Pages

Kampus SMP Islam Watulimo

Jl. Raya Pantai Prigi, Gg. Masjid Jami' Slawe - Watulimo -. Trenggalek

Gedung Laboratorium

Laboratorium IPA, Perpustakaan Sekolah dan Ruang Kelas

Dewan Asatidz

Sebagian Dewan Asatidz/Dzah SMP Islam Watulimo

Laboratorium Komputer

Ruang dan Sarana Prasarana LAB KOMPUTER SMP Islam Watulimo

Tim Lomba Jelajah Santri

Lomba Jelajah Situs Sejarah Santri Trenggalek Tahun 2019.

Tim Drum Band

Tim Parade Drum Band "GITA BAHANA SMIWA" SMP Islam Watulimo.

Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo

Pelantikan Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo Masa Bhakti 2019/2020.

Tim Paduan Suara

Paduan Suara pada Kegiatan APEL AKBAR Ansor-Banser se Kabupaten Trenggalek di Pantai Prigi.

Pramuka Kita

Pelantikan Pramuka Penggalang Rakit dan Terap SMP Islam Watulimo.

LJS3T 2019

Juara Umum 3 Putri LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

LJS3T 2019

Juara Harapan Putra LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

Gedung Sekolah

Kampus SMP Islam Watulimo tampak dari arah Timur.

Study Tour

Study Tour Kelas IX ke Candi Borobudur Jawa Tengah.

OSIS dan DEGA

OSIS dan DEGA SMP Islam Watulimo ikut menjadi Panitia PERGAMA SAKOMA Koortan Watulimo.

STOP NARKOBA

SMP Islam Watulimo; Narkoba NO Prestasi YES.

KEMAH BHAKTI

KEMAH BHAKTI dan Perkemahan Pisah Tahun 2019-2020 di Buper Damas Karanggandu.

Masjid di Sekolahku

Masjid Jami' Nurul Iman Slawe yang berada satu lokasi dengan Sekolah.

Minggu, 12 Januari 2020

BEDA-KAH "SAYYID & HABIB" ?!


Keturunan Rasulullah dari Sayyidina Husein disebut sayyid, dan dari Sayyidina Hasan disebut assyarif. 

Hasan & Husein merupakan putra Sayyida Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, di Indonesia para keturunan Rasullullah umumnya banyak yg berasal dari Husein. 
Maka disebut sayyid.

Sementara keturunan² Hasan kebanyakan menjadi raja atau pemimpin seperti di kawasan Timur Tengah dan Sebagian Afrika utara. 

لأهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم شرف، ولرسول الله صلى اللهعليه وسلم بهم مزيد عناية وقد أكثر على أمته من الوصيّة بهم والحث على حبّهم ومودتهم 

Ahlul Bait memiliki kemuliaan tersendiri, dan Rasulullah telah menunjukkan perhatiannya yg besar kepada mereka. 
Beliau berulang² berwasiat dan mengimbau agar umatnya mencintai dan menyayangi mereka.

"Gelar Habib, tidak bisa disematkan kepada setiap Sayyid". 

"Setiap habib harus sayyid, tetapi sayyid belum tentu habib". 

Seorang sayyid, tidak bisa mengatakan bahwa dirinya sendiri adalah habib. 
Pengakuan habib harus melalui persyaratan yg sudah disepakati (Rhabittah Awaliyah). 

Di antaranya cukup matang dalam hal umur, memiliki ilmu yg luas, mengamalkan ilmu yg dimiliki, ikhlas terhadap apapun, wara, zuhud berhati-hati serta bertakwa kepada Allah.
Dan yg paling penting, adalah akhlak yg baik. 

Sebab, bagaimanapun keteladanan akan dilihat orang lain. 
Seseorang akan menjadi habib atau dicintai orang kalau mempunyai keteladanan yg baik dalam tingkah lakunya.

Dari proses waktu ke waktu orang akhirnya menamakan semua keturunan Husein رضي الله عنه "sayyid" menjadi habib. 

“Padahal seharusnya tidak,” untuk membedakan bahwa habib adalah ulama.

Rabithah Alawiyah (sebuah lembaga yg mencatat silsilah keturunan sayyid di indonesia), menanggapi terkait penyebutan istilah habib yg dinilai salah kaprah.

