Pages

Kampus SMP Islam Watulimo

Jl. Raya Pantai Prigi, Gg. Masjid Jami' Slawe - Watulimo -. Trenggalek

Gedung Laboratorium

Laboratorium IPA, Perpustakaan Sekolah dan Ruang Kelas

Dewan Asatidz

Sebagian Dewan Asatidz/Dzah SMP Islam Watulimo

Laboratorium Komputer

Ruang dan Sarana Prasarana LAB KOMPUTER SMP Islam Watulimo

Tim Lomba Jelajah Santri

Lomba Jelajah Situs Sejarah Santri Trenggalek Tahun 2019.

Tim Drum Band

Tim Parade Drum Band "GITA BAHANA SMIWA" SMP Islam Watulimo.

Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo

Pelantikan Pengurus OSIS SMP Islam Watulimo Masa Bhakti 2019/2020.

Tim Paduan Suara

Paduan Suara pada Kegiatan APEL AKBAR Ansor-Banser se Kabupaten Trenggalek di Pantai Prigi.

Pramuka Kita

Pelantikan Pramuka Penggalang Rakit dan Terap SMP Islam Watulimo.

LJS3T 2019

Juara Umum 3 Putri LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

LJS3T 2019

Juara Harapan Putra LJS3T SAKOMA Kabupaten Trenggalek tahun 2019.

Gedung Sekolah

Kampus SMP Islam Watulimo tampak dari arah Timur.

Study Tour

Study Tour Kelas IX ke Candi Borobudur Jawa Tengah.

OSIS dan DEGA

OSIS dan DEGA SMP Islam Watulimo ikut menjadi Panitia PERGAMA SAKOMA Koortan Watulimo.

STOP NARKOBA

SMP Islam Watulimo; Narkoba NO Prestasi YES.

KEMAH BHAKTI

KEMAH BHAKTI dan Perkemahan Pisah Tahun 2019-2020 di Buper Damas Karanggandu.

Masjid di Sekolahku

Masjid Jami' Nurul Iman Slawe yang berada satu lokasi dengan Sekolah.

Kamis, 12 Desember 2019

GURU NGAJI

GURU NGAJI
 
Ketika buruh ribut demo, *Guru Ngaji tetap diam* .

Ketika Guru ASN dapat ini itu, *Guru Ngaji tetap diam* .

Ketika guru Honorer ribut, krn tak dapat THR, *Guru Ngaji tetap diam* .

Ketika Guru Honorer bikin surat terbuka untuk Presiden, *Guru Ngaji tetap diam dan Istiqomah* mengajar anak didiknya.

 *Guru Ngaji diam* bukannya tidak ingin demo seperti buruh, yang meminta kenaikan upah, begitu pula ketika Guru ASN mendapatkan ini itu dari pemerintah dan Guru Honorer bikin surat terbuka untuk Presiden. 
Sebenarnya Guru Ngaji pun sama, ingin ini itu dan juga ingin dapat THR seperti yang diharapkan Guru Honorer.

Tapi Guru Ngaji menyadari, bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Dan Guru Ngaji juga menyadari, bahwa bukan besar kecilnya *Nominal* yang membuat hidup bahagia, tapi rasa syukur yang akan menjadikan hati diberikan kebahagiaan.

Karna niat dan tujuan Guru Ngaji adalah ibadah, menyebarkan ilmu dan ikhtiyar mencerdaskan masyarakat agar mempunyai moral dan ahlaqul karimah serta taat beribadah kepada Robbnya.

Guru ngaji menyadari, bhw berkeluh kesah pada manusia meski dengan surat terbuka, hanya akan menyisakan putus asa dan rasa kecewa, maka bagi *Guru Ngaji lebih baik tiap malam mengadu pada yg MAHA MENERIMA KELUH KESAH TANPA PILIH KASIH, YANG TIDAK PERNAH MEMBUAT KECEWA PADA MAKHLUKNYA.*

ASAL MULA RESOLUSI JIHAD

GENERASI MUDA NU WAJIB TAU...!!!
73 tahun silam di Hari Esok Ada Fatwa Jihad Yg di Komandani Hadrotus Syaikh Hasyim Asyari , fatwa Jihad merupakan pintu masuk adanya Resolusi Jihad 
--------------------------------
17 Agustus 1945
Siaran berita Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Surabaya dan kota-kota lain di Jawa, membawa situasi revolusioner. Tanpa komando, rakyat berinisiatif mengambil-alih berbagai kantor dan instalasi dari penguasaan Jepang.

31 Agustus 1945
Belanda mengajukan permintaan kepada pimpinan Surabaya untuk mengibarkan bendera Tri-Warna untuk merayakan hari kelahiran Ratu Belanda, Wilhelmina Armgard.

17 September 1945
Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan sebuah Fatwa Jihad yang berisikan ijtihad bahwa perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fi sabilillah. Fatwa ini merupakan bentuk penjelasan atas pertanyaan Presiden Soekarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam.

19 September 1945
Terjadi insiden tembak menembak di Hotel Oranje antara pasukan Belanda dan para pejuang Hizbullah Surabaya. Seorang kader Pemuda Ansor bernama Cak Asy’ari menaiki tiang bendera dan merobek warna biru, sehingga hanya tertinggal Merah Putih.

23-24 September 1945
Terjadi perebutan dan pengambilalihan senjata dari markas dan gudang-gudang senjata Jepang oleh laskar-laskar rakyat, termasuk Hizbullah.

25 September 1945
Bersamaan dengan situasi Surabaya yang makin mencekam, Laskar Hizbullah Surabaya dipimpin KH Abdunnafik melakukan konsolidasi dan menyusun struktur organisasi. Dibentuk cabang-cabang Hizbullah Surabaya dengan anggota antara lain dari unsur Pemuda Ansor dan Hizbul Wathan.Diputuskan pimpinan Hizbullah Surabaya Tengah (Hussaini Tiway dan Moh. Muhajir), Surabaya Barat (Damiri Ichsan dan A. Hamid Has), Surabaya Selatan (Mas Ahmad, Syafi’i, dan Abid Shaleh), Surabaya Timur (Mustakim Zain, Abdul Manan, dan Achyat).

5 Oktober 1945
Pemerintah pusat membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Para pejuang eks PETA, eks KNIL, Heiho, Kaigun, Hizbullah, Barisan Pelopor, dan para pemuda lainnya diminta mendaftar sebagai anggota TKR melalui kantor-kantor BKR setempat.

15-20 Oktober 1945
Meletus pertempuran lima hari di Semarang antara sisa pasukan Jepang yang belum menyerah dengan para pejuang.

21-22 Oktober 1945
PBNU menggelar rapat konsul NU se-Jawa dan Madura. Rapat digelar di Kantor Hofdsbestuur Nahdlatul Ulama di Jalan Bubutan VI No 2 Surabaya. Di tempat inilah setelah membahas situasi perjuangan dan membicarakan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Di akhir pertemuan pada tanggal 22 Oktober 1945 PBNU akhirnya mengeluarkan sebuah Resolusi Jihad sekaligus menguatkan fatwa jihad Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

25 Oktober 1945
Sekitar 6.000 pasukan Inggris yang tergabung dalam Brigade ke-49 Divisi ke-26 India mendarat di Surabaya. Pasukan ini dipimpin Brigjend AWS. Mallaby. Pasukan ini diboncengi NICA (Netherlands-Indies Civil Administration).

26 Oktober 1945
Terjadi perundingan lanjutan mengenai genjatan senjata antara pihak Surabaya dan pasukan Sekutu. Hadir dalam perundingan itu dari pihak Sekutu Brigjend Mallaby dan jajarannya, dari pihak Surabaya diwakili Sudirman, Dul Arnowo, Radjamin Nasution (Walikota Surabaya) dan Muhammad.

27 Oktober 1945
Mayjen DC.Hawtorn bertindak sebagai Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) untuk Jawa, Madura, Bali dan Lombok menyebarkan pamflet melalui udara menegaskan kekuasaan Inggris di Surabaya, dan pelarangan memegang senjata selain bagi mereka yang menjadi pasukan Inggris. Jika ada yang memegangnya, dalam pamflet tersebut disebutkan bahwa Inggris memiliki alasan untuk menembaknya. Laskar Hizbullah dan para pejuang Surabaya marah dan langsung bersatu menyerang Inggris. Pasukan Inggris pun balik menyerang, dan terjadi pertempuran di Penjara Kalisosok yang ketika itu berada dalam penjagaaan pejuang Surabaya.

28 Oktober 1945
Laskar Hizbullah dan Pejuang Surabaya lainnya berbekal senjata rampasan dari Jepang, bambu runcing, dan clurit, melakukan serangan frontal terhadap pos-pos dan markas Pasukan Inggris. Inggris kewalahan menghadapi gelombang kemarahan pasukan rakyat dan massa yang semakin menjadi-jadi.

29 Oktober 1945
Terjadi baku tembak terbuka dan peperangan massal di sudut-sudut Kota Surabaya. Pasukan Laskar Hizbullah Surabaya Selatan mengepung pasukan Inggris yang ada di gedung HBS, BPM, Stasiun Kereta Api SS, dan Kantor Kawedanan. Kesatuan Hizbullah dari Sepanjang bersama TKR dan Pemuda Rakyat Indonesia (PRI) menggempur pasukan Inggris yang ada di Stasiun Kereta Api Trem OJS Joyoboyo.

29 Oktober 1945
Perwira Inggris Kolonel Cruickshank menyatakan pihaknya telah terkepung. Mayjen Hawtorn dari Brigade ke-49 menelpon dan meminta Presiden Soekarno agar menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan pertempuran. Hari itu juga, dengan sebuah perjanjian, Presiden Soekarno didampingi Wapres Mohammad Hatta terbang ke Surabaya dan langsung turun ke jalan-jalan meredakan situasi perang.

30 Oktober 1945
Genjatan senjata dicapai kedua pihak, Laskar arek-arek Surabaya dan pasukan Sekutu-Inggris. Disepakati diadakan pertukaran tawanan, pasukan Inggris mundur ke Pelabuhan Tanjung Perak dan Darmo (kamp Interniran), dan mengakui eksistensi Republik Indonesia.

30 Oktober 1945
Sore hari usai kesepakatan genjatan senjata, rombongan Biro Kontak Inggris menuju ke Gedung Internatio yang terletak disaping Jembatan Merah. Namun sekelompok pemuda Surabaya menolak penempatan pasukan Inggris di gedung tersebut. Mereka meminta pasukan Inggris kembali ke Tanjung Perak sesuai kesepakatan genjatan senjata. Hingga akhirnya terjadi ketegangan yang menyulut baku tembak. Di tempat ini secara mengejutkan Brigjen Mallaby tertembak dan mobilnya terbakar.

31 Oktober 1945
Panglima AFNEI Letjen Philip Christison mengeluarkan ancaman dan ultimatum jika para pelaku serangan yang menewaskan Brigjen Mallaby tidak menyerahkan diri maka pihaknya akan mengerahkan seluruh kekuatan militer darat, udara, dan laut untuk membumihanguskan Surabaya.

7-8 November 1945
Kongres Umat Islam di Yogyakarta mengukuhkan Resolusi Jihad Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai kebulatan sikap merespon makin gentingnya keadaan pasca ultimatum AFNEI.

9 November 1945
Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai komando tertinggi Laskar Hizbullah menginstruksikan Laskar Hizbullah dari berbagai penjuru memasuki Surabaya untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan dengan satu sikap akhir, menolak menyerah. KH Abbas Buntet Cirebon diperintahkan memimpin langsung komando pertempuran. Para komandan resimen yang turut membantu Kiai Abbas antara lain Kiai Wahab (KH. Abd. Wahab Hasbullah), Bung Tomo (Sutomo), Cak Roeslan (Roeslan Abdulgani), Cak Mansur (KH. Mas Mansur), dan Cak Arnowo (Doel Arnowo).Bung Tomo melalui pidatonya yang disiarkan radio membakar semangat para pejuang dengan pekik takbirnya untuk bersiap syahid di jalan Allah SWT.

10 November 1945
Pertempuran kembali meluas menyambut berakhirnya ultimatum AFNEI. Inggris mengerahkan 24.000 pasukan dari Divisi ke-5 dengan persenjataan meliputi 21 tank Sherman dan 24 pesawat tempur dari Jakarta untuk mendukung pasukan mereka di Surabaya. Perang besar pun pecah. Ribuan pejuang syahid. Pasukan Kiai Abbas berhasil memaksa pasukan Inggris kocar-kacir dan berhasil menembak jatuh tiga pesawat tempur RAF Inggris. 

Sumber: Mukafi Niam, NU Online.

Mencari Teman Dalam Islam


MENCARI TEMAN

عَنِ الْـمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ ۞ فَإِنَّ القَرِيْنَ بِالْـمُقَـــــارِنِ يَقْتَــــــــــدِيْ

JO TAKON SONGKO WONG SIJI TAKONO KANCANE
KERONO SAKTEMENE KONCO MANUT KANG NGANCANI

فَاِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْـــــهُ سُــرْعَةً ۞ فَاِنْ كَانَ ذَاخَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَــــــــــــدِيْ

YEN ONO KONCO OLO LAKONE NDANG DOHONO
YEN ONO KONCO BAGUS ENGGAL NDANG KANCANONO

Janganlah engkau bertanya tentang kepribadian orang lain, lihat saja temannya (pergaulannya), karena seseorang akan mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya, bila temannya (pergaulannya) tidak baik maka jauhilah dia secepatnya, dan bila temannya (pergaulannya) baik maka temanilah dia, dengan kamu akan mendapatkan petunjuk.

Riwayat Memahami

Riwayat Memahami
oleh Abdullah Zuma 
--------------------------------------
“Pahamilah aku! Kamu tak pernah bisa memahamiku,” katamu suatu ketika. 

Aku kaget mendengar kata itu. Untuk beberapa saat aku  diam tak menanggapi karena tahu harus berkata apa.

Kamu diam. Menunggu aku bicara.

Setelah berapa lama diam, terpaksa aku bersuara.

“Perlu kamu ketahui,” aku mulai bicara, “kata memahami begitu menakutkan bagiku. Jangankan melakukannya, membayangkannya pun aku tak pernah. Bukan sekadar tak bisa, tapi tak mungkin bisa. Jangankan memahamimu, sudah kukatakan bahwa tentang diriku, keberadaanku, mengapa aku begini, bukan begitu, sampai saat ini aku tak paham. Juga tentang kenapa aku mencintaimu sampai saat ini aku tak memahaminya. Jangan-jangan aku mencintaimu karena memang aku tak memahami.”

Kamu diam.

“Baiklah kalau kamu kurang memahami apa yang kukatakan tadi, aku akan menceritakan riwayatku tentang memahami. Begini, saat aku berada di ruang kelas, waktu aku masih sekolah, aku sering tak paham apa yang diterangkan ibu guru. Aku hanya memandangi mimik muka, menyimak intonasi, gerak-gerik tubuhnya, tapi kata-kata yang berhamburan dari mulutnya jelas tak kupahami. Kata-katanya hanya jadi buih percuma. Jangankan memahami kata-kata orang lain, kata-kataku sendiri saja kadang aku tak paham. Aku tak pernah bertanya dan ditanya ibu guru karena bukan sekadar mungkin tapi pasti aku tak kan bisa menjawab. Aku hanya diam saja. Kawan-kawanku tidak akan menertawakan atau mencemoohku karena mereka sudah maklum dengan kebiasaanku. Aksara atau gambar yang ada di papan tulis yang dibikin bu guru terasa asing. Catatan-catatan yang aku bikin juga hanyalah sebatas catatan. Karena jika aku membacanya kembali saat waktu ujian semakin dekat, aku hanyalah membaca tanpa ada yang bisa kupahami. Maka, waktu aku mengisi sosl-soal uji
an, sungguh jarang –untuk tidak mengatakan tidak pernah-  aku membacanya, karena itu sia-sia. Aku cuma pura-pura membaca soal, bukan memahami.”

Kamu masih diam.

“Kemudian jika nilai-nilaiku ada yang bagus, sungguh itu hanyalah keberuntungan, itu adalah kebetulan belaka. Dan jika itu terjadi berkali-kali, itu adalah keberuntungan dan kebetulan yang berkali-kali, berturut-turut, berulang-ulang. Jika kau bertanya mungkinkah itu terjadi? Begitulah kenyataannya. Kadang aku juga tidak paham akan semua itu. Ada juga kemungkinan lain bahwa nilai-nilai yang tertera di rapor, dikatrol ibu guru sehingga aku layak naik kelas. Itu mungkin sekali terjadi karena dia kasihan kepadaku. Pertimbangannya adalah, percuma saja aku tak naik kelas karena dia pasti tahu tak akan ada perkembangan berarti dalam pemahamanku.”

Kamu masih juga diam.

“Kamu masih ingat video klip yang kau berikan beberapa waktu lalu itu?” 

“Oh ya. Masih ingat? Kenapa?”

“Nah, di video klip itu ada lagu yang sering kaunyanyikan. Suaramu persis dengan penyanyi aslinya. Terus terang aku menyukai dan menikmatinya. Tapi jelas aku tak bisa memahaminya. Aku sepakat dengan orang yang mengatakan bahwa menikmati tak selamanya harus memahami. Jika aku menontonnya, lagi-lagi aku tak paham gerak-gerik orang yang ada dalam gambar hidup itu, meski aku telah berjuang memahaminya. Karena itulah aku kurang suka menonton film meski kamu mengajakku beberapa kali. Percuma! Aku sangat sukar memahami gerak-gerik, alur cerita, apalagi menebak akhir dari cerita dan bagaimana nasib tokoh-tokohnya. Jika nonton bersama teman misalnya, aku sering bingung sendiri. Dia biasanya tertawa melihat adegan atau kalimat yang tentu menurutnya lucu. Dia kadang terharu, mengangguk-angguk, tersenyum, atau bahkan menangis. Apalagi film dengan bahasa asing. Terjemahan kata-katanya tak banyak membantu.”

Kamu kembali terdiam.

“Apalagi kalau berbicara tentang hidup, lebih tak kupahami! Dari satu soal saja, masalahnya bisa beranak-pinak sampai tak terhingga. Misalnya, tentang dari mana asalnya manusia, harus bagaimana seharusnya, dan akan kemana nantinya, akan berkecambah masalahnya sampai tak terhingga karena dari waktu ke waktu cara pandang orang semakin berkembang. Sungguh aku tak paham semua itu. Sudah kukatakan, jangankan tentang hidup, tentang diriku, keberadaanku, mengapa akau seperti ini bukan seperti itu, sampai saat ini aku tak paham. Sampai aku pada kesimpulan seperti ini, hidup bukan untuk dipahami dan dimengerti, tapi dijalani. Makanya aku hidup, ya hidup saja seperti ini. Aku hanya menjalani saja tanpa pernah memikirkan atau merencanakan karena aku rasa kelahiranku, keberadaanku tanpa aku pikirkan dan aku rencanakan sebelumnya. Karena itulah, aku hampir tidak pernah punya cita-cita, tujuan hidup, keinginan, berusaha mengubah diri, apalagi mengubah orang lain. Sebab semuanya ‘merasa’ ada yang sudah memikirkan dan merencanakan. Kamu jangan bertanya siapa yang memikirkan dan merencanakannya, karena aku sama sekali tak tahu! Aku hanya merasa seperti itu. Jika ingin jelas, tanyakan saja pada orang lain.”

Lagi-lagi kamu terdiam.

“Sungguh! Janganlah kamu meminta supaya aku bisa memahamimu. Itu akan sia-sia saja. Tapi kamu jangan pernah menyangka jika aku tak bisa memahamimu berarti aku tak mencintaimu. Jangan! Jangan pernah punya pikiran seperti itu. Memahami dan mencintai adalah dua hal yang sunguh berbeda. Jika ada yang menyamakan, atau mengait-kaitkan, sungguh! Itu hanya akal-akalannya saja. Tapi sekali lagi, jika yang kaupinta adalah memahami, jangankan berbicara tentang kepastian, untuk mengatakan sekadar kemungkinan pun aku masih ragu. Juga bukan sekedar ragu, tetapi aku yakin tak bisa.”

“Mungkinkah cinta tanpa memahami?” kamu sekarang bertanya setelah mendengar penjelasanku  yang entah kamu pahami, entah tidak. Terus terang sebenarnya aku juga tak paham penjelasanku sendiri. Aku hanya berusaha berkata dan seperti itulah kata-kata yang keluar.

Aku langsung menjawab, “Mungkin! Bahkan aku pikir bukan hanya sekadar ‘mungkin’, tapi pasti.”

“Seperti apakah menjalani cinta tanpa memahami?” tanyamu lagi.

“Seperti yang kita jalani sekarang ini.”

“Seperti apa yang kita jalani sekarang ini?”

“Ya, seperti ini.”

“Iya, seperti apa?”

“Aku tak paham pertanyaanmu.”

“Aku tak paham penjelasanmu.”

Kamu terdiam. Aku juga terdiam. Kamu sepertinya tak ingin bertanya lagi. Aku juga tak ingin menjelaskan lagi. Mungkin antara aku dan kmu tidak ada yang mesti dipahami lagi.


Penulis adalah Nahdliyin tinggal di Bandung, pernah nyantri di Pondok Pesantren Asy-Syarfiyah dan As-Salafiyah Nurul Hikmah Sukabumi 


Sumber : NU Online

Tentang UNBK

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) disebut juga Computer Based Test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya. Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas atau Paper Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan.

Penyelenggaraan UNBK pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 secara online dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Hasil penyelenggaraan UNBK pada kedua sekolah tersebut cukup menggembirakan dan semakin mendorong untuk meningkatkan literasi siswa terhadap TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Selanjutnya secara bertahap pada tahun 2015 dilaksanakan rintisan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 556 sekolah yang terdiri dari 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK di 29 Provinsi dan Luar Negeri. Pada tahun 2016 dilaksanakan UNBK dengan mengikutsertakan sebanyak 4382 sekolah yang tediri dari 984 SMP/MTs, 1298 SMA/MA, dan 2100 SMK. Jumlah sekolah yang mengikuti UNBK tahun 2017 melonjak tajam menjadi 30.577 sekolah yang terdiri dari 11.096 SMP/MTs, 9.652 SMA/MA dan 9.829 SMK. Meningkatnya jumlah sekolah UNBK pada tahun 2017 ini seiring dengan kebijakan resources sharing yang dikeluarkan oleh Kemendikbud yaitu memperkenankan sekolah yang sarana komputernya masih terbatas melaksanakan UNBK di sekolah lain yang sarana komputernya sudah memadai.

Penyelenggaraan UNBK saat ini menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah), kemudian ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Selanjutnya hasil ujian dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online (upload).


Sumber : UNBK Kemdikbud

Rabu, 11 Desember 2019

Tinggalkan Hal Yang Tidak Penting


Imam Nawawi RA menyebutkan hadits ke 12 ini dari Kitab Arbain Nawawinya. Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairoh RA bahwa Nabi SAW bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْه

“Termasuk bukti bagusnya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak penting baginya.” (Hadits Hasan, HR Turmudzi).

Hadits ini merupakan bentuk Jawamiil Kalimdari Nabi SAW, kata-kata ringkas yang mengandung makna yang sangat luas. Ucapan penuh hikmah ini tidak pernah diucapkan oleh seorang pun sebelum Nabi SAW. Memang diriwayatkan dari Suhuf Nabi Syith AS dan Nabi Ibrahim AS:

“Siapa yang menganggap ucapannya adalah bagian dari amalnya (yang akan dihisab), maka akan sedikit ucapannya kecuali dalam apa yang penting baginya.”

Isi suhuf ini hanya mencakup ucapan saja, sedangkan hadits Nabi SAW di atas mencakup ucapan dan perbuatan yang tidak penting. Yang dimaksud tidak penting dalam hadits ini adalah hal yang tidak berhubungan dengan kebaikan dunia atau akhiratnya, seperti hal-hal mubah yang bukan merupakan dosa dan bukan pula suatu ibadah. Contohnya melamun, membaca buku yang tidak bermanfaat, menonton hal mubah yang tidak ada manfaatnya, gurauan yang merusak wibawa, mencari banyak harta halal yang tidak diperlukan, bercerita dengan cerita yang boleh yang tidak ada manfaat duniawi mau pun untuk akhiratnya dan banyak lainnya. Orang yang meninggalkan hal-hal ini adalah orang yang baik Islamnya.Imam Ghazali pernah menyebutkan mengenai batasan suatu hal yang dianggap tidak penting. Beliau berkata, “Batasan ucapan yang tidak penting adalah jika engkau mengatakan sesuatu yang apabila engkau tidak mengatakannya engkau tidak berdosa dan tidak pula mendapat bahaya saat itu atau di masa depan. Jika ini diucapkan, maka itu adalah bentuk menyia-nyiakan waktu“

Islam menuntut kita untuk melakukan kewajiban dan kesunahan dan meninggalkan hal yang haram dan makruh. Ada pun hal-hal mubah yang tidak menimbulkan dosa, boleh saja kita melakukannya. Sekalipun begitu, orang yang beragama dengan sempurna akan meninggalkan hal-hal mubah yang tidak penting itu, sebab itu adalah bentuk menyia-nyiakan waktu. Bukankah setiap detik dari waktu kita adalah permata yang tidak ternilai harganya?. Apabila hilang, ia tidak mungkin digantikan lagi.


Sumber : Santri Net

Selasa, 10 Desember 2019

Kisah Sufyan Ats Tsauri dan Burung Kesayangannya


Kisah ini diawali ketika Imam Sufyan ats Tsauri tinggal di rumah sahabatnya Abu Manshur. Di rumah ini pula beliau sakit dan wafat. Ketika tinggal di rumah sahabatnya itu, Sufyan mendapati seekor burung bul-bul yang ada dalam sangkar. Kemudian beliau berkata kepada Abu Manshur,” Wahai sahabatku burung ini terkurung, lebih baik kalau dikeluarkan dari sangkarnya.”

“Maaf burung bulbul ini bukan milikku sahabat. Tetapi burung itu milik anakku. Jika engkau ingin memilikinya maka akan kuberikan kepadamu,” jawab Abu Manshur.

Mendengar jawaban sahabatnya itu, Sufyan kemudian berkata,” Tidak, aku akan memilikinya kalau tidak membeli burungnya seharga 1 dinar.”

setelah berdialog akhirnya mereka berdua sepakat. Burung itu kemudian menjadi milik Sufyan Tsauri. Setelah mendapatkan burung tersebut, Sufyan kemudian melepaskannya dari sangkar.

Haripun  berganti. Burung yang dilepaskan itu ternyata tahu terima kasih. Hewan tersebut tidak ingin pergi jauh dari Sufyan Ats Tsauri. Setiap pagi burung bul-bul itu pergi mencari makan, namun sorenya pulang dan tinggal di sekitar rumah Abu Manshur. Sampai suatu saat Sufyan Tsauri meninggal dunia. Ternyata ketika diantar ke tempat pemakaman, burung bul bul itu ikut serta mengantarkan jenazah.

Setelah selesai prosesi pemakaman, burung itu tampak gelisah di atas makam Sufyan ats Tsauri. Sejak peristiwa itu burung bul bul yang pulang di rumah Abu Manshur menjadi tidak terlihat ada. Namun burung itu selalu terbang di makan Imam Sufyan ats Tsauri . Hingga akhirnya burung Bulbul ditemuklan mati dan tergelatak di atas makam imam besar itu.

Bernama lengkap Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri dikenal sebagai ulama besar.  Imam Yahya bin Ma’in mengatakan bahwa Sufyan ats-Tsauri dilahirkan pada tahun 97 H. Beliau mulai menimba ilmu sejak kecil. Banyak ulama memuji keilmuan Imam Sufyan at Tsauri ini, diantaranya Sufyan bin ‘Uyainah. Ia berkata tentang Sufyan ats-Tsauri, “Adalah Sufyan ats-Tsauri sosok ulama yang ilmu seolah-olah senantiasa terpampang di hadapannya, sehingga dia bisa mengambil apa pun yang dia kehendaki dan meninggalkan apa yang tidak dia kehendaki.”



Sumber : Ar-Rahmah Online

"Orang yang bahagia itu akan selalu menyediakan waktu untuk membaca karena membaca itu sumber hikmah; menyediakan waktu tertawa karena tertawa itu musiknya jiwa; menyediakan waktu untuk berpikir karena berpikir itu pokok kemajuan; menyediakan waktu untuk beramal karena beramal itu pangkal kejayaan; menyediakan waktu untuk bersenda-gurau karena bersenda itu akan membuat muda selalu; dan menyediakan waktu beribadah karena beribadah itu adalah ibu dari segala ketenangan jiwa."

(Kata Mutiara, Anonim)