Pages

Kampus SMP Islam Watulimo

Jl. Raya Pantai Prigi, Gg. Masjid Jami' Slawe - Watulimo -. Trenggalek

Gedung Laboratorium

Laboratorium IPA, Perpustakaan Sekolah dan Ruang Kelas

Dewan Asatidz

Sebagian Dewan Asatidz/Dzah SMP Islam Watulimo

Laboratorium Komputer

Ruang dan Sarana Prasarana LAB KOMPUTER SMP Islam Watulimo

Tim Lomba Jelajah Santri

Lomba Jelajah Situs Sejarah Santri Trenggalek Tahun 2019.

Tim Drum Band

Tim Parade Drum Band "GITA BAHANA SMIWA" SMP Islam Watulimo.

Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo

Pelantikan Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo Masa Bhakti 2019/2020.

Tim Paduan Suara

Paduan Suara pada Kegiatan APEL AKBAR Ansor-Banser se Kabupaten Trenggalek di Pantai Prigi.

Pramuka Kita

Pelantikan Pramuka Penggalang Rakit dan Terap SMP Islam Watulimo.

LJS3T 2019

Juara Umum 3 Putri LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

LJS3T 2019

Juara Harapan Putra LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

Gedung Sekolah

Kampus SMP Islam Watulimo tampak dari arah Timur.

Study Tour

Study Tour Kelas IX ke Candi Borobudur Jawa Tengah.

OSIS dan DEGA

OSIS dan DEGA SMP Islam Watulimo ikut menjadi Panitia PERGAMA SAKOMA Koortan Watulimo.

STOP NARKOBA

SMP Islam Watulimo; Narkoba NO Prestasi YES.

KEMAH BHAKTI

KEMAH BHAKTI dan Perkemahan Pisah Tahun 2019-2020 di Buper Damas Karanggandu.

Masjid di Sekolahku

Masjid Jami' Nurul Iman Slawe yang berada satu lokasi dengan Sekolah.

Rabu, 11 Desember 2019

Tinggalkan Hal Yang Tidak Penting


Imam Nawawi RA menyebutkan hadits ke 12 ini dari Kitab Arbain Nawawinya. Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairoh RA bahwa Nabi SAW bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْه

“Termasuk bukti bagusnya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak penting baginya.” (Hadits Hasan, HR Turmudzi).

Hadits ini merupakan bentuk Jawamiil Kalimdari Nabi SAW, kata-kata ringkas yang mengandung makna yang sangat luas. Ucapan penuh hikmah ini tidak pernah diucapkan oleh seorang pun sebelum Nabi SAW. Memang diriwayatkan dari Suhuf Nabi Syith AS dan Nabi Ibrahim AS:

“Siapa yang menganggap ucapannya adalah bagian dari amalnya (yang akan dihisab), maka akan sedikit ucapannya kecuali dalam apa yang penting baginya.”

Isi suhuf ini hanya mencakup ucapan saja, sedangkan hadits Nabi SAW di atas mencakup ucapan dan perbuatan yang tidak penting. Yang dimaksud tidak penting dalam hadits ini adalah hal yang tidak berhubungan dengan kebaikan dunia atau akhiratnya, seperti hal-hal mubah yang bukan merupakan dosa dan bukan pula suatu ibadah. Contohnya melamun, membaca buku yang tidak bermanfaat, menonton hal mubah yang tidak ada manfaatnya, gurauan yang merusak wibawa, mencari banyak harta halal yang tidak diperlukan, bercerita dengan cerita yang boleh yang tidak ada manfaat duniawi mau pun untuk akhiratnya dan banyak lainnya. Orang yang meninggalkan hal-hal ini adalah orang yang baik Islamnya.Imam Ghazali pernah menyebutkan mengenai batasan suatu hal yang dianggap tidak penting. Beliau berkata, “Batasan ucapan yang tidak penting adalah jika engkau mengatakan sesuatu yang apabila engkau tidak mengatakannya engkau tidak berdosa dan tidak pula mendapat bahaya saat itu atau di masa depan. Jika ini diucapkan, maka itu adalah bentuk menyia-nyiakan waktu“

Islam menuntut kita untuk melakukan kewajiban dan kesunahan dan meninggalkan hal yang haram dan makruh. Ada pun hal-hal mubah yang tidak menimbulkan dosa, boleh saja kita melakukannya. Sekalipun begitu, orang yang beragama dengan sempurna akan meninggalkan hal-hal mubah yang tidak penting itu, sebab itu adalah bentuk menyia-nyiakan waktu. Bukankah setiap detik dari waktu kita adalah permata yang tidak ternilai harganya?. Apabila hilang, ia tidak mungkin digantikan lagi.


Sumber : Santri Net

Selasa, 10 Desember 2019

Kisah Sufyan Ats Tsauri dan Burung Kesayangannya


Kisah ini diawali ketika Imam Sufyan ats Tsauri tinggal di rumah sahabatnya Abu Manshur. Di rumah ini pula beliau sakit dan wafat. Ketika tinggal di rumah sahabatnya itu, Sufyan mendapati seekor burung bul-bul yang ada dalam sangkar. Kemudian beliau berkata kepada Abu Manshur,” Wahai sahabatku burung ini terkurung, lebih baik kalau dikeluarkan dari sangkarnya.”

“Maaf burung bulbul ini bukan milikku sahabat. Tetapi burung itu milik anakku. Jika engkau ingin memilikinya maka akan kuberikan kepadamu,” jawab Abu Manshur.

Mendengar jawaban sahabatnya itu, Sufyan kemudian berkata,” Tidak, aku akan memilikinya kalau tidak membeli burungnya seharga 1 dinar.”

setelah berdialog akhirnya mereka berdua sepakat. Burung itu kemudian menjadi milik Sufyan Tsauri. Setelah mendapatkan burung tersebut, Sufyan kemudian melepaskannya dari sangkar.

Haripun  berganti. Burung yang dilepaskan itu ternyata tahu terima kasih. Hewan tersebut tidak ingin pergi jauh dari Sufyan Ats Tsauri. Setiap pagi burung bul-bul itu pergi mencari makan, namun sorenya pulang dan tinggal di sekitar rumah Abu Manshur. Sampai suatu saat Sufyan Tsauri meninggal dunia. Ternyata ketika diantar ke tempat pemakaman, burung bul bul itu ikut serta mengantarkan jenazah.

Setelah selesai prosesi pemakaman, burung itu tampak gelisah di atas makam Sufyan ats Tsauri. Sejak peristiwa itu burung bul bul yang pulang di rumah Abu Manshur menjadi tidak terlihat ada. Namun burung itu selalu terbang di makan Imam Sufyan ats Tsauri . Hingga akhirnya burung Bulbul ditemuklan mati dan tergelatak di atas makam imam besar itu.

Bernama lengkap Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri dikenal sebagai ulama besar.  Imam Yahya bin Ma’in mengatakan bahwa Sufyan ats-Tsauri dilahirkan pada tahun 97 H. Beliau mulai menimba ilmu sejak kecil. Banyak ulama memuji keilmuan Imam Sufyan at Tsauri ini, diantaranya Sufyan bin ‘Uyainah. Ia berkata tentang Sufyan ats-Tsauri, “Adalah Sufyan ats-Tsauri sosok ulama yang ilmu seolah-olah senantiasa terpampang di hadapannya, sehingga dia bisa mengambil apa pun yang dia kehendaki dan meninggalkan apa yang tidak dia kehendaki.”



Sumber : Ar-Rahmah Online

Senin, 09 Desember 2019

Kementerian dan Lembaga Negara


Kementerian

Nama
Lembaga
Nama



Sumber : Portal Informasi Indonesia

Abu Hurairah dan Cintanya Kepada Sang Ibu yang Enggan Masuk Islam


Bakti Abu Hurairah begitu besar kepada ibunya, harapannya agar ibunya masuk Islam, menjadi penyebab ibunya masuk Islam. Ketika Abu Hurairah sudah memeluk Islam, ibunya masih tetap berpegang pada agama nenek moyangnya.

Abu Hurairah berusaha membujuk ibunya agar mau masuk Islam, namun ibunya terus saja menolak. Suatu hari, ketika Abu Hurairah mengajaknya masuk Islam, ibunya menyebutkan kata-kata yang tidak beliau disukai tentang Rasulullah Saw.

Beliau kemudian mendatangi Rasulullah sambil menangis. Katannya kepada Rasulullah, ”Rasulallah, saya telah menyeru ibu supaya masuk Islam, tetapi dia menolak dan menyebutkan kata-kata yang tidak aku sukai tentang Anda. Karena itu, mohonkan kepada Allah agar Dia memberikan hidayah-Nya kepada ibu saya.” Rasulullah Saw. kemudian berdo’a, ”Ya Allah berikanlah hidayah kepada ibu Abu Hurairah!”. Abu Hurairah keluar dengan wajah berseri-seri karena doa Rasulullah Saw. tersebut.

Setibanya di rumah, Abu Hurairah mendapati pintu kamar ibunya masih tertutup rapat. Mendengar derap langkah Abu Hurairah, ibunya berkata, ”Berhentilah hai Abu Hurairah!”. Ia mendengar suara tumpahan air, ternyata ibunya sedang mandi.
Dia segera berpakaian dan berkerudung, lalu membuka pintu dan mengatakan, ”Hai Abu Hurairah aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Abu Hurairah kembali lagi sowan ke Rasulullah sambil menangis karena saking bahagianya. Beliau berkata, ”Ya Rasulallah sungguh saya merasa senang, Allah telah mengabulkan do’a Anda. Allah telah memberikan hidayah kepada ibu saya.” Rasulullah memuji Allah dan mengucapkan kebaikan. Abu Hurairah meminta lagi agar dido’akan, ”Ya Rasulallah, berdo’alah agar Allah membuat aku dan ibuku cinta kepada oang-orang mu’min serta membuat mereka cinta kepada kami”. Kemudian beliau berdoa’, ”Ya Allah, jadikanlah hambamu yang kecil ini (Abu Hurairah) dan ibunya cinta kepada orang-orang muknin dan jadikan orang-orang mukmin cinta kepada mereka”. Maka, tidak ada seorang mukmin pun yang tidak senang kepada Abu Hurairah, sekalipun tidak pernah bertemu dengannya.

Gambaran yang paling menakjubkan tentang kecintaan Abu Hurairah kepada ibunya adalah berita yang disampaikan oleh ’Abdullah bin Wahb dalam kitab Jami’-nya dari ’Abdullah bin Lahi’ah dari Kahlid bin Yazid dari Sa’id bin Abi Hilal, ia berkata, ”Setiap hari Abu Hurairah menemui ibunya dan berkata, ’Terima kasih untukmu, wahai ibuku. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sebagaimana engkau telah mendidikku di waktu kecil.’ Maka ibunya berdo’a, ’Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sebagaimana engkau telah berbuat baik kepadaku ketika usiaku telah senja.’”
Wallahu a’lam.

Referensi
Muslim bin Al-Hajjaj, Sahih Muslim (Beirut: Dar Al-Hadits, 1991)
Majalah Al-Sunnah, edisi 03/tahun VIII/1425 H/2004 M



Sabtu, 07 Desember 2019

PENILAIAN AKHIR SEMESTER GANJIL 2019/2020


SMIWA Online - Sabtu, 7 Desember 2019 SMP Islam Watulimo menyelenggarakan Penilaian Akhir Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020. Penilaian Ulangan semester ini dilaksanakan 2 (dua) gelombang, yakni gelombang Pagi dan Siang. 

Untuk gelombang 1 ( satu ) dilaksanakan mulai pukul 07.00 s.d. pukul 10.00 dengan Materi PAS mata pelajaran Bahasa Inggris dan Prakarya. Sedangkan gelombang ke-2 dilaksanakan mulai pukul 10.15 - 13.00 WIB. 

Sebelum pelaksanaan PAS segala administrasi yang berkaitan dengan Penilaian telah dipersiapkan Panitia PAS yang di ketuai olehi oleh Bapak Muharni, S.Pd selaku Waka Kurikulum bersama dengan Ibu Romsiatun, S.Pd selaku Kepala Tata Usaha SMP Islam Watulimo.

Peserta dari Penilaian ini adalah Siswa kelas VIIA, VIIB, VIIC, VIIIA, VIIIB, IXA, IXB dan IXC yang setiap gelombang pelaksanaanya terbagi menjadi 6 ruang. 

Alhamdulillah, pelaksanaan Ulangan berjalan dengan lancar, aman dan semoga sukses sesuai dengan harapan bersama. (MY)

Sabtu, 30 November 2019

TATA UPACARA PRAMUKA PENGGALANG

Tata Cara Upacara Pembukaan & Penutupan Latihan Pramuka Penggalang




UPACARA PEMBUKAAN LATIHAN

Perlengkapan upacara:
  1. Bendera Merah Putih
  2. Tiang Bendera (tongkat restok disambung tiga dengan tali rami)
  3. Teks Pancasila
  4. Teks Dasadarma
Pelaksana upacara:
  1. Pemimpin upacara (Pratama)    : 1 orang
  2. Pembina upacara                        : 1 orang
  3. Pengibar Bendera                       : 3 orang
  4. Pembaca Dasadarma                  : 1 orang
Persiapan:
  1. Pemeriksaan kerapian, absensi, oleh masing-masing pimpinan Regu.
  2. Pembagian tugas pelaksana dan persiapan perlengkapan upacara oleh regu yang bertugas.
  3. Pratama membentuk barisan angkare dan memeriksa kerapian barisan upacara.
Pelaksanaan Upacara Pembukaan Latihan:
  1. Laporan masing-masing Pimpinan regu kepada Pratama (sebelum laporan, Pinru paling kanan memimpin penghormatan kepada Pratama).
  2. Pratama menjemput Pembina Upacara sekaligus laporan bahwa upacara siap dilaksanakan.
  3. Pembina Upacara mengambil tempat di samping kanan belakang tiang bendera dan Pembantu Pembina berada dibelakang Pembina Upacara dalam bentuk barisan bersaf.
  4. Pembina Upacara melangkah satu langkah, penghormatan dipimpin oleh Pratama dan diikuti seluruh perserta upacara.
  5. Pratama menyerahkan Pasukan kepada Pembina Upacara, dan kembali ke tempatnya/ regunya.
  6. Pengibaran Bendera Merah Putih oleh petugas bendera, penghormatan dipimpin oleh Pembina Upacara.
  7. Pembacaan teks Pancasila oleh Pembina Upacara.
  8. Pembacaan Dasadarma oleh yang bertugas.
  9. Kata pengantar dari Pembina Upacara tentang tema atau acara latihan.
  10. Doa dipimpin oleh Pembina Upacara.
  11. Pasukan diserahkan kepada Pratama, penghormatan kepada Pembina Upacara dipimpin oleh Pratama.
  12. Pembina Upacara meninggalkan lapangan upacara dan mengucapkan terima kasih kepada Pembantu Pembina.
  13. Pratama membubarkan barisan upacara untuk mengikuti latihan.



UPACARA  PENUTUPAN LATIHAN


Perlengkapan upacara:
  1. Bendera Merah Putih
  2. Tiang Bendera (tongkat restok disambung tiga dengan tali rami)
Pelaksana upacara:
  1. Pemimpin upacara (Pratama)   : 1 orang
  2. Pembina upacara                       : 1 orang
  3. Penurun Bendera                       : 3 orang
Persiapan:
  1. Pemeriksaan kerapian oleh masing-masing pimpinan Regu.
  2. Pembagian tugas pelaksana dan persiapan perlengkapan upacara oleh regu yang bertugas.
  3. Pratama membentuk barisan angkare dan memeriksa kerapian barisan upacara.
Pelaksanaan Upacara Pembukaan Latihan:
  1. Laporan masing-masing Pimpinan regu kepada Pratama (sebelum laporan, Pinru paling kanan memimpin penghormatan kepada Pratama).
  2. Pratama menjemput Pembina Upacara sekaligus laporan bahwa upacara siap dilaksanakan.
  3. Pembina Upacara mengambil tempat di samping kanan belakang tiang bendera dan Pembantu Pembina berada dibelakang Pembina Upacara dalam bentuk barisan bersaf.
  4. Pembina Upacara melangkah satu langkah, penghormatan dipimpin oleh Pratama dan diikuti seluruh perserta upacara.
  5. Pratama menyerahkan Pasukan kepada Pembina Upacara, dan kembali ke tempatnya/ regunya.
  6. Penurunan Bendera Merah Putih oleh petugas bendera, penghormatan dipimpin oleh Pembina Upacara. (Saat penurun bendera kembali ke tempatnya tidak boleh balik kanan).
  7. Kata arahan dari Pembina Upacara tentang pelaksanaan latihan atau acara latihan berikutnya.
  8. Doa dipimpin oleh Pembina Upacara.
  9. Pasukan diserahkan kepada Pratama, penghormatan kepada Pembina Upacara dipimpin oleh Pratama.
  10. Pembina Upacara meninggalkan lapangan upacara dan mengucapkan terima kasih kepada Pembantu Pembina.
  11. Pratama membubarkan barisan upacara.

Sabtu, 09 November 2019

4 Peristiwa Istimewa Iringi Kelahiran Nabi Muhammad

Setiap datang bulan Rabi’ul Awal, masjid-masjid di Tanah Air ramai dengan peringatan Maulid Nabi SAW. Bahkan, tak hanya di masjid-masjid, tetapi juga di mushala, kediaman pribadi, sekolah, instansi pemerintahan, sampai istana, peringatan ini pun digelar. Alunan shalawat dan syair-syair cinta Rasul, serta lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an lebih sering terdengar dari sudut-sudut kampung dan pemukiman warga Muslim. 

Nilai-nilai luhur dan pesan-pesan keagamaan kembali ditandaskan para juru dakwah dan pewaris para nabi. Hal itu kian menegaskan betapa tingginya kecintaan mereka terhadap Rasulullah SAW dan betapa kuatnya keinginan mereka berkumpul bersamanya kelak pada hari Kiamat. Sebab, pada hari itu, setiap hamba akan dikumpulkan bersama orang-orang yang dicintainya, sebagaimana salah satu sabdanya, “Engkau bersama orang-orang yang engkau cintai,” (HR Al-Bukhari, Muslim, dan yang lain). Peringatan tersebut dilakukan kaum Muslimin sebagai wujud kecintaan dan penghormatan mereka terhadap Rasulullah SAW sebagai panutan alam yang sangat berjasa bagi mereka. Sebab, ia adalah sosok pembawa cahaya terang di tengah kegelapan. Ia bak oase di tengah padang pasir yang tandus. Ia pula yang mengantarkan mereka kepada pintu hidayah dan gerbang keimanan. 

Namun, muncul sebuah pertanyaan ringan, mengapa kaum Muslimin mengenang Rasulullah SAW pada hari kelahirannya, bukan pada hari wafatnya, sebagaimana tradisi haul atas wafatnya para ulama? Jawabannya sangat sederhana. Pertama, tidaklah mungkin membandingkan Rasulullah SAW dengan para ulama. Kedua, ulama atau pahlawan dikenang pada hari wafatnya setelah terlihat jasa dan perjuangannya. Sementara Rasulullah SAW sebelum kelahirannya pun, sudah membawa banyak keberkahan bagi seluruh alam. 

Sejak Nabi Adam diciptakan, nama Nabi Muhammad telah tertulis di pintu surga. Kemunculannya telah dikabarkan Taurat dan Injil. Karenanya, 12 Rabi’ul Awal menjadi titimangsa yang paling dinanti oleh seluruh penduduk langit dan bumi.   Sebagai bentuk kegembiraan atas hadirnya sosok panutan alam, tak heran pula jika beberapa kejadian langka dan mengagumkan turut mendahului dan mengiringi kelahirannya. Itulah sebabnya beliau dikenang pada hari kelahirannya. Adapun sejumlah kejadian menakjubkan yang menyertai kelahiran Nabi SAW, antara lain adalah sebagai berikut. 

Pertama, hancurnya pasukan Abrahah yang hendak menyerang Ka‘bah oleh kawanan burung Ababil. Peristiwa ini berlangsung pada tahun 571 M, tepat pada tahun kelahiran Nabi SAW. Penyerangan Abrahah sendiri dipicu oleh kecemburuannya melihat bangunan Ka’bah yang selalu ramai dikunjungi masyarakat Arab dari berbagai penjuru. Kendati sudah mendirikan gereja super megah sebagai tandingannya, namun masyarakat Arab tetap memilih berkunjung ke bangunan tua yang didirikan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut. Itulah alasannya Abrahah bertolak dari Yaman bersama pasukan bergajah untuk menghancurkan rumah Allah tersebut. 

Namun, Allah berkehendak menyelamatkan rumah-Nya. Gajah-gajah Abrahah berhenti di tempat yang dikehendaki-Nya. Saat itulah Rabbul Ka‘bah menurunkan kawanan burung Ababil dari berbagai penjuru dengan membawa batu-batu dari tanah yang membakar. Batu-batu tersebut kemudian ditimpakan dari atas ke kepala bala tentara Abrahah. Kedahsyatan peristiwa ini pun  diabadikan Al-Quran dalam surah al-Fil (5) ayat 1-5. Bahkan, hewan gajah sendiri menjadi nama surat yang mengisahkan peristiwa tersebut. (Lihat Sîrah Ibni Ishaq, Darul Fikr, Beirut, Cetatakan Pertama, halaman 59-62). 

Kedua, sebagaimana yang diungkap Makhzum bin Hani Al-Makhzumi, pada malam kelahiran Nabi SAW, istana Kisra berguncang hingga 14 ruangannya runtuh, api di negeri Persia yang selalu disembah kaum Majusi padam seketika. Padahal, sudah seribu tahun lamanya, api tersebut selalu menyala. Seiring dengan kejadian itu, air danau Sawah surut, lembah Samawah kebanjiran, sejumlah mata air mengering, sehingga membuat Kisra dan rakyatnya bingung dan kelimpungan. Dikabarkan pula, seorang kepercayan Kisra bernama al-Mubidzan bermimpi melihat unta-unta bermuatan berat menuntun kuda-kuda bagus. Unta-unta tersebut berjalan mengarungi sungai Tigris dan sungai Eufrat lalu menyebar ke sejumlah negerinya. Menurut penafsiran, sebuah peristiwa besar di penjuru Arab akan terjadi. Peristiwa dimaksud tak lain adalah kelahiran Nabi SAW. (Lihat Abu Zahrah, Khatamun Nabiyyin, [Kairo, Darul Fikr: 1425 H], jilid I, halaman 105). 

Ketiga, setelah kelahiran Nabi SAW kaum jin tak lagi bisa mengintip berita langit. Hal itu diakui oleh kaum jin sendiri, sebagaimana dilansir Al-Quran, “Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa saja yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya),” (Surat Al-Jin ayat 8-9). Padahal sebelumnya, mereka dengan mudahnya mendapatkan kabar dan perintah langit untuk kembali disebarkan kepada juru ramal dan tukang sihir. Namun setelah Nabi SAW lahir, Allah meminta langit dihalangi dari setan dan dipenuhi penjagaan malaikat, panah-panah api sehingga mereka tak lagi bisa mendengarnya. Diriwayatkan, tatkala tak bisa mengakses informasi langit, kaum jin berkumpul dan melaporkan kejadian itu kepada Iblis. Dengan cepat, Iblis mengintruksikan agar kaumnya menyebar ke seluruh bumi, dari barat sampai timur, seraya memastikan apa yang sesungguhnya terjadi. Ternyata, dari hasil pengamatan mereka, ditemukan bahwa di kota Mekah ada seorang bayi yang tengah dikerumini malaikat. Bayi itu mengeluarkan sinar dan memancar ke langit. Para malaikat pun sibuk menyampaikan salam kepada panutan alam yang baru saja dilahirkan. Begitu kejadian tersebut dilaporkan, Iblis sangat menyesalkannya. Sebab, panutan alam telah datang. Artinya, rahmat bagi umat manusia akan terlimpahkan. Sehingga pantas, menurutnya, jin dan setan dihalang-halangi naik ke langit dan mencuri informasinya. (Lihat Samia Menisi, Jin-jin Muslim Sahabat Nabi, [Jakarta, Qalam-Serambi: 2016 M], halaman 31). 

Keempat, beberapa keajaiban yang menimpa Halimah As-Sa‘diyah, ibu persusuan Nabi SAW. Kala itu serombongan wanita dari bani Sa‘id datang guna mencari bayi yang akan disusuinya demi mendapatkan upah dan bayarannya.  Termasuk Halimah yang diantar oleh suami beserta bayi mungilnya. Namun, dua hari berada di Mekah, Halimah belum juga mendapatkan bayi. Yang tersisa hanyalah bayi bernama Muhammad bin ‘Abdullah. Rupanya bayi yang satu ini tak menjadi pilihan para wanita bani Sa‘id lainnya mengingat kondisinya yang yatim, harapan mereka mendapat upah dari bekerja menyusuinya tak akan terpenuhi. Tetapi, karena tak mau pulang dengan tangan kosong, akhirnya Halimah sepakat dengan sang suami untuk mengambil bayi yatim bernama Muhammad itu. Tak diduga, begitu sang bayi diterima, dan dibuka kain bungkusnya, Halimah melihatnya penuh takjub. Wajah sang bayi yang bercahaya membuat dirinya begitu kagum karena baru itu ia mendapatkan bayi yang luar biasa. Tak sampai di situ, begitu si bayi disusui, air susu dari Halimah mengalir deras. Bahkan, unta yang ditumpangi mereka yang semula kurus seketika menjadi gemuk dan kuat menempuh perjalanan. Sejak itu keberkahan pun berlimpah, tidak hanya kepada keluarga Halimah, tetapi juga kepada kabilahnya. (Lihat Sîrah Ibnu Hisyâm, [Maktabah Syirkah Al-Babi Al-Halabi], cetakan kedua, jilid I, halaman 162). 

Itulah beberapa peristiwa menakjubkan yang menyertai kelahiran Nabi SAW. Masih banyak lagi peristiwa lainnya, seperti bersujudnya berhala-berhala, terdengar suara dari dalam Ka‘bah, ramainya burung-burung seakan memberi salam, kejadian Aminah yang sama sekali tak merasa letih setelah melahirkan Nabi SAW, datangnya para wanita mulia mendampingi persalinannya, kondisi bayi seperti yang sudah dikhitan, dan sebagainya. Itulah sekilas tentang kelahiran Nabi, beberapa peristiwa mengagumkan yang menyertainya, dan tradisi memperingatinya. Mudah-mudahan hal ini membuat kita semakin cinta dan kagum kepadanya, serta kelak hari Kiamat kita dikumpulkan bersamanya. Tentu kecintaan kepadanya tak berhenti sampai di situ, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk kecintaan kepada Allah dan ketaatan terhadap agama yang diajarkannya. Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu,” (Surat Ali ‘Imran ayat 31). Wallahu ‘alam. (M Tatam Wijaya)


Sumber :  NU Online

"Orang yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca karena membaca itu sumber hikmah; menyediakan waktu tertawa karena tertawa itu musiknya jiwa; menyediakan waktu untuk berpikir karena berpikir itu pokok kemajuan; menyediakan waktu untuk beramal karena beramal itu pangkal kejayaan; menyediakan waktu untuk bersenda-gurau karena bersenda itu akan membuat muda selalu; dan menyediakan waktu beribadah karena beribadah itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa."

(Kata Mutiara, Anonim)