah (Semarang),
59. Habib Idrus bin Abubakar al-Habsyi (Surabaya),
60. Syarifah Zahra binti Abubakar bin Umar Bin Yahya (Surabaya),
61. Syarifah Khadijah binti Hasyim Bin Yahya (Pekalongan),
62. Syarifah Syaikhun binti Syaikh bin Alwi Bin Yahya (Jakarta),
63. Syaikh Abdullah bin Nuh (Bogor),
64. Syaikh Mahfudz bin Anwar (Blado Pekalongan),
65. Syaikh Ali Bamahramah,
66. Habib Hamid bin Muhammad al-Hanafi bin Salim Bin Yahya (Mekkah),
67. Habib Muhammad bin Aqil Bin Yahya (Sokaraja Purwokerto),
68. Sayyid Syaikh Muhammad Abdul Malik bin Ilyas (Kedung Paruk Purwokerto),
69. Syaikh Muzni (Karangcengis Ajibarang Banyumas),
70. Syaikh Ali bin Abubakar Basalamah (Jatibarang Brebes),
71. Syaikh Manshur bin Nawawi (Kalimati Tegal),
72. Syaikh Suhrawardi bin Nawawi (Tegal),
73. Syaikh Said bin Armia (Giren Tegal),
74. Syaikh Abdul Jamil (Pemalang),
75. Syaikh Muhammad Dimyathi bin Nashir (Comal Pemalang),
76. Syaikh Muhammad Nur (Walangsanga Moga Pemalang),
77. Syaikh Muhammad Sholeh Madyani (Kebagusan Comal Pemalang),
78. Syaikh Abdul Fattah bin Thohir (Kradenan Bangkalan),
79. Syaikh Irfan (Kertijayan Pekalongan),
80. Syaikh Ahmad Mudzakir bin Fadholi (Pekalongan),
81. Syaikh Ru’yah (Kaliwungu Kendal),
82. Syaikh Muhammad Ma’shum (Lasem Rembang),
83. Syaikh Abdullah Salam (Kajen Pati),
84. Syaikh Abdullah Hadziq bin Hasbullah (Jepara),
85. Habib Ali bin Muhammad bin Syihab,
86. Habib Salim bin Abdullah asy-Syathiri (Tarim Yaman),
87. Habib Ali bin Muhammad bin Abdul Qadir Assegaf (Tuban),
88. Sayyid Afifuddin al-Jilani,
89. Sayyid Syaikh Muhammad Nadzim Adil al-Haqqani (Siprus),
90. Syaikh Muhammad bin Abdul Bari Tegal,
91. Syaikh Zuhdi (Cikura Tegal),
92. Syaikh Rais bin Armia (Cikura Tegal),
93. Syaikh Utsman Abid al-Bamawi asy-Syadzili,
94. Habib Aqil bin Muhammad Ba’abud (Purworejo), dan
95. Habib Abu Bakar al-‘Adni bin Ali al-Masyhur (Tarim Yaman).

KEGIATAN HABIB LUTHFI BIN YAHYA

Kegiatan Dan Aktifitas Habib Luthfi Bin Yahya

Pengajian Thariqah tiap Jum’at Kliwon pagi (Jami’ul Usul Thariq al-Aulia). Pengajian Ihya 'Ulumidin tiap Selasa malam. Pengajian Fath al-Qarib tiap Rabu pagi (Khusus untuk ibu-ibu).
Pengajian Ahad pagi, pengajian thariqah (Khusus ibu-ibu). Pengajian tiap bulan Ramadhan (Untuk santri tingkat Aliyah). Da’wah ilallah berupa umum di berbagai daerah di Nusantara. Rangakain Maulid Kanzus (lebih dari 60 tempat) di kota Pekalongan dan daerah sekitarnya. Dan kegiatan lainnya.

Peranan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam organisasi

MATAN Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al Mu'tabaroh An Nahdliyyah (MATAN) adalah organisasi tarekat untuk kalangan mahasiswa yang diprakarsai oleh Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan

Ro'is 'am JATMAN (Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah) yang berafiliasi kepada organisasi Islam Nahdlatul Ulama. Jabatan Organisasi Habib Luthfi Bin Yahya

Pekerjaan:
1. Rais Am Jam’iyyah Ahlith ath-Thariqah al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah 2005-2010 (periode kedua)
2. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Jawa Tengah (2005-2010)
3. Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kota Pekalongan (2005-2010)
4. Paguyuban Antar Umat Beriman (Panutan) Kota Pekalongan

AKRAB DENGAN SEMUA KALANGAN

Meski secara nasab beliau keturunan Nabi Muhammad, tak pernah sedikit pun ada rasa sombong, meremehkan orang lain, termasuk non Arab (‘ajam). Selain didikan keluarga, sejumlah kiai yang pernah menjadi gurunya turut andil besar dalam mencetak kepribadiannya.

“Abahnya, Habib Ali juga pernah nyantri pada Mbah Sholeh Darat (Semarang).

Jadi dalam keluarga beliau tak ada lagi istilah Arab-non Arab.

Seperti difirmankan Allah, yang penting kadar ketakwaannya. Hal ini pun ditanamkan Abah pada beberapa habaib yang lebih yunior,” kata Kiai Zakaria.

Dari sini tak mengherankan jika dalam kehidupan sehari-hari Abah selalu menggunakan bahasa Jawa, bukan Indonesia apalagi Arab. Baik kepada santri maupun tamu yang dikenalnya. “Abah itu sudah njawani (cenderung Jawa), bukan habib yang eksklusif. Semua orang dan kalangan merasa dekat dengan beliau, karena Abah tak suka penghormatan yang berlebihan. Berapa pun jumlah orang yang ingin bersalaman, dilayani. Beliau malah tidak suka pengawalan khusus. Beliau sangat egaliter, merakyat,” timpal salah seorang dekatnya.

Tamu Habib memang datang dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, anggota dewan, pengusaha, seniman, artis hingga rakyat jelata. Namun begitu beliau tak pernah membeda-bedakan. Dengan tekun Habib mendengarkan satu persatu permasalahannya untuk kemudian memberikan solusinya, sehingga mereka pun pulang dengan perasaan puas. Habib Luthfi memang seorang yang dikenal ‘gampangan’, tidak suka ruwet, apalagi neko-neko. Rumahnya 24 jam siap menerima tamu, dari orang biasa sampai pejabat. “Lha, pernah Bapak Kapolwil bertamu ke sini, malah diajak ikut rapat panitia maulid di luar. Terang saja panitianya yang kalang kabut. Tapi justru di situ nampak tidak ada perbedaan,” sambung Zakaria tertawa kecil.

Beliau pun tak segan-segan ikut mengatur hal-hal yang dinilainya belum beres, secara spontan. Misalnya mengatur barisan yang sulit diatur (untuk itu beliau rela turun dari panggung, meninggalkan para undangan dan tamu terhormat). Ketika seluruh warga Pekalongan disibukkan dengan digelarnya Pekan Batik Internasional, pada saat acara seremonial pembukaan, di mana Wakil Presiden hadir, justru Habib Luthfi memilih pergi ke Surabaya, menjadi penceramah pada peringatan haul Sunan Ampel. “Bukan apa-apa. Undangan dari panitia haul Ampel sudah lama, jauh hari sebelum undangan Pekan Batik datang,” ujar Zakaria.

Bahkan beberapa saat lalu, beliau rela harus bolak-balik Pekalongan-Semarang, demi menghadiri undangan santrinya yang kebetulan bekas napi, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. “Jadi Abah sangat menjaga. Terlebih yang mengundang adalah mantan pentolan bromocorah, yang kemudian insaf dan minta diaku santri oleh Abah. Makanya Abah begitu memperhatikan. Sampai-sampai begitu masuk Jawa Tengah, beliau dikawal dari Polwil. Selain dalam rangka menyenangkan orang (idkhalus surus), itu juga menjaga nama baik sang santri di depan masyarakat setempat,” jelas Zakaria.

Untuk itu yang mengherankan sekaligus membanggakan adalah kondisi fisik Habib Luthfi yang selalu fit meski sebagian besar waktunya terpakai untuk pergi keluar kota, demi dakwah Islam, khususnya tarekat. “Abah fisiknya luar biasa, jarang sakit meski aktivitasnya cukup tinggi, padahal makan saja tidak teratur,” komentar Ketua PCNU Kota Pekalongan H. Abul Mafachir suatu ketika, sembari menjelaskan kekagumannya, “Habib itu betah duduk berjam-jam hanya untuk sekadar ngobrol dengan para tamunya. Malah kadang, tamunya itu tidak beliau kenal,” tambahnya.

Selama 40 tahun menjadi santri Habib, imbuhnya, hal yang patut ditiru adalah keikhlasannya. “Habib Luthfi tidak pernah membeda bedakan asal muasal santri. Sehingga ratusan tamu yang datang kediamannya setiap hari, selalu dilayani dengan sabar dan penuh kesungguhan. Kadang mereka harus menunggu berhari-hari jika Habib sedang berada di luar kota,” ujarnya.

Hinggi kini, tak sedikit jabatan dan kedudukan yang diembankan ke pundaknya. Tapi itu semua tak membuat Habib merasa capek, merasa berat apalagi merasa terbebani. Jabatan yang pernah dan sedang disandangnya adalah Ketua Umum MUI Kota Pekalongan, sekaligus Ketua Umum MUI Jawa Tengah. Beliau juga dipercaya menjadi penasihat utama KBIH Assalamah Pekalongan. Di samping seorang mursyid tarekat Syadzaliyah, beliau juga didaulat menjadi Mudir Aam dari Ahlit Thariqah al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (salah satu Badan Otonom NU) selama dua periode, yaitu sejak 2000-2010 (Secara kebetulan, kedua Muktamar yang menghasilkan keputusan itu digelar di Pekalongan).

Selain itu, beliau membentuk PANUTAN (Paguyuban antar Umat Beragama Pekalongan), dan kemudian dipercaya menjadi ketuanya. Ini dilakukan melihat Pekalongan adalah satu daerah yang rawan konflik. Dikisahkan, saat terjadi aksi perusakan dan pembakaran rumah serta fasilitas lainnya miliki keturunan Cina di Pekalongan dua puluh tahun silam (tepatnya pada 20 Nopember 1995), semua kiai Pekalongan angkat tangan. Maklum saja, pemicunya adalah dirobek-robeknya Al-Qur’an oleh salah seorang keturunan Cina, yang kemudian diketahui bahwa orang itu mengalami gangguan jiwa.

Pada saat genting itulah, di saat semua tokoh kewalahan, bahkan tak mampu mengatasi keadaan, Habib Luthfi tampil dengan pernyataan singkatnya: “Saya tidak ridla kalau santri saya ikut-ikutan aksi perusakan itu.” Pada saat itu banyak kiai tersentak.”Gimana tidak kaget? Habib Luthfi membuat langkah yang melawan arus,” komentar Zakaria sambil membuka buku hariannya yang mengisahkan kejadian itu. Tapi nampaknya ungkapan beliau yang singkat itu sangat mujarab. Sejak itu, berangsur-angsur kondisi keamanan Kota Pekalongan kembali membaik.

Kalau kemudian Habib Luthfi dipercaya memegang banyak jabatan, itu karena dalam dirinya tertanam kepribadian sebagai muslim ideal. Selain memiliki jiwa kepimimpinan, beliau dikenal memiliki kapasitas keilmuan tinggi, termasuk ilmu pengetahuan umum Dikisahkan, suatu ketika beliau diminta memberi ceramah agama dalam acara berkaitan dengan dunia pertanian. Ternyata yang disampaikan bukan hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu pertanian.  “Sampai orang dinas pertanian terkagum-kagum, bahkan lalu bertanya bagaimana caranya menyuburkan kembali tanah yang terlanjur kering,” kisah Zakaria. Maka, Habib pun menjelaskan solusinya, lengkap dengan referensi ilmiah dalam ilmu pertanian. Begitu juga bidang-bidang lainnya, seperti perikanan.

Dalam satu kesempatan beliau menandaskan, baginya jabatan merupakan amanah dan tidak bisa diminta-minta. Kalau dipercaya menduduki jabatan, di mana pun tempatnya, dirinya menyatakan siap. Tidak harus jadi ketua, sehingga kalau tidak jadi orang nomor satu, emoh menjabat.. Artinya, pengabdian dan perjuangan dapat dilakukan seseorang sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

 sumber: laduni.id

Jumat, 17 Januari 2020

Sri Sultan Hamengkubuwono IX


Gusti Raden Mas Darojatun atau lebih dikenal dengan Sri Sultan Hamnengkobuwana IX, beliau merupakan sultan yang pernah memimpin di Kesultanan Yogyakarta (1940–1988) dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973 dan 1978. Dia juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Beliau juga sangat berjasa karena beliau pernah menyumbangkan kekayaannya sekitar 6.000.000 Gulden, baik untuk membiayai pemerintahan, kebutuhan hidup para pemimpin dan para pegawai pemerintah lainnya. 

Sumber:  Minggu Abadi, 16 agustus 1959. Koleksi Surat Kabar Langka terjildi Perpustakaan Nasional RI (KJIL-Team)

"Orang yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca karena membaca itu sumber hikmah; menyediakan waktu tertawa karena tertawa itu musiknya jiwa; menyediakan waktu untuk berpikir karena berpikir itu pokok kemajuan; menyediakan waktu untuk beramal karena beramal itu pangkal kejayaan; menyediakan waktu untuk bersenda-gurau karena bersenda itu akan membuat muda selalu; dan menyediakan waktu beribadah karena beribadah itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa."

(Kata Mutiara, Anonim)