Pages

Kampus SMP Islam Watulimo

Jl. Raya Pantai Prigi, Gg. Masjid Jami' Slawe - Watulimo -. Trenggalek

Gedung Laboratorium

Laboratorium IPA, Perpustakaan Sekolah dan Ruang Kelas

Dewan Asatidz

Sebagian Dewan Asatidz/Dzah SMP Islam Watulimo

Laboratorium Komputer

Ruang dan Sarana Prasarana LAB KOMPUTER SMP Islam Watulimo

Tim Lomba Jelajah Santri

Lomba Jelajah Situs Sejarah Santri Trenggalek Tahun 2019.

Tim Drum Band

Tim Parade Drum Band "GITA BAHANA SMIWA" SMP Islam Watulimo.

Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo

Pelantikan Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo Masa Bhakti 2019/2020.

Tim Paduan Suara

Paduan Suara pada Kegiatan APEL AKBAR Ansor-Banser se Kabupaten Trenggalek di Pantai Prigi.

Pramuka Kita

Pelantikan Pramuka Penggalang Rakit dan Terap SMP Islam Watulimo.

LJS3T 2019

Juara Umum 3 Putri LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

LJS3T 2019

Juara Harapan Putra LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

Gedung Sekolah

Kampus SMP Islam Watulimo tampak dari arah Timur.

Study Tour

Study Tour Kelas IX ke Candi Borobudur Jawa Tengah.

OSIS dan DEGA

OSIS dan DEGA SMP Islam Watulimo ikut menjadi Panitia PERGAMA SAKOMA Koortan Watulimo.

STOP NARKOBA

SMP Islam Watulimo; Narkoba NO Prestasi YES.

KEMAH BHAKTI

KEMAH BHAKTI dan Perkemahan Pisah Tahun 2019-2020 di Buper Damas Karanggandu.

Masjid di Sekolahku

Masjid Jami' Nurul Iman Slawe yang berada satu lokasi dengan Sekolah.

Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teladan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Januari 2020

KHIDMAH (PENGABDIAN DIRI)


Tiap kali ada jam kuliah dengan Pak Said Agil Husein Munawwar, aku memang selalu excited. Mengapa? Karena setiap kali masuk kelas, aku selalu dibuatnya terheran dengan beliau yang tidak pernah membawa buku apapun ke dalam ruangan. Lebih-lebih hampir tidak pernah melihat hp, kecuali jika ada kebutuhan untuk mengirim kitab dalam bentuk pdf ke salah satu kontak kami.

Dalam perkuliahan yang berlangsung siang hari tadi, saya tidak tertarik untuk menanyakan perihal materi. Justru saya tergelitik untuk bertanya bagaimana metode balajar yang beliau gunakan dulu, sehingga dalam membeberkan materi benar-benar bisa dipahami dengan jelas, menyeluruh, kongkrit, dan komprehensif.

"Bapak dulu belajarnya bagaimana? Kok bisa sampai hafal semuanya?"

Yang saya tangkap dari jawabannya, setidaknya ada tiga hal yang selalu beliau pegang selama proses pengembaraannya: pertama, khidmah kepada guru. Kedua, menghabiskan waktu di perpustakaan. Ketiga, mempelajari semua tipologi (fan) keilmuan tanpa pernah membeda-bedakan, dalam artian tidak hanya fokus pada jurusannya.

Dari ketiga alasan itu, aku cenderung tertarik untuk menulis jawaban yang pertama. Said Agil Munawwar ketika kuliah di Makkah sudah memiliki istri dan empat anak. Kendati demikian, ia tak lekang menghabiskan waktu untuk ngangsu kaweruh dengan ulama-ulama Makkah. Ia mengaji di rumah gurunya yang sudah tua renta dan tidak memiliki istri (entah sudah meninggal atau memang membujang, beliau tidak menjelaskan).

Sebelum pengajian dimulai, terkadang ia melakukan hal-hal kecil untuk gurunya, seperti membuatkan teh, makanan, menuntunnya ketika hendak berpindah tempat, dan segala hal yang bisa dilakukannya, karena tidak adanya orang lain di rumah tersebut. Bahkan, ketika ia sudah sampai rumah gurunya, sementara sang guru masih berada di luar, ia terkadang membereskan rumahnya. Karena rumah tersebut tidak pernah dikunci, dan Said Agil pun sudah mendapatkan izin untuk masuk ke rumahnya sekalipun tidak ada penghuninya di sana.

Ketika di kampus, sebelum gurunya datang, ia terkadang stand by di depan menunggunya. Begitu gurunya tiba, ia membawakan tasnya dan menuntunnya sampai ke ruangan. Seperti biasa, ia juga membuatkan 'unjukan'. 

Melihat sikap Said Agil yang seperti itu, gurunya bertanya:

 

"Agil, kamu itu Doktor. Mengapa kamu membawakan tas saya?"

Said Agil hanya terdiam. Ia meyakini, bahwa pangkat akademik tak lebih penting dibanding khidmah (pengabdian) murid kepada seorang guru.

Said Agil mengidolakan gurunya yang tidak pernah membawa buku apapun kemana-mana. Menurutnya, ilmu ibarat air yang mengalir. Semua buku yang sudah dibaca harus bisa mengalir dalam pikiran. Oleh karenanya, tiap kali mengajar ia memang sama sekali tidak pernah membawa buku apapun. Akan tetapi semua disiplin keilmuan mampu dipaparkannya dengan 'sharih'. Spesifikasi Fikih dan Ushul Fikih yang ditempuhnya, tak membuatnya abai dengan disiplin keilmuan lain. Sederhana saja, beliau mengajar kami Studi Kritis Ulum Al-Quran. Akan tetapi, kedalaman ilmunya pun mencakup Hadits (riwayah & dirayah), linguistik, bahkan terkadang merembet kepada ilmu yang tidak ada kaitannya, seperti kedokteran, dsb.

"Semua itu berkat doa dari guru-guru saya."

Siapa sangka, di tengah keadaan flashback masa studinya gara-gara pertanyaanku, beliau menitikkan air mata ketika menceritakan moment saat ia dicium oleh gurunya, sebagaimana ia mencium gurunya tiap kali bersua.

"Suatu saat nanti kamu akan seperti saya." Begitu doa gurunya.

Keyakinanku semakin menguat, bahwa seorang murid yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk melayani gurunya, justru disitulah keberkahan akan dapat direnggut dengan mudah, cepat atau lambat. Beruntunglah, para pengabdi Kiai!

Sumber : Akun FB M.n. Ulya

Jumat, 03 Januari 2020

YANG PALING RENDAH HATI

Suatu ketika Muhammad Rasulullah dan para sahabatnya baru saja tiba dari sebuah perjalanan yang cukup jauh. Kemudian mereka memutuskan untuk beristirahat dan memotong seekor kambing untuk makan malam. 

“Aku yang akan memotong kambingnya!” Ujar seorang sahabat. Antusias.

Sahabat yang lain menimpali, “Aku yang akan mengulitinya!”

Sahabat yang ketiga tak mau kalah, “Kalau begitu aku yang akan memasaknya!”

Sahabat keempat tak mau kehilangan kesempatan untuk melayani Rasulullah, “Aku akan…”

Sebelum selesai sahabat keempat berbicara, tiba-tiba Rasulullah mengatakan sesuatu yang membuat mereka tersentak, “Aku akan mengumpulkan kayu bakar dari padang pasir,” ujarnya lembut.

Tentu saja para sahabat merasa kaget sekaligus heran, “Wahai baginda, wahai Rasulullah, kami tak ingin membuat Anda merasa tidak nyaman. Sebaiknya Anda beristirahat saja. Merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk melayani apapun saja yang Anda butuhkan.”

Rasulullah kemudian menjawab, “Aku tahu kalian begitu bersemangat melakukan ini semua. Tetapi Allah tidak akan senang melihat hambaNya yang membeda-bedakan antara dirinya dengan sahabat-sahabatnya, menempatkan dirinya seolah lebih tinggi dari yang lain.”

Para sahabat hanya terdiam. Kemudian Baginda Rasulullah pergi ke padang pasir, mengumpulkan sejumlah kayu bakar, lalu membawanya ke hadapan para sahabat. 

Hari-hari ini, kita perlu lebih banyak belajar dari teladan Rasulullah. Sebagai ummatnya, kita tumbuh ke arah yang berbeda. Kita sering merasa paling benar, paling berharga, paling keren, paling baik, padahal kontribusi kita untuk sesama boleh jadi yang paling kecil. Bahkan hampir tiada sama sekali.

Mari belajar untuk rendah hati.

Disadur dari : FAHD PAHDEPIE

Kamis, 12 Desember 2019

GURU NGAJI

GURU NGAJI
 
Ketika buruh ribut demo, *Guru Ngaji tetap diam* .

Ketika Guru ASN dapat ini itu, *Guru Ngaji tetap diam* .

Ketika guru Honorer ribut, krn tak dapat THR, *Guru Ngaji tetap diam* .

Ketika Guru Honorer bikin surat terbuka untuk Presiden, *Guru Ngaji tetap diam dan Istiqomah* mengajar anak didiknya.

 *Guru Ngaji diam* bukannya tidak ingin demo seperti buruh, yang meminta kenaikan upah, begitu pula ketika Guru ASN mendapatkan ini itu dari pemerintah dan Guru Honorer bikin surat terbuka untuk Presiden. 
Sebenarnya Guru Ngaji pun sama, ingin ini itu dan juga ingin dapat THR seperti yang diharapkan Guru Honorer.

Tapi Guru Ngaji menyadari, bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Dan Guru Ngaji juga menyadari, bahwa bukan besar kecilnya *Nominal* yang membuat hidup bahagia, tapi rasa syukur yang akan menjadikan hati diberikan kebahagiaan.

Karna niat dan tujuan Guru Ngaji adalah ibadah, menyebarkan ilmu dan ikhtiyar mencerdaskan masyarakat agar mempunyai moral dan ahlaqul karimah serta taat beribadah kepada Robbnya.

Guru ngaji menyadari, bhw berkeluh kesah pada manusia meski dengan surat terbuka, hanya akan menyisakan putus asa dan rasa kecewa, maka bagi *Guru Ngaji lebih baik tiap malam mengadu pada yg MAHA MENERIMA KELUH KESAH TANPA PILIH KASIH, YANG TIDAK PERNAH MEMBUAT KECEWA PADA MAKHLUKNYA.*

"Orang yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca karena membaca itu sumber hikmah; menyediakan waktu tertawa karena tertawa itu musiknya jiwa; menyediakan waktu untuk berpikir karena berpikir itu pokok kemajuan; menyediakan waktu untuk beramal karena beramal itu pangkal kejayaan; menyediakan waktu untuk bersenda-gurau karena bersenda itu akan membuat muda selalu; dan menyediakan waktu beribadah karena beribadah itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa."

(Kata Mutiara, Anonim)