"Makna kata habib adalah seseorang yg dicintai dalam masyarakat. 
Ciri memiliki adab dan sopan santun, serta memiliki dasar keilmuan, serta selalu mengajak ke kebaikan di setiap tempat di mana beliau berada. 
Karena itu tidak semua yg memiliki ketersambungan silsilah yg dimaksud bisa diberikan sematan habib. 

"قل لا أسألكم عليه أجرا إلا المودة في القربى".
(الشورى، ٢٣) 

"Katakanlah wahai Muhammad, tiada aku minta suatu balasan melainkan kecintan kalian pada kerabatku.” 
(Qs as Syura 23). 

Dari kutipan di atas dapat ditegaskan bahwa kaum Muslimin memang harus menghormati dan mencintai Ahlul Bait bukan saja karena kekerabatan mereka dengan Rasulullah ﷺ, tetapi juga karena Allah telah memerintahkan kepada beliau untuk berseru kepada umatnya agar mencintai kerabat beliau. 

Dengan kata lain perintah untuk mencintai Ahlul Bait merupakan perintah dari Allah. 
Rasulullah sebagai pemimpin kaum Muslimin tidak meminta balasan apa pun dari umatnya kecuali kecintaan mereka kepada keluarga dan keturunan beliau.

Sayyid Abdullah al Haddad mengingatkan agar dalam memberikan penghormatan dan kecintaan kepada Ahlul Bait, kaum Muslimin bersikap wajar dan tidak berlebih-lebihan. 

فعلى كافة المسلمين أن يعتقدوا حبّهم ومودتهم، وان يوقّروهم ويعظّموهم من غير غلوّ ولا إسراف. 

"Seluruh kaum Muslimin hendaknya memastikan kecintaan dan kasih sayang mereka kepada Ahlul Bait, serta menghormati dan memuliakan mereka secara wajar dan tidak berlebih-lebihan."

Terhadap Ahlul Bait yg menyimpang dari apa yg dicontohkan Rasulullah ﷺ, Sayyid Abdullah al Haddad mengimbau agar mereka tetap dihormati semata-mata karena mereka adalah kerabat Nabi Muhammmad ﷺ dengan tidak meninggalkan perlunya memberikan nasihat kepada mereka sebagaimana kutipan berikut: 

"Adapun mereka yg berasal dari keluarga dan keturunan Rasulullah ini yg tidak menempuh jalan leluhur mereka yg disucikan, lalu mencampur adukkan antara yang baik dan yg buruk disebabkan kejahilannya, seyogyanyalah mereka tetap dihormati semata-mata karena kekerabatan mereka dengan Nabi ﷺ . 

Namun siapa saja yg memiliki keahlian atau kedudukan untuk memberi nasihat, hendaknya tidak segan² menasihati dan mendorong mereka kembali menempuh jalan hidup para pendahulu mereka yg saleh² yg berilmu dan beramal kebajikan, berakhlak terpuji dan berperilaku luhur.

Imbauan seperti itu sebagaimana dikemukakan oleh salah seorang ulama sekaligus habib yang merupakan dzurriah Rasulullah ﷺ asal Tarim Hadramaut Yaman, yakni Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi al Haddad (1634-1720 M) dalam al Fushul al 'Ilmiyyah wal Ushul al Hikamiyyah. 

والله أعلم بالصوب 
___
📝. Salafus_sholih

KHIDMAH (PENGABDIAN DIRI)


Tiap kali ada jam kuliah dengan Pak Said Agil Husein Munawwar, aku memang selalu excited. Mengapa? Karena setiap kali masuk kelas, aku selalu dibuatnya terheran dengan beliau yang tidak pernah membawa buku apapun ke dalam ruangan. Lebih-lebih hampir tidak pernah melihat hp, kecuali jika ada kebutuhan untuk mengirim kitab dalam bentuk pdf ke salah satu kontak kami.

Dalam perkuliahan yang berlangsung siang hari tadi, saya tidak tertarik untuk menanyakan perihal materi. Justru saya tergelitik untuk bertanya bagaimana metode balajar yang beliau gunakan dulu, sehingga dalam membeberkan materi benar-benar bisa dipahami dengan jelas, menyeluruh, kongkrit, dan komprehensif.

"Bapak dulu belajarnya bagaimana? Kok bisa sampai hafal semuanya?"

Yang saya tangkap dari jawabannya, setidaknya ada tiga hal yang selalu beliau pegang selama proses pengembaraannya: pertama, khidmah kepada guru. Kedua, menghabiskan waktu di perpustakaan. Ketiga, mempelajari semua tipologi (fan) keilmuan tanpa pernah membeda-bedakan, dalam artian tidak hanya fokus pada jurusannya.

Dari ketiga alasan itu, aku cenderung tertarik untuk menulis jawaban yang pertama. Said Agil Munawwar ketika kuliah di Makkah sudah memiliki istri dan empat anak. Kendati demikian, ia tak lekang menghabiskan waktu untuk ngangsu kaweruh dengan ulama-ulama Makkah. Ia mengaji di rumah gurunya yang sudah tua renta dan tidak memiliki istri (entah sudah meninggal atau memang membujang, beliau tidak menjelaskan).

Sebelum pengajian dimulai, terkadang ia melakukan hal-hal kecil untuk gurunya, seperti membuatkan teh, makanan, menuntunnya ketika hendak berpindah tempat, dan segala hal yang bisa dilakukannya, karena tidak adanya orang lain di rumah tersebut. Bahkan, ketika ia sudah sampai rumah gurunya, sementara sang guru masih berada di luar, ia terkadang membereskan rumahnya. Karena rumah tersebut tidak pernah dikunci, dan Said Agil pun sudah mendapatkan izin untuk masuk ke rumahnya sekalipun tidak ada penghuninya di sana.

Ketika di kampus, sebelum gurunya datang, ia terkadang stand by di depan menunggunya. Begitu gurunya tiba, ia membawakan tasnya dan menuntunnya sampai ke ruangan. Seperti biasa, ia juga membuatkan 'unjukan'. 

Melihat sikap Said Agil yang seperti itu, gurunya bertanya:

 

"Agil, kamu itu Doktor. Mengapa kamu membawakan tas saya?"

Said Agil hanya terdiam. Ia meyakini, bahwa pangkat akademik tak lebih penting dibanding khidmah (pengabdian) murid kepada seorang guru.

Said Agil mengidolakan gurunya yang tidak pernah membawa buku apapun kemana-mana. Menurutnya, ilmu ibarat air yang mengalir. Semua buku yang sudah dibaca harus bisa mengalir dalam pikiran. Oleh karenanya, tiap kali mengajar ia memang sama sekali tidak pernah membawa buku apapun. Akan tetapi semua disiplin keilmuan mampu dipaparkannya dengan 'sharih'. Spesifikasi Fikih dan Ushul Fikih yang ditempuhnya, tak membuatnya abai dengan disiplin keilmuan lain. Sederhana saja, beliau mengajar kami Studi Kritis Ulum Al-Quran. Akan tetapi, kedalaman ilmunya pun mencakup Hadits (riwayah & dirayah), linguistik, bahkan terkadang merembet kepada ilmu yang tidak ada kaitannya, seperti kedokteran, dsb.

"Semua itu berkat doa dari guru-guru saya."

Siapa sangka, di tengah keadaan flashback masa studinya gara-gara pertanyaanku, beliau menitikkan air mata ketika menceritakan moment saat ia dicium oleh gurunya, sebagaimana ia mencium gurunya tiap kali bersua.

"Suatu saat nanti kamu akan seperti saya." Begitu doa gurunya.

Keyakinanku semakin menguat, bahwa seorang murid yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk melayani gurunya, justru disitulah keberkahan akan dapat direnggut dengan mudah, cepat atau lambat. Beruntunglah, para pengabdi Kiai!

Sumber : Akun FB M.n. Ulya

Sabtu, 11 Januari 2020

PEMIMPIN NU DARI MASA KE MASA



Hampir 94 tahun perjalanan Nahdlatul Ulama dalam menorehkan catatan sejarah bangsa Indonesia. Jika kita simak siapa saja pemimpin tertinggi NU dari masa ke masa dan pondok pesantren yang beliau-beliau asuh (sebagaimana grafis di bawah ini), maka dengan jelas bahwa NU lahir dan berkambang sampai kapanpun dari ruh pondok pesantren. 

Karena di dalam pesantren, manusia diajarkan memahami agama dengan baik dan sangat mendalam dari berbagai literatur ilmu keislaman yang maha luas. Di pesantren, manusia diajarkan makna menghargai manusia dan kemanusiaan. Di pesantren pula, sinergi agama dan negara terus disatukan dalam bingkai kehidupan.

Jumat, 10 Januari 2020

WALI SONGO GENERASI PERTAMA (1404-1435 M)

Diskursus Wali Songo generasi pertama telah terdapat banyak sekali versi yang berkembang oleh para pakar sejarah Islam di tanah Jawa. Dan Muhammad Romadhon MK. menyebutkan dalam bukunya yang berjudul “Melacak Jejak Syekh Subakir”, bahwa ini belum final dalam berbagai literasi yeng telah tercatat, bagaimana dengan tepat siapa Wali Songo generasi pertama yang diutus ke tanah Jawa.

Berdasarkan laporan yang diperoleh dari seorang saudagar Gujarat, India. Sultan Muhammad I mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah, yang isinya meminta untuk dikirim beberapa Ulama. Kemudian setelah dikumpulkan dan terpilihlah Sembilan orang Ulama dari beberapa bagian Negara,  setelah itu Sultan Muhammad I Sembilan orang Ulama tersebut yang memiliki keahlian diberbagai bidang, terutama dalam hal ilmu agama. Untuk diberangkatkan ke Pulau Jawa pada tahun 1404 M (808 H).

Dari kesembilan Ulama yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari negeri Rum (Turki), terpilihlah satu diantaranya sebagai pemimpin selama perjalan dan di tanah Jawa. Dialah Syeikh Maulana Malikk Ibrahim, yang merupakan ahli dalam tata Negara. Sejarah ini tertulis dalam kitab “Knzul ‘Hum” oleh Ibnu Bathutah, yang kemudian dilanjtkan oleh Syeikh Maulana Maghribi. Dan kini tersimpan rapih didalam Museum Istana Turki (Istanbul). Serta manuskrip Koprah Ferrara yang terdapat di Italia, yang saat juga mmasih tersimpan serta terjaga rapih didalam Museum Nasinal Leiden.

Berikut ini Kesembilan Wali (Wali Songo) generasi pertama yang diutus untuk berdakwah di tanah Jawa versi Muhammad Romadhon MK. dalam catatannya. :

1.  Syeikh Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki (NegeriRum), ahli dalam bidang tata Negara.
2.  Syeikh Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan. Ahli didalam bidang Pengobatan.
3.  Syeikh Maulana Ahmad Jumadil Kubro, berasal dari Mesir.
4.  Syeikh Maulana Muhammad Al-Maghrobi, berasal dari Maroko.
5.  Syeikh Maulana Malik Isro’il.
6.  Syeikh Maulana Muhammad Ali Akbar, berasal dari Persia (Sekarang dikenal nama Iran). Ahli dalam bidang Pengobatan.
7. Syeikh Maulana Hasanudin, berasal dari Palestina.
8. Syeikh Maulana Aliyuddin, berasal dari Palestina.
9.  Syeikh Maulana Subakir, berasal dari Iran. Ahli dalam menumbali daerah angker yang dihuni oleh Jin-jin jahat di tanah Jawa (Ahli Ruqyah).

Kesembilan Wali diatas merupakan Wali Songo generasi pertama dalam catatan Ibnu Bathutah, yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari negeri Rum atau sekarang kita kenal dengan Negara Turki,yang ketika itu tercatat pada tahun 1404 M/808 H untuk berdakwah menyebarkan Islam di Nusantara dengan cara yang diajarkan sebagaimana Rasulullah SAW yang Rahmatan Lil’alamiin, mmengayomi dan tulus penuh cinta. Yang diawali dari tanah Jawa. Adapun keterangan lain Wali yang pertama kali menginjakkan kakinya di Nusantara adalah di tanah rencong, Aceh.

Semoga dapat membawa manfa’at dan pengetahuan mendalam tentang sejarah Islam di Nusantara, dan kemudian tidak kagetan lagi dengan adanya Islam Nusantara.


Pustaka :
Melacak Jejak Syekh Subakir : Riwayat Penumbalan Tanah Jawa Walisanga Generasi Pertama. M. Romadhon MK.
Cet. I,  Araska, Mei 2017. Hal. 93-95.

HIDUP BERMANFAAT WALAU TIDAK POPULER

Hiduplah seperti akar...
yang rela memberikan segalanya
meski kadang sang pohon tak pernah melihat nya

Hiduplah seperti akar
yang memberi tanpa tapi, dan tak pernah meminta kembali,

Hiduplah seperti akar
yang menjadi peran utama
meskipun tak pernah ada yang memuji nya

Hiduplah seperti akar 
yang menjadi penyebab setiap kebaikan
meskipun tak pernah ada yang memberikan penghargaan.

beliau Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

خير الناس أنفعهم للناس

"Sebaik-baiknya Seseorang diantara kalian adalah yang paling bermanfaat terhadap yang lainnya"

Duhai saudaraku. Siapapun engkau, dimanapun engkau.

Jadilah manfaat bagi sesama
yang rela berbagi, dan ikhlas memberi.
yang hadirnya menggembirakan 
dan ketiadaanya dirindukan.
Sayyidina Ali RA  berkata:

خالِطُوا الناسَ مخالطةً إن عِشْتُمْ معها حَنَّوا إليكم وإن متُّم مَعَها بَكوا عليْكم

Pergaulilah manusia dgn pergaulan, jika kau hidup dengannya engkau akan menjadi kerinduan mereka, jika kau mati akan menjadi tangisan mereka.

jika engkau tak mampu menjadi akar yang pohonnya menghasilkan banyak buah 
Maka jadilah akar yang menopang pohon yang memberi keteduhan bagi yang lelah.

jika tak mampu menjadi akar bunga yang memberikan keharuman bagi dunia 
maka jadilah akar rumput yang mengenyangkan hewan—hewan peternak.

إن لمْ تكُن وَرْدا فلاَ تكُن شوْكا

Jika kau tak mampu menjadi bunga, maka jgn lah menjadi duri.

Semoga  bermanfaat.

Sumber : Akun FB Abdillah Hamid

CARA MENAKSIR TINGGI DAN LEBAR (Bag. 1)

Menaksir adalah memperkirakan (mengira-ngira) tinggi suatu pohon, lebar sebuah sungai, arus sungai, jarak perjalanan, keadaan cuaca dan mengukur berat suatu benda.
Sekarang, yang kita bahas adalah tata cara menaksir tinggi dan lebar.

1. MENAKSIR TINGGI


A. PENGERTIAN
Menaksir  tinggi,  pohon    adalah salah   satu  kegiatan  dalam pramuka dimana seorang  peserta  didik  dituntut  untuk bisa  menaksir ketinggian sebuah pohon  dengan menggunakan media dan alat yang sederhana.

Adapun ketentuan Tehnik Menaksir tinggi Pohon adalah :
1. Dilakukan oleh dua atau tiga orang.
2. Menggunakan alat bantu meteran/ langkah dan tongkat 2 meter.
3. Perlengkapan alat tulis.

B. PELAKSANAAN
1. Salah  seorang  berdiri  di  bawah  pohon,  kemudian  melangkah ke depan sepanjang misalnya 8 meter.
2. Tepat  dilangkah  ke  8  meter  salah  seorang  tiarap  dan  membidik ujung pohon.
3. Seorang lagi memegang tongkat 2 meter melangkah secara  perlahan ke arah pohon atas perintah komando yang membidik.
4. Kalau  sudah  lurus  bidikan  antara  ujung  tongkat  dan  ujung  pohon maka pembidik teriak stop.
5. Setelah  itu  diukur  jarak  tongkat  berdiri  dengan  kedudukan  si pembidik (apabila di ketemukan panjang 3 meter)

Selanjutnya di ketemukan kesimpulan sebagai berikut :
1.  Jarak pohon dengan pembidik  : 8 meter.
2.  Panjang tongkat                      : 2 Meter.
3.  Jarak tongkat dengan pembidik : 3 Meter.
Dengan demikian hasilnya adalah : 2 X 8 : 3 = 5 1/3.
Jadi tinggi pohon diperkirakan/ ditaksir +  : 5 1/3 meter
Dengan RUMUS :  AB : AD = BC : DE

Keterangan :
AB : Jarak penaksir dengan tongkat
BD : Jarak tongkat dengan pohon
AD : AB + BD
BC : Panjang tongkat
DE : Tinggi Pohon


2. MENAKSIR LEBAR


Cara- cara menaksir lebar ( dengan ilmu ukur segitiga siku-siku) adalah sebagai berikut :
a. Tetapkan checkpoint A diseberang sungai
b. Jadikan tempat kita berdiri sebagai titik B
c. Buat sudut 90 derajat dan bergerak ke C sebanyak  x langkah ( x adalah jumlah langkah)
d. Lanjutkan melangkah ke D dengan 1/2 x langkah (1/2 x langkah adalah jumlah langkah)
e. Dari titik D buat sudut 90 derajat dan bergeraklah mundur sambil mengintai ke point A ke C
f. Tempat berdiri, berada di satu garis lurus
g. Berhenti setelah A, C, dan E berada di satu garis lurus
h. Dengan Demikian Lebar Sungai : AB = 2 DE

Rabu, 08 Januari 2020

KISAH TRAGIS LARON DAN KISAH MEREKA MENDIRIKAN KERAJAAN BERSAMA PASANGANNYA

Siapa yang akhir-akhir ini di rumahnya banyak dikunjungi laron? Hewan yang sering bikin rumah berantakan ini ternyata memiliki kisah hidup tragis lhoo... 

Eeiitsss... Tapi Ini bukan dongeng ya, ini memang kisah nyata yang akan dialami oleh para laron. 

Laron atau anai-anai atau siraru adalah siklus hidup daripada rayap. Laron merupakan rayap yang sudah dewasa dan siap kawin.

Laron yang telah dewasa akan memiliki sayap dan siap terbang pada musim penghujan. Oleh sebab itu, laron dikenal sebagai pertanda musim penghujan akan segera tiba.

Pada saat menjelang malam pada awal musim penghujan, laron-laron akan keluar untuk mencari kehangatan. Biasanya laron-laron terbang mengerumuni lampu, karena disitulah sumber kehangatannya.

Pada saat itu pula, laron-laron akan mencari pasangannya untuk dikawin. Bagi laron yang tidak mendapatkan pasangan pada malam itu juga, mereka akan mati ketika fajar telah tiba.

Laron-laron yang telah mendapatkan pasangannya akan melepaskan sayap mereka dan mereka akan pergi bergandengan untuk mencari sarang baru. Kemudian pasangan tersebut akan menjadi raja dan ratu pada sarang baru mereka.

Sang ratu, kerjanya hanya bertelur sepanjang hidupnya. Dalam setiap kali beltelur, sang ratu dapat mengeluarkan kurang lebih 30 ribu telur.Telur-telur inilah yang nantinya akan menjadi rayap.

Rayap-rayap tersebut nantinya akan menjadi prajurit dan pekerja. Rayap yang memiliki kepala besar akan menjadi prajurit. Sedangkan rayap yang memiliki ukuran yang lebih kecil akan menjadi pekerja.

Rayap prajurit bertugas untuk menjaga ratu dan menjaga sarang dari gangguan luar.

Rayap pekerja akan bertugas mencari makanan, membangun istana, menyuapi ratu, membersihkan telur dan menjaga larva.

Waktu terus berputar sampai rayap-rayap itu menjadi laron dan menjalani hidupnya seperti yang dialami induknya.

Nah... itulah kisah perjalanan laron semasa hidupnya, bagi yang rumahnya merasa terganggu dengan kunjungan laron, kamu bisa mematikan lampu dan menyimpan wadah berisi air di tengah rumah.

Sumber: Tribunlampung

"Orang yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca karena membaca itu sumber hikmah; menyediakan waktu tertawa karena tertawa itu musiknya jiwa; menyediakan waktu untuk berpikir karena berpikir itu pokok kemajuan; menyediakan waktu untuk beramal karena beramal itu pangkal kejayaan; menyediakan waktu untuk bersenda-gurau karena bersenda itu akan membuat muda selalu; dan menyediakan waktu beribadah karena beribadah itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa."

(Kata Mutiara, Anonim)