Pages

Kampus SMP Islam Watulimo

Jl. Raya Pantai Prigi, Gg. Masjid Jami' Slawe - Watulimo -. Trenggalek

Gedung Laboratorium

Laboratorium IPA, Perpustakaan Sekolah dan Ruang Kelas

Dewan Asatidz

Sebagian Dewan Asatidz/Dzah SMP Islam Watulimo

Laboratorium Komputer

Ruang dan Sarana Prasarana LAB KOMPUTER SMP Islam Watulimo

Tim Lomba Jelajah Santri

Lomba Jelajah Situs Sejarah Santri Trenggalek Tahun 2019.

Tim Drum Band

Tim Parade Drum Band "GITA BAHANA SMIWA" SMP Islam Watulimo.

Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo

Pelantikan Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo Masa Bhakti 2019/2020.

Tim Paduan Suara

Paduan Suara pada Kegiatan APEL AKBAR Ansor-Banser se Kabupaten Trenggalek di Pantai Prigi.

Pramuka Kita

Pelantikan Pramuka Penggalang Rakit dan Terap SMP Islam Watulimo.

LJS3T 2019

Juara Umum 3 Putri LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

LJS3T 2019

Juara Harapan Putra LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

Gedung Sekolah

Kampus SMP Islam Watulimo tampak dari arah Timur.

Study Tour

Study Tour Kelas IX ke Candi Borobudur Jawa Tengah.

OSIS dan DEGA

OSIS dan DEGA SMP Islam Watulimo ikut menjadi Panitia PERGAMA SAKOMA Koortan Watulimo.

STOP NARKOBA

SMP Islam Watulimo; Narkoba NO Prestasi YES.

KEMAH BHAKTI

KEMAH BHAKTI dan Perkemahan Pisah Tahun 2019-2020 di Buper Damas Karanggandu.

Masjid di Sekolahku

Masjid Jami' Nurul Iman Slawe yang berada satu lokasi dengan Sekolah.

Jumat, 31 Januari 2020

NU Men "ض" Kan Dunia

Dalam tulisan نهضة العلماء, huruf yang melintasi bola dunia yaitu huruf ض, yang paling Fashih dan benar dalm mengucapkan huruf "ض" Makhrojan wa shifatan, hanya Rosulullah Saw
انا افصح من نطق بالضاد

Yng dimaksud NU Men "ض" kan Dunia yaitu, NU sebagai jam'iyyah Diniyah berusaha menyebarkan ajaran Rosulullah Saw (Manusia paling mulia paling Fashih mengucapkan huruf "ض")
Dengan cara yang hikmah, mauidhoh Hasanah, wajadilhum billaty hiya ahsan, pendekatan sosial, ramah, santun, merangkul, menjaga tradisi, mengupayakan inovasi, menjaga NKRI.

Dengan dakwah yang seperti itu maka NU bisa diterima di penjuru Dunia, sehingga saat ini - + ada 25 PCINU.

Cerita di balik logo dan panji NU

Setelah Nahdlatoel Oelama (NU) dideklarasikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 dengan berbagai aral melintang yang ada namun berhasil dilalui, Kyai Wahab Hasbullah pun memanggil Kyai Ridlwan Bubutan Surabaya.

“Yai, jenengan kulo tugasi ndamel gambar lambang lan panji nipun NU geh. Jenengan damel sing sahe, enak didelok, mboten mboseni lan mpun ngantos niru saking lintune. Saget geh, Yai?”
“Geh yai, insya Allah .. sendiko dawuh”

Di tengah tugas berat dari Kyai Wahab Hasbullah itu, Kyai Ridlwan pun mencoba keras untuk memikirkan gambar logo yang pas untuk jadi lambang NU. Maklum, kriteria yang disampaikan Kyai Wahab Hasbullah memang cukup berat; bagus, enak dipandang, tidak membosankan dan tidak boleh meniru dari gambar dan logo simbol manapun.

Maka di tengah kebingungan, beristikhorohlah Kyai Ridwan untuk menjalankan perintah Kyai Wahab Hasbullah itu. Hingga setelah istikhoroh sebanyak 3 kali, Allah pun memberikan petunjuk kepada Kyai Ridwan “ru’ya shodiqoh” dengan ditampakkan gambar dan panji yang sekarang menjadi lambang dan logo NU itu di langit ketika beliau tidur setelah menjelankan sholat istikhoroh.

Begitu bangun, Kyai Ridwan pun menggambar apa yang beliau lihat di langit dalam mimpi beliau itu dalam sketsa kertas lengkap dengan warna hijau yang Allah berikan petunjuknya melalui mimpi beliau itu. Lalu disodorkanlah gambar sketsa panji NU itu kepada Kyai Wahab Hasbullah.

“Kok sahe yai, niru saking pundi jenengan?”
“Boten niru yai. Kan jenengan sampun dawuh boten pareng niru saking gambar pundi kemawon?”
“Ah, mboten mungkin yai. Jenengan niki mesti niru”
“Saestu yai, boten niru”
“Geh mustahil yai, wong sahene ngaten kok mboten niru”

Kyai Ridlwan pun akhirnya bercerita kepada kyai Wahab Hasbullah bahwa gambar itu adalah hasil istikhoroh beliau selama 3 hari berturut-turut hingga Allah menampakkan gambar itu di langit saat beliau mimpi dan beliau pun mencontoh persis sama di kertas yang disodorkan kepada Kyai Wahab Hasbullah.

“Lha, berarti jenengan niku lak niru tho, Yai?. Niru saking gusti Allah?”
“Hehe .. Njeh yai, pangapunten”
“Sahe pun Yai. Sakniki monggo gambar niku dipun salin ten kain, ben tambah sahe”

Sreeeeet ____________

Menurut cerita, untuk mencari kain yang hijaunya sama persis seperti yang digambarkan dalam mimpi istikhoroh itu, Kyai Ridwan pun keliling Surabaya hingga pelosok-pelosok, namun tak kunjung bisa menemukan. Hingga beliau pun baru menemukan setelah keliling di toko-toko kain di depan pasar besar Malang (pertokoan kain cina Tolaram).

Hingga setelah simbol logo NU itu disalin di kain dan dijadikan panji resmi NU, Kyai Ridlwan sebenarnya belum mengerti apa maksud dan arti dari simbol NU itu karena beliau hanya ditugasi Kyai Wahab untuk mencipta dan membuat gambar saja. Justru yang bisa mengartikan dan menjelaskan arti dari simbol dan logo NU itu secara ‘jlentreh’ adalah Kyai Wahab Hasbullah ketika beliau diundang ke istana oleh Presiden Soekarno dan diminta untuk bisa menjelaskan makna dan arti dari simbol NU itu.

“Bumi itu melambangkan kemakmuran. Hijau itu melambangkan kedamaian sebagaimana Rasulullah Saw contohkan melalui simbol serban hijau beliau. Tali tampar itu adalah simbol ikatan persaudaraan umat Islam yang kukuh. Bintang besar di atas adalah simbol dari Rasulullah Saw dan ajarannya, karena NU adalah jam’iyah ahlus sunnah wal jamaah. Sedangkan empat bintang di sampingnya adalah simbol para Khulafaur Rosyidin. Manakala empat bintang di bawah adalah simbol dari empat Imam madhab yang dianut oleh NU. Dan jika dijumlah, bintang itu semuanya ada 9, yang menyimbolkan bahwa NU adalah jam’iyah yang menjaga dan melestarikan ajaran wali songo sampai kapanpun” papar Kyai Wahab Hasbullah menjelaskan logo NU hingga membuat presiden Soekarno terpukau mendengarnya.

Maka jangan aneh jika menurut riwayat, pada tahun 1946 ketika Muktamar NU yang ke 16 diselenggarakan di Purwokerto dimana Hadlrotus Syaikh Hasyim Asyari tetap terpilih menjadi Rais Akbar Nahdlotoel Ulama, presiden Soekarno yang hadir pun menyampaikan pidatonya:

“Andai harus merangkak, saya akan tetap menghadiri acara muktamar ini, demi menunjukkan kecintaan saya pada NU”

Sreeeeet ______________

Inilah sekelumit cerita Kyai Mujib Ridlwan putera dari Kyai Ridlwan Bubutan Surabaya yang dikenal sebagai pencipta simbol dan panji NU yang menceritakan asbabul wurud simbol dan logo NU yang indah dan memiliki makna yang dalam itu.

(Kalimat نهضة العلماء
Huruf nya ada 11, kalau di ucapkan ada 6 (11+6=17)
Tampar tang melingkar seperti angka 8
Bintang yang di bawah ada 4,yang di atas 5 (45),kesimpulannya
17 Agustus (8) tahun 45)

Selamat Harlah yang ke 94 jam’iyah-ku
Tetaplah menjadi pilar bagi bangsa dan NKRI-ku
Demi kejayaan Islam dan negeri yg penuh keberkahan ini.

Li Masyayikh wa Muassis NU Laahumul Fatihah...
#milad mabruk 94, NU ku ..
Copas komentar yai mashudi.
Sumber :
Fb Amin Nur, Postingan 1 Februari 2018. Pukul 20.57.

Kamis, 30 Januari 2020

Apa Yang Engkau Banggakan?

Bahkan utk seorg yg terkenal, kaya, pernah berkuasa....

"Tak Ada yang Abadi"

Aktor terkenal yang juga mantan Gubernur California Arnold Schwarzenegger menghebohkan jagad sosial media setelah mengunggah foto dirinya yang sedang tidur di jalan di bawah "patung perunggu dirinya" di luar hotel, dan menulis dengan sedih, 'How times changed' ("Bagaimana waktu berubah").

Melalui foto tersebut, dia menyampaikan sebuah pesan bahwa penghormatan orang terhadap Anda berubah seiring berjalannya waktu.

Seperti dilansir Acek Talaud alasan dia menuliskan kalimat tersebut bukan karena dia tua, melainkan karena ketika dia jadi Gubernur California meresmikan hotel tersebut dengan "patung perunggu dirinya" di depan hotel tersebut. Pihak hotel menyampaikan ke Arnold, "Setiap saat Anda boleh datang dan ada kamar untuk Anda yang selalu tersedia". 

Namun, ketika Arnold sudah tidak menjabat gubernur lagi dan datang ke hotel tersebut, pihak hotel menolaknya dengan alasan bahwa kamar hotel sudah penuh.

Dia lalu membawa kantong tidur dan tidur di bawah "patung perunggu dirinya" dan berharap orang bisa mengambil pelajaran dari kejadian tersebut.

Arnold dengan kekayaannya bisa membeli hotel yang dia inginkan, tapi dia ingin menyampaikan pesan kepada orang-orang melalui tindakannya.

Dia memposting foto tersebut di media sosial, menyampaikan sebuah pesan bahwa ketika dia berada dalam posisi yang kuat, semua orang termasuk manajemen hotel memuji dia. Namun, saat dia kehilangan posisinya sekarang, mereka dengan mudah melupakan janji mereka kepadanya.

'How times changed'

Ya, waktu terus berubah.

Jangan percaya pada semua atribut duniawi: jabatan Anda, harta benda Anda, atau kekuasaan atau kecerdasaan Anda. Semua itu tidak ada yang abadi. 

Kecuali kehidupan setelah kematian. Kehidupan setelah kematian adalah kekal karena itu persiapkan sejak sekarang.

Dari berbagai Sumber

Selasa, 28 Januari 2020

Hemat, Cermat, dan Bersahaja dalam Bicara


Hemat, cermat, dan bersahaja  merupakan sikap perilaku mulia pramuka sebagaimana butir ke-7 Dasadarma Pramuka. Sikap ini merupakan pedoman kehidupan pramuka di mana pun berada dalam segala aspek, termasuk sikap berbicara.

Hemat dalam berbicara itu dapat dipahami sebagai sikap “tidak banyak bicara” tapi juga bukan pelit bicara. Hemat berbicara itu bernilai lebih baik diam daripada berbicara merugikan orang lain karena ucapan yang menyakitkan, menghina, merendahkan. Hemat berbicara adalah tidak obral bicara tapi berbicara seperlunya.

Orang yang hemat  berbicara itu tahu kapan perlu berbicara dan kapan harus diam, diam untuk berpikir sehingga ketika perlu berbicara, apa yang disampaikan bermakna (cermat). 

Sikap berbicara seperlunya (hemat) dan ketika berbicara-ucapannya bermakna (cermat) maka akan membentuk sikap bersahaja oleh karena perilaku yang wajar yakni menghargai, menghormati, dan tidak sombong. Bersahaja itu sikap bijak yang harus dibina dalam setiap perilaku. 

Sikap bijak itu seperti sifat padi dan air. Padi,  makin berisi makin merunduk, orang bijak karena berilmu maka bersikap merendah (bukan rendah diri). Juga, sebagaimana sifat air, yang selalu mencari tempat lebih rendah tapi bermakna maka sikap bijak adalah selalu berusaha  rendah hati, tidak sombong, menghargai dan menghormati, dan keberadaannya memberi manfaat orang di lingkungannya. 

Hemat, cermat, dan bersahaja dalam bicara itu mengamalkan pesan moral:
Maju tanpa menyingkirkan, naik tinggi tanpa menjatuhkan, menjadi baik tanpa menjelekkan, menjadi benar tanpa menyalahkan, dan menjadi hebat tanpa merendahkan orang lain.

Semoga bermanfaat!

Sabtu, 25 Januari 2020

SMIWA DELEGASIKAN SISWANYA IKUT MAKESTA IPNU-IPPNU DI RANTING PAKEL

SMIWA Online - Jum'at, 24 Januari 2020 SMP Islam Watulimo mendelegasikan Siswanya untuk mengikuti Pengkaderan dalam kegiatan Masa Kesetiaan Anggota yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Pakel. 

Kegiatan MAKESTA dilaksanakan selama 2 hari 1 malam yaitu mulai hari Jum'at, 24 Januari 2020 dan berakhir hari Sabtu, 25 Januari 2020 dengan mengambil lokasi/tempat kegiatan di MI Pakel Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Delegasi SMP Islam Watulimo tersebut terdiri dari 2 siswa putra dan 2 siswa putri, yaitu : Muhammad Helmi Fuadurrohman, Fakhruddin Syahrul Ayyumi, Nilna Rohmatul Azizah dan Diana Emi Mastura yang kesemuanya merupakan siswa kelas VIII. 


Materi dalam MAKESTA antara lain; Aswaja/Ke-NU-an, Ke-IPNU-IPPNU-an, Leadership/Kepemimpinan, Keorganisasian dan Wawasan Kebangsaan/Ke-indonesiaan. 

Dari kegiatan MAKESTA ini nantinya diharapkan Delegasi SMP Islam Watulimo bisa meningkatkan kompetensi nya dalam mendewasakan diri menjadi pemimpin dikelasnya terutama dalam berorganisasi di sekolah. 

Semoga dengan keikutsertaan dalam MAKESTA ini mampu menginspirasi siswa yang lainnya untuk berlatih dalam belajar, berjuang dan bertaqwa. Salam 3B (MY).

"SELAMAT BELAJAR, BERJUANG DAN BERTAQWA"

Kamis, 23 Januari 2020

NU DARI INDONESIA UNTUK DUNIA

Jadi Pembicara di Pertemuan Antaragama di Vatikan, Gus Yahya Sampaikan Rencana Strategis NU 

 Jakarta, NU Online Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf dijadwalkan hadir sebagai pembicara dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Agama-agama Ibrahim di Vatikan, Selasa-Jumat (14-17/1). 

Dia menjadi salah satu dari enam tokoh wakil dunia Islam yang diundang untuk memberikan kontribusi pemikiran tentang gerakan bersama untuk perdamaian dunia. Dalam pertemuan itu, Gus Yahya sendiri akan membawa wawasan-wawasan tentang cita-cita peradaban mulia yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. 

Selain itu, dia juga menyampaikan rencana-rencana strategis yang telah dibangun di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) seperti Deklarasi Nahdlatul Ulama ISOMIL 2016, Deklarasi Global Unity Forum I GP Ansor 2016, Deklarasi GP Ansor Tentang Humanitarian Islam 2017, Manifesto Nusantara GP Ansor, 2018, dan Hasil-hasil Musyawarah Nasional Alim-Ulama Nahdlatul Ulama di Kota Banjar, Jawa Barat 2019.    

“Dialog Antaragama tidak boleh lagi hanya berhenti dengan bertukar kata-kata manis dari kutipan-kutipan kitab suci dan pernyataan tokoh-tokoh suci. Sudah terlalu lama umat manusia menunggu para tokoh agama bicara sejujur-jujurnya tentang masalah-masalah yang nyata-nyata sedang menimpa umat manusia dewasa ini, termasuk permusuhan dan konflik yang bengis di antara kelompok-kelompok berbeda agama,” kata Gus Yahya dalam rilisnya yang diterima NU Online, Senin (13/1). 

Gus Yahya menambahkan, pada hakikatnya agama diturunkan sebagai anugerah Tuhan untuk menolong umat manusia dalam mencari jalan keluar dari masalah-masalah mereka. Namun karena kelemahan dalam sifat dasar manusia, agama dalam perjalanan sejarahnya kemudian direduksi para pemeluknya menjadi sekadar identitas kelompok dan dijadikan alasan untuk bersaing dan bertarung melawan kelompok yang dianggap berbeda identitasnya.  

“Pada titik itulah, agama menjadi sumber konflik. Sebab itu, kita harus memerdekakan agama dari jerat posisi sebagai sumber masalah dan mengembalikannya kepada tujuan hakiki sebagai landasan untuk memecahkan masalah,” jelas mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini.    

 Pertemuan ini diinisiasi oleh Multi-Faith Neighbours Network (Jaringan Tetangga Antaragama), sebuah organisasi Amerika yang diawaki Imam Mohamed Magid. Magid adalah Imam Eksekutif All Dulles Area Muslim Society (ADAMS) Center (Pusat Komunitas Muslim Wilayah Dulles) di Sterling, Virginia, Amerika Serikat. Selain itu, ada Pastor Bob Roberts, pendiri Gereja Northwood di Keller, Texas, AS; dan Rabbi David Saperstein, Presiden World Union for Progressive Judaism (Perserikatan Yahudi Progresif Seluruh Dunia).  Penyelenggara acara mengatakan, partisipasi Gus Yahya dalam pertemuan ini mutlak diperlukan. Dalam surat undangannya kepada Gus Yahya, Pastor Bob Roberts atas nama Multi-Faith Neighbours Network mengatakan bahwa “Kepemimpinan Anda yang mendunia dalam humanitarian Islam dan kegigihan Anda untuk mewujudkan tindakan-tindakan nyata akan sangat memperkaya Abrahamic Faiths Initiative serta implementasi dan dampak globalnya.” 

Hal senada juga disampaikan Duta Besar Keliling Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama, Samuel D Brownback. Disebutkan, dia meminta secara langsung kehadiran Gus Yahya dengan mengirimkan surat pribadi. Dalam suratnya, Brownback mengatakan “Adalah harapan terbesar saya bahwa Anda dapat bergabung dengan kami untuk mendiskusikan agama-agama kita sebagai landasan menuju perdamaian. Upaya yang akan kami lakukan hanya mungkin terwujud dengan kehadiran Anda.” Dari kalangan Islam, selain KH Yahya Cholil Staquf, akan hadir Syaikh Abdul Karim Khasawneh, Grand Mufti Yordania; Syaikh Abdullah Bin Bayah dari Dewan Fatwa Uni Emirat Arab; Sayyed Yousif Al Khoei, Direktur Pusat Studi Akademik Syiah di Inggris; Imam Hassan Qazwini dari Institut Islam Amerika di Michigan; dan Dr Ingrid Mattson, profesor dari University of Western Ontario, Kanada.

Sumber : NU Online

Siapakah Ibu Nyai Sinta Nuriyah?


Dr. Dra. Hj. Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum, perempuan kelahiran Jombang, 8 maret 1948, ia adalah istri dari presiden Indonesia ke empat dan tokoh pejuang NU yaitu KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Ia mengenyam pendidikan pertamanya di Sekolah rakyat, Jombang. Kemudian melanjutkan pendidikannya di Madrasah Muallimat (4 tahun) Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Setelah selesai ia pun melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Syari’ah (jurusan Qodlo’) IAIN Suanan Kalijaga, Yogyakarta. Dan ahirnya melanjutkan S2 di Universitas Indonesia program kajian wanita.

Setelah selesai S1, Sinta menikah dengan KH Abdurrahman Wahid, putra pertama dari KH. Abdul Wahid Hasyim putra dari KH. M. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama. Yang waktu itu Abdurrahman Wahid masih berada di luar negeri, untuk menyelesaikan studynya, dan ia pulang pada tahun 1971.

Pasangan suami istri ini dianugerahi empat putri, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, Zannuba Arifah Chafsoh Wahid, Anita Hayatunnufus Wahid, Inayah Wulandari Wahid.

Untuk beberapa waktu (tahun 1972 Sampai 1980) pasangan ini mengarungi kehidupan di Pesantren Manba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang untuk mengajar. Selain di Denanyar, mereka juga mengajar di pesantren Tebuireng dan pesantren Darul Ulum, Rejoso, Jombang.

Baru setelah tahun 1980 mereka sekeluarga pindah ke Jakarta. Di kota metropolitan itulah, Shinta mulai bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah keluarga, “Zaman”, kemudian majalah pria “Matra”.

Keperduliannya dalam bersosial hususnya dalam urusan gender, mengantarkannya untuk mengikuti banyak organisasi kewanitaan, antara lain: Muslimat NU, KNKWI (Komisi Nasional Kedudukan Wanita Indonesia), KOWANI (Kongres Wanita Indonesia). Ia juga aktif dalam melakukan bimbingan rohani di rumah tahanan. Ia juga ditunjuk sebagai dewan penasehat KOMNAS HAM.

Selain itu ia merupakan pendiri Yayasan Puan Amal Hayati yang bergerak dalam bidang advokasi dan konseling terhadap perempuan dan anak korban kekerasan. Dan juga Pendiri Yayasan al-Munawaroh (bergerak pada pemberian bantuan dana/ beasiswa kepada anak sekolah, keluarga tidak mampu, para penyandang cacat, dan korban bencana), tahun 1996

Banyak hal yang dialami oleh Ibu Shinta, salah satu kejadian pada awal semester dua program pasca sarjananya, ia mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan terbatasnya gerak dan aktifitas fisiknya. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat belajarnya.

Selama satu semester ia di tandu dari lantai satu ke lantai empat oleh staf universitas karena Pada saat itu lift gedung mengalami kerusakan, Di tengah-tengah kuliah mengenai perempuan dan gender itulah Ibu Shinta dan kawan-kawan justru merasakan betapa tidak enaknya menjadi perempuan.

“Bahkan kata teman saya yang juga alumni Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dan sama-sama kuliah di Kajian Perempuan: “jadi perempuan kok runyem begini, ya.”Padahal Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk selalu memuliakan perempuan.’”

Dari situlah kemudian lahir Forum Kajian Kitab Kuning (FK3), dari forum ini kemudian banyak menghasilkan karya-karya yang disarikan dari kitab-kitab kuning yang membahas tentang gender.

 Diantara karyanya yaitu berjudul Kembang Setaman Perkawinan dan juga Wajah Baru Relasi Suami-Istri hasil dari Analisis Kritis Kitab ‘Uqud Al Lujjayn fi bayani huququ al-zaujain karya Syekh Nawawi al Bantani, yang diterbitkan oleh Kompas pada tahun 2005 dan  LKiS Yogyakarta pada tahun 2001.

Dari pengalaman-pengalaman yang ia rasakan mendorongnya untuk terus mengkampanyekan kerukunan dan kasih sayang sesama manusia, sesama anak bangsa. Dengan berbagai program-program Pluralisme dan kemanusiaan.

Salah satu bentuk kegiatannya yaitu dengan sahur keliling, acara ini sangat menarik karena bukan hanya umat islam yang ikut dalam acara ini tetapi juga dari warga non muslim.

Dalam penuturannya “kegitan ini juga kami lakukan di berbagai tempat, di masjid-masjid, di halaman klenteng, di halaman gereja, kolong jembatan, di tengah pasar dan lain sebagainya”. Selain untuk mempertajam keimanan, kegiatan ini juga salah satu upayanya untuk menjaga kerukunan, kesatuan dan persatuan bangsa.
 
Dan pada 18 Desember 2019, Ibu Sinta Nuriyah Wahid pun dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta Untuk semua kerja kemanusiaan yang telah Shinta Nuriyah lakukan.  

Sumber: Sari Draft Pidato Ilmiah Penganugerahan Doktor Honoris Causa Shinta Nuriyah

Rabu, 22 Januari 2020

Mbah KH. Dimyati Selopuro, Waliyullah dari Blitar Jawa Timur


KH. Dimyati atau dikenal dengan panggilan Mbah Dim bahkan ada yang menyebut beliau dengan nama Kyai Pendito karena kelebihan dan karomah yang dimiliki.

Mbah Dimyati adalah seorang ulama yang lahir pada tahun 1921 M di Dusun Baran, Desa Ploso, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar.

Mbah Dim adalah anak dari KH. Hasbullah, yang konon KH Hasbullah adalah keturunan Sunan Geseng murid Sunan Kalijaga.

Ayah KH. Dimyati dikenal sebagai Kyai Nalindra yakni seorang ksatria yang merangkap sebagai kyai dan pejabat. KH Hasbullah pernah menjadi legislatif dan Kepala Desa Ploso.

Mbah Dim kecil dikenal sebagai anak yang berbeda dari teman sejawatnya, beliau dikenal sangat pendiam dan gemar menyendiri.

Mbah Dim ketika kecil juga dikenal sebagai anak yang tidak pernah melepaskan kopyah serta rajin mengaji kepada ayahnya sendiri yakni KH. Hasbullah.

Menurut cerita masyarakat, Kyai Hasbulloh pernah membelah sebuah semangka dan berkata, “Di antara anak-anakku ada salah satu yang kelak dapat membelah pintu langit”, yang dimaksud KH. Hasbullah adalah Mbah Dimyati.

Setelah menamatkan Sekolah Rakyat (SR), Mbah Dimyati melanjutkan belajarnya di Pondok Pesantren Lirboyo di bawah asuhan Romo Kyai Abdul Karim.

Mbah Dimyati adalah santri kesayangan Romo Kyai Abdul Karim. Kedatangan Mbah Dimyati kecil seakan menjadi pelipur lara, karena putra beliau Gus Nawawi meninggal dunia di tanah suci Makkah.

Mbah Dimyati nyantri di Lirboyo selama sebelas tahun. Sebagai seorang santri Mbah Dimyati dikenal sebagai sosok yang rajin dan istiqomah baik itu mengaji, menjalankan setiap amaliyah dan perintah sang guru yakni Romo Kyai Abdul Karim.

Mbah Dimyati juga dikenal sebagai santri yang sangat betah membaca wirid di belakang Romo Kyai Abdul Karim hingga sang guru menyelesaikan wiridnya.

Di pagi buta Mbah Dimyati selalu melayani sang guru menatakan gamparan, menyalakan lampu sambil menunggu sang guru balik ke ndalem lagi.

Ada beberapa cerita dari KH. Mahurin dari Nganjuk bahwa Mbah Dimyati seringkali tiba-tiba datang memberi makanan dengan lauk pauk lengkap yang tidak mungkin ada di waktu malam.

Cerita unik juga disampaikan oleh KH Imam Hanafi Kaniten Mojo, Mbah Dimyati ketika menerima kiriman dari ayahnya maka langsung digunakan untuk memasak semua dan temannya diajak untuk makan bersama.

Namun setelah itu Mbah Dimyati tidak makan setelah beberapa hari, dan bertahan dengan hanya minum air.

Konon ketika masih mondok di Pesantren Lirboyo, Mbah Dimyati pernah menemukan granat sisa-sisa peperangan zaman penjajahan Belanda di sekitar pondok.

Mbah Dimyati penasaran akhirnya granat tersebut dibawa pulang ke pondok untuk diotak-atik di dalam kamar.

Tidak disangka tiba-tiba granat tersebut meledak hebat hingga kamar hunian Mbah Dim hancur berkeping-keping, namun anehnya Mbah Dimyati tidak mengalami luka sedikitpun, inilah karomah Mbah Dimyati yang tampak semenjak masih jadi santri.

Setelah dewasa Mbah Dimyati menikah dengan Bu Nyai Rufiah dari Desa Batokan. Bersama Nyai Rufiah beliau dikarunia putra bernama Mahfud.

Kemudian Mbah Dimyati menikah dengan Nyai Munawarah dan dikaruniai keturunan yakni Lailatul Badriyah. Ngatiqullah, Umi Mukarromah, dan Barroh.

Mbah Dimyati mengawali pengabdiannya di kampung halamannya dengan mengajar sekolah diniyah dan mengajar mengaji Al-Qur’an serta beberapa kitab.

Mbah Dimyati dikenal sebagai pengajar yang unik, beliau mengajar tidak dengan metode memaknai kitab kemudian diterangkan, melainkan dengan menggunakan metode ruhaniyah atau metafisik, yaitu dengan isyarat-isyarat.

Diceritakan oleh santri bernama Nafisah, setiap akan ganti bab dalam pelajaran maka berbeda ujiannya. Nafisah saat itu disuruh pergi sendiri di sebuah kolam yang sepi dan sunyi.

Di sana Nafisah diminta untuk merenungkan akan hidupnya selama ini. Apabila sudah dinyatakan lulus dari ujian tersebut, maka yang bersangkutan dianggap memahami pasal (bab) yang diajarkan, kemudian dapat melanjutkan ke bab berikutnya.

Walaupun Mbah Dim telah wafat, banyak satri-santri Mbah Dimyati tetap menjalankan amaliyah yang diajarkan oleh beliau. Bahkan para santri merasa tetap disowani ke rumahnya masing-masing seakan-akan beliau masih hidup.

Suatu ketika saat keponakan Mbah Dimyati yang bernama Kiai Ayub Ismail akan meninggal,  Mbah Dimyati meminta Ibu Nafisah untuk memasakkan ingkung kemudian memintanya memberikan kedalemnya Kiai Ayub. Ternyata makna dari perintah ayam ingkung adalah Kiai Ayub meninggal dunia.

Mbah Dimyati dikenal sebagai tokoh yang melayani masyarakat tanpa memandang bulu. Setiap harinya kurang lebih seratus orang datang dan sowan untuk meminta barokah dan ijazah kepada Mbah Dimyati.

Mbah Dimyati adalah ulama zuhud yang meninggalkan kemewahan dunia. Kesehariannya hanya digunakan untuk mengabdikan diri pada Allah SWT.

Mbah Dimyati juga sosok yang sangat ikhlas, sabar dan tawadhu’, serta santun. Setiap beliau sowan ke Lirboyo, ketika diberi jamuan makan, maka beliau sendiri yang membersihkan meja dan mencuri piring sendiri.

Mbah Dimyati juga senang menziarahi makam auliya’ dan guru-guru beliau, dan yang paling penting bagi Mbah Dimyati adalah menziarohi makam kedua orang tuanya dan gurunya.

Mbah Dimyati dikenal memiliki sifat bashiroh dan ilmu laduni, beliau sering mengetahui suatu hal sebelum dijelaskan, dan menjawabnya dengan menggunakan isyarat-isyarat sebelum kejadian.

Hal itu bisa dilihat saat wafatnya Gus Ngatiq, Mbah Dimyati membuat kuburan kecil. Bahkan ketika  ibunya Ny. Hj. Maryam ketika towaf dan terjatuh, tiba-tiba Mbah Dimyati membantu  ibunya.

Sontak ibunya kaget “lho le, kog ono ndek kene?” (Loh Nak, kok ada di sini?). Padahal saat itu Mbah Dim tidak ikut melaksanakaan ibadah haji bersama ibunya.

Mbah Dimyati wafat pada tahun 1989 dalam usia 68 tahun, sebelum wafat. Keharuman namanya dikenal dan abadi hingga kini, banyak peziarah yang berdatangan untuk mengambil barokah, karena Mbah Dimyati adalah wali kekasih Allah.

Untuk mengenang beliau sampai saat ini digelar Majelis Dzikir Kanzul Jannah "Jumpa Sehat" pada Kamis Legi malam Jum'at Pahing. 

(Foto : dok. keluarga KH Dimyati)

"Orang yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca karena membaca itu sumber hikmah; menyediakan waktu tertawa karena tertawa itu musiknya jiwa; menyediakan waktu untuk berpikir karena berpikir itu pokok kemajuan; menyediakan waktu untuk beramal karena beramal itu pangkal kejayaan; menyediakan waktu untuk bersenda-gurau karena bersenda itu akan membuat muda selalu; dan menyediakan waktu beribadah karena beribadah itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa."

(Kata Mutiara, Anonim